Asosiasi Atsiri Sesalkan Pernyataan Anjloknya Harga Minyak Serai Wangi

Lahan serai wangi

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Asosiasi Atsiri Nusantara (AAN) dan para petani serai wangi memprotes adanya pemberitaan tentang anjloknya harga minyak serai wangi ekses belum dibukanya kran pembelian oleh pedagang dan penampung asal Medan.

Ketua AAN Tri Rahmat Ramadhan menduga, ada permainan di balik pernyataan anjloknya harga serai wangi di Gayo Lues. Tri juga menyesalkan efek dari pernyataan ini adalah ikut menurunnya harga penjualan serai wangi di Aceh yang mengakibatkan meruginya para petani.

“Terkait dengan harga serai wangi itu sebenarnya tidak begitu, berdasarkan hasil diskusi saya dengan agen pengumpul minyak serai wangi di Gayo Lues dan Takengon, mereka masih membeli minyak di harga Rp210.000-Rp220.000 per kilogram,” ujar Tri kepada aceHTrend melalui siaran pers yang diterima hari ini, Senin (4/2/2019).

Tri merasa sangat kecewa dengan adanya pernyataan bahwa minyak serai wangi tidak laku lagi, pemerintah juga sedang menyusun regulasi untuk mengarahkan para agen untuk membeli dengan harga Rp150.000 per kilogram menggunakan dana talangan.

Akibatnya kata Tri, pemberitaan tersebut sekarang dijadikan sebagai standar acuan harga oleh banyak agen dan eksportir baik itu di Sumatera Utara maupun di Jakarta.

“Sehingga yang menjadi korban adalah petani serai di seluruh Indonesia, terutama Aceh sebagai sentral serai wangi indonesia,” ujar Tri.

Lebih lanjut Tri menambahkan, mestinya pemerintah membela petani tetapi dengan pernyataan seperti itu dinilai membunuh petani  yang notabene adalah rakyat sendiri.

“Sebenarnya saat ini harga di luar masih stabil,  cuma karena para eskportir yang kebanyakan keturunan Tionghoa akan merayakan Imlek  jadinya permintaan sedikit menurun dari biasa. Hal seperti ini di manfaatkan oleh spekulan untuk kepentingan diri sendiri,” ujarnya.

Hal lain yang perlu jadi perhatian bersama kata Tria adalah menciptakan eksportir yang beralamat dan berkantor di Aceh. Ada tiga puluh ribu hektare lebih lahan serai wangi di Aceh. Jika ini mampu kelola dengan baik, maka akan menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) bagi Aceh.

“Kami sedang berusaha dan berikhtiar agar petani atsiri bisa bersatu untuk nantinya menjadi eksportir di masa yang akan datang. Jadi nantinya pembeli asing langsung membeli dari petani Aceh, tidak melalui banyak tangan lagi. Saat ini Kami juga sedang membangun kerja sama dengan Atsiri Research Centre (ARC) Unsyiah. Dalam rangka meningkatkan nilai tambah sehingga akhirnya akan mensejahterakan petani Aceh,” kata Tri.

Hal senada juga diungkapkan oleh Muntazar, salah satu petani serai wangi dari Aceh Besar. Ia mengaku terkejut ketika membaca berita anjloknya harga serai wangi karena dua hari sebelum berita tersebut terbit dia baru saja menjual minyak serai wangi di harga yang hampir menyentuh tiga ratus ribu.

“Terus terang saya merasa terkejut setelah membaca berita di koran bahwa minyak serai wangi tidak laku lagi, padahal saya baru saja menjual minyak serai wangi dua hari sebelum berita tersebut terbit dengan harga Rp295.000 per kilogram. Saya berharap pemerintah dan agen tidak mempermainkan para petani yang selama ini telah bersusah payah menanam serai wangi,” ujar muntazar.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK