Aceh Menonton, Penghubung Seni dengan Realita Sosial

Oleh Akbar Rafsanjani*

Kota Banda Aceh diguyur hujan pada Sabtu sore, 2 Februari 2019. Menunggu hujan reda, saya membuka Instagram dan mulai mengamati satu per satu postingan yang muncul di linimasa. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah postingan akun @acehmenonton.

Saya baru ingat kalau malamnya Aceh Menonton akan memutar dua film pendek karya sineas Aceh dengan judul Becoming dan Bertuhan Jaman Now. Setelah hujan reda, saya langsung menuju Ruang Putar di Gedung BPNB Aceh di Jalan TWK. Hasyim Banta Muda, Gampong Mulia Banda Aceh yang menjadi tempat screening.

Aceh Menonton adalah salah satu bioskop alternatif yang ada di Banda Aceh. Ia hadir menjawab sekelumit resah pembuat film di Aceh yang susah mendapatkan ruang eksibisi bagi film mereka. Selain itu, Aceh Menonton menjadi langkah cemerlang membangun ruang diskusi bagi isu-isu terkini melalui medium film.

Film-film yang diputar di Aceh Menonton melalui tahap kurasi oleh programmer, yang biasanya disesuaikan dengan apa yang menjadi suatu hal yang bisa didiskusikan lebih lanjut selesai pemutaran. Seperti yang ditulis oleh Gatot dalam bukunya “Film Pinggiran: Antologi Film Pendek, Film Eksperimental dan Film Dokumenter” (2008: hal 108), bahwa “Film memerlukan forum”.

Bioskop alternatif seperti Aceh Menonton menjadi salah satu ruang bertemunya penonton dan pembuat film, salah satu hal yang tidak bisa diberikan oleh platform penyedia film seperti Netflix dan bioskop komersil.

Aceh Menonton menawarkan film-film indie yang biasanya menampilkan tema out of the box, mulai dari masalah yang paling dekat dengan keseharian kita hingga pertanyaan “bagaimana menjadi manusia?” seperti yang ditawarkan oleh film Becoming malam itu. Ide ini digagas oleh Muhammad Hendri, seorang mahasiswa Aceh yang sekarang sedang menuntut ilmu di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Baginya, Aceh Menonton merupakan sebuah bioskop alternatif yang menyediakan ruang eksibisi bagi segala genre film dengan tujuan untuk memperkokoh ekosistem perfilman di Aceh. Selain membawa manfaat bagi pembuat film, Aceh Menonton juga menyediakan ruang untuk penonton mendiskusikan segala sesuatu yang hadir dari apa yang mereka tonton dalam film.

Aceh Menonton telah berjasa membangun sebuah relasi antara seni dan realita sosial. Menggunakan medium film sebagai stimulus berpikir bagi terciptanya sebuah tradisi ilmu pengetahuan melalui diskusi-diskusi yang kritis terhadap kehidupan. Film mempunyai daya potensial untuk menciptakan kekayaan sudut pandang. Bila ingin dipahami lebih luas, Aceh Menonton tidak hanya hadir sebagai hiburan malam Minggu atau menjawab perihal tidak adanya bioskop komersil di Aceh. Lebih dari itu, Aceh Menonton merupakan sebuah gerakan ilmu pengetahuan yang menghubungkan seni dengan kehidupan.

Aceh Menonton menganut tiga karakteristik “gerakan sosial”, yaitu; memerlukan sebuah pertisipasi komunal atau kolaboratif, strategi pemutaran film diambil dari luar sistem mainstream, dan gerakannya dipandu oleh berbagai nilai yang berbeda. Bagi Hendri, siapa saja bisa menciptakan program di Aceh Menonton. Ia memberi ruang bagi siapa saja untuk mengkurasi film yang akan diputar untuk kemudian dibicarakan lebih luas.

Program ini secara tidak langsung telah memberi edukasi tentang sebuah pemahaman publik bahwa produk seni seperti film hanya untuk dinikmati sebagai hiburan. Akhir tahun 1990, pemutaran film pada bioskop alternatif juga terjadi di Tiongkok. Setelah sebelumnya cara ini tidak mendapat tempat untuk menjadi tontonan dan diskusi publik secara bebas.

Setelah mengalami masa-masa sulit selama puluhan tahun, akhirnya screening film indie mulai merambah bar, universitas, toko buku, perpustakaan, art space, dan venue lainnya. Pemutaran film dengan cara ini dilakukan di berbagai kota, antara lain; Kota Beijing, Kunming, Nanjing, Chongqing, dan lainnya. Screening independen dilakukan oleh grup penggemar film, organisasi unversitas, dan kelompok seni (Does An Art Movement Exist? 2012 : Introduction).

Jadi, Aceh Menonton tidak boleh dianggap sebagai anak bawang oleh pelaku seni secara kolektif. Di samping itu, ia juga harus menjadi tanggung jawab semua kalangan termasuk yang berada dalam lingkar ilmu pengetahuan seperti akademisi dan mahasiswa.

Jam menunjukkan pukul sepuluh. Saya dan tiga penonton yang hadir pada Aceh Menonton saat itu sepakat untuk menikmati kopi di salah satu warung kopi dekat bundaran simpang lima, Banda Aceh. Kami melanjutkan diskusiĀ  tadi tentangĀ  “menjadi manusia” yang ditawarkan oleh film Becoming. Empat gelas sanger espresso menemani diskusi serius tapi santai kami hingga pemilik warung kopi memberi informasi bahwa mereka akan tutup.

Dalam perjalanan pulang, saya membayangkan bagaimana pengaruh Aceh Menonton untuk stimulus ilmu pengetahuan di Aceh. Kamu bisa mengetahui jadwal fpemutaran film dengan mengikuti akun @acehmenonton di Instagram.[]

Akbar Rafsanjani, Kritikus Film bergiat di Aceh Film Festival

KOMENTAR FACEBOOK