Hubungan Arab-Islam dan Tiongkok

Masjid Niujie yang berada di jantung kota Beijing. (Ist)

Oleh Kholili Kholil*)

Selain “tuntulah ilmu sampai ke Tiongkok”, ada satu lagi pepatah Arab tentang negeri Tiongkok yang saya ingat, yakni: “Bibirnya seperti sutra Tiongkok” yang mana pepatah ini diucapkan untuk memuji wanita cantik. Tradisi oral ini memberi sedikit gambaran tentang eratnya budaya Arab-Islam dengan Tiongkok. 

Hubungan antara Arab dan Tiongkok memang hubungan yang sudah berlangsung sejak lama sekali. Sejak sebelum Islam datang, antara Tiongkok dan Arab memang sudah berkongsi dagang dalam skala besar. Guci, kain, dan komoditas lain secara rutin menjadi produk bangsa Tiongkok yang diterima oleh bangsa Arab dan Persia.

Saking eratnya hubungan dagang keduanya, an-Nawiri dalam Nihayatul Arab mencatat bahwa orang Arab sampai-sampai menyebut segala sesuatu yang berukiran indah dengan kata “Shiniyyah” yang berarti “(sesuatu) yang bersifat Tiongkok”.

Sementara al-Mas’udi dalam kitab Murujudz Dzahab bahkan secara hiperbolik menyebut orang Tiongkok sebagai “makhluk Allah yang paling ahli mengukir” dan “bangsa yang jika datang ke sebuah negara maka seluruh negara itu akan takjub dengan karyanya”.

Saya langsung teringat keterangan dalam Husnul Muhadlarah bahwa as-Suyuthi (ulama Mesir) mengatakan salah satu nama marganya adalah al-Khudlayri.”Barangkali alasannya adalah,” tulis as-Suyuthi, “karena salah satu kakekku berasal dari Khudlayr Bagdad.” Saya sendiri tidak menemukan daerah bernama Khudlayr di Bagdad selain pasar barang Tiongkok yang diterangkan oleh Al-Ya’qubi.

T. W. Arnold mencatat banyak sekali kisah tentang awal mula masuknya Islam ke Tiongkok. Beberapa di antaranya bahkan terjadi di zaman Nabi saw dan khalifah. Namun, ujar Arnold, semua kisah itu sulit dipastikan kebenarannya karena kurang bukti. Di antara cerita itu adalah makam ‘paman Nabi’ yang ada di Bukit Guihua, Guangzhou.

Dari catatan yang berjudul “Tian Fang Zheng Xue” disebutkan bahwa makam itu adalah makam Abi Waqqash, yakni paman dari pihak ibu (khal) Nabi saw. Catatan itu menyebutkan bahwa Abu Waqqash datang pada sekitaran abad ketujuh Masehi di kota Chang’an dan ditugaskan untuk mengantarkan Alquran. Dia disebut sebagai orang yang sangat lihai berorasi dan pandai. Akhirnya Raja Taizhong memerintahkannya agar tinggal di situ dan membangun masjid. Namun demikian, Arnold menganggap kisah ini adalah upaya mengaitkan keislaman orang Tiongkok dengan sumber-sumber sakral.

Kala itu Jenderal Muslim mengirim utusan yang bernama Habirah kepada Kekaisaran Tiongkok agar mau tunduk. Si Raja menolak dan mengancam akan mengerahkan seluruh rakyatnya untuk berperang. Habirah balas mengancam dengan berkata bahwa kematian adalah hal yang paling ditunggu oleh tentaranya

Si Raja gentar dengan perkataan Habirah dan bertanya apa yang dia inginkan. “Tidak ada yang kami inginkan kecuali memasuki wilayahmu,” ujar Habirah. “Karena Jenderal kami (Muslim bin Qutaybah) telah bersumpah tidak pulang sebelum menginjak tanah di kerajaan ini, mengecap rajanya dengan stempel, dan menyuruh tunduk atau membayar jizyah (pajak).”

Akhirnya, tulis ath-Thabari, raja itu menyerah. Ia mengirimkan tanah dalam sebuah wadah agar diinjak oleh Jenderal Muslim, mengirim anak-anaknya agar dicap, dan membayar upeti yang cukup banyak. Penawaran ini pun pada akhirnya diterima oleh Muslim bin Qutaybah dan ia tidak jadi menginvasi Tiongkok.

Entah benar atau tidak detail kisah itu, namun yang jelas peristiwa ini menjadi hubungan diplomasi awal antara Arab-Islam dengan Tiongkok.

Periode minimnya catatan antara hubungan awal Arab dan Tiongkok ini berakhir saat penaklukan Mongol. Merebaknya dunia tulis-menulis saat itu dan banyaknya naskah yang bertahan menjadi dua sebab primer banyaknya informasi tentang Tiongkok dan Islam.

Demikian sejarah singkat antara relasi awal Arab-Islam dan Tiongkok.

*)Penulis adalah Alumni Pesantren Lirboyo-Kediri. Saat ini mengajar di Pesantren Cangaan Pasuruan, Jawa Timur. Tulisan ini sudah tayang di Alif.Id


KOMENTAR FACEBOOK