Terima Hibah 54 Juta USD, Unimal Bangun Zona Bebas Korupsi

Rektor Unimal Herman Fithra @aceHTrend/Bustami

ACEHTREND.COM, Lhokseumawe – Universitas Malikussaleh menjadi salah satu dari lima perguruan tinggi yang memenangkan dana hibah sebsar 54 juta dolar AS dari Bank Pembangunan Asia (ADB). Dana tersebut akan digunakan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia agar bisa masuk 100 besar perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia.

Hal itu disampaikan Rektor Unimal, Dr. Herman Fithra dalam pertemuan dengan sejumlah jurnalis di Aula Meurah Silu Unimal, Lhokseumawe, Rabu (6/2/2019).

Menurut Herman Fithra, dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan gedung fakultas dan sarana pendukung lainnya.

“Paling banyak digunakan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, seperti biaya pendidikan dosen di dalam dan luar negeri,” ungkap Herman.

Herman mengatakan, dana tersebut bisa menjadi anugerah sekaligus bala bila tidak dikelola dengan baik. Untuk itu, ia bertekad membangun Unimal menjadi kampus zona integritas bebas korupsi.

“Dukungan kawan-kawan wartawan sangat penting untuk memperkuat integritas Unimal,” tambah Herman yang baru menjabat sebagai Rektor Unimal sejak Desember 2018.

Tanpa dukungan jurnalis dan pihak lain, menurut Herman, tidak mungkin mewujudkan Unimal menjadi zona integritas bebas korupsi. “Kalau gagal, akan terjadi kemunduran luar biasa bagi Unimal.”

Unimal berada di peringkat 79 dari 500-an yang diriset sebuah lembaga pemeringkat kampus. Namun, versi Kemenristek Dikti, peringkat Unimal turun sangat jauh, salah satu penyebabnya karena banyak program studi belum terakreditasi. Namun, kalau melihat kemajuan dalam sepuluh tahun terakhir, Unimal sudah jauh lebih baik.

“Target saya, tahun depan paling tidak masuk 100 besar perguruan tinggi negeri di Indonesia,” kata Herman.

Ia menyebutkan Unimal bisa jadi tempat kuliahnya orang-orang miskin dengan biaya murah. Untuk itu, Unimal terus berjuang agar tetap berada di tiga besar penerima beasiswa Bidikmisi. Meski universitas lain banyak menolak Bidikmisi karena tidak menguntungkan dari aspek ekonomis.

“Bukan berarti pendidikan murahan, tetapi fokus pada peningkatan kualitas pendidikan yang terjangkau semua kalangan kurang mampu,” ujarnya.

Karena itu, Herman mengharapkan Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) juga bisa digunakan untuk beasiswa bagi anak-anak tak mampu di pedalaman Aceh, sehingga memberi kesempatan bagi anak-anak tak mampu untuk mengakses pendidikan tinggi.

Namun, ke depan Unimal harus menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Target itu diakui sangat berat karena salah satu syarat sumber dari biaya pendidikan yang tinggi. Sekarang pendapatan Unimal dari SPP menurutnya masih sangat rendah karena biaya kuliah di Unimal sangat murah.

Unimal juga memberikan perhatian serius kepada calon mahasiswa yang hafidz Alquran dan atlet berprestasi.

Pada bagian lain, Rektor Unimal mengingatkan bahwa kampus tersebut berada di depan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lhokseumawe. Ia mengharapkan keberadaan KEK Arun memberikan manfaat bagi Unimal. “Tidak fair kalau orang di luar yang justru menikmati manfaat KEK Arun,” katanya.

Menjawab pertanyaan wartawan mengenai beberapa prodi yang belum terakreditasi, Herman menyebutkan ada beberapa prodi yang akreditasinya sudah kedaluwarsa. Ia mengharapkan dalam beberapa pekan ke depan sudah selesai. Demikian juga dengan berkas Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang harus selesai pada 31 Maret 2019.

Menanggapi keluhan wartawan yang juga alumni Unimal mengenai susahnya pengurusan ijazah, Herman Fithra mengatakan ke depan polanya akan diubah. “Ijazah bisa langsung diambil ketika mahasiswa wisuda,” katanya.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK