Ajakan Nova Ditengah Aroma Kopi Arabika

Bertempat di Rumoh Aceh, di tengah aroma kopi arabika yang dihidangkan, ajakan bergandeng tangan disampaikan, dalam aura perbincangan ringan usaha Aceh menjemput masa hadapan.

“Saya mengajak kalangan dunia usaha untuk juga ikut menjadi agen penekan angka kemiskinan Aceh, target kita 1 persen pertahun,” kata Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah dalam pertemuan usai meresmikan gedung Poltekes, gedung BPR Mustsqim Suka Makmur dan jembatan Lamreung – Limpok, Selasa (5/2).

Aroma kopi arabika yang bercampur dengan harum kentang goreng membuat ajakan yang disampaikan dalam suasana bincang santai menjadi bernuansa serius.

Publik, sejak lama selalu disuguhi kabar masih tingginya angka kemiskinan Aceh dibanding provinsi lain di Sumatera. Ada perasaan di publik, betapa APBA yang saban waktu, sejak 2007, menjadi tiada berdaya menyelip provinsi lain.

Rasa tak sabar memuncak, bak pengaruh tegukan kopi nan pahit dilidah mereka yang tak pernah menemukan rasa nikmat dibalik pahitnya kopi.

Padahal, jika dicermati lebih dalam, trend penurunan angka kemiskinan yang sempat stagnan mulai kembali menurun. Hanya saja, karena provinsi lain juga turun maka penurunan angka kemiskinan Aceh jadi belum bermakna, tidak nendang sebagaimana nendangnya rasa tegukan kopi pertama.

Harus diakui, trend penurunan angka kemiskinan Aceh masih lebih rendah dibanding target. Dulu, pernah dicoba dengan target 2 persen, dan tak berdaya. Lalu, dicoba pada titik netral, cukup 1 persen pertahun, dan ini juga masih terasa berat. Bagai kopi, ada proses yang belum dilakukan, yaitu skema kolaborasi.

Sadar keadaan ini, Nova Iriansyah, sejak masih sebagai Wakil Gubernur Aceh telah mengajak pihak swasta untuk bergandeng tangan. Pada 4 April 2018, Nova pernah menegaskan bahwa Pemerintah Aceh menilai begitu penting peran di sektor swasta dalam mendukung proses pembangunan di provinsi berjuluk Bumi Serambi Mekah ini.

Bahkan dia mengakui bahwa peran sektor swasta di Aceh masih belum optimal sehingga hal ini dianggap tidak sehat bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

“Untuk mengatasinya, langkah terbaik adalah mendorong dan memberi ruang sebesar-besarnya kepada sektor swasta untuk berkembang,” ujar Nova.

Dia mengatakan, Pemerintah Aceh akan terus memberikan berbagai kemudahan untuk mendukung dan meningkatkan investasi sektor swasta di Aceh.

Kini, panggilan itu kembali disampaikan, seraya mengabarkan bahwa pintu-pintu investasi telah terbuka dan dirinya mengajak semua untuk memanfaatkannya dengan rasa optimis. KIA Ladong, KEK Arun Lhokseumawe, dan BPKS bagai kopi panas yang menunggu segera dinikmati agar ekonomi Aceh menemukan gairahnya, yaitu Aceh Hebat.

Pertemuan di Rumoh Aceh tentu sebuah saluran informasi sekaligus komunikasi yang menggepulkan “asap” komitmen untuk terus dan selalu terbuka bagi pelaku usaha dan juga tanggap dalam menyikapi kebutuhan pelaku usaha dalam bentuk penyederhanaan izin, peraturan, dll.

KOMENTAR FACEBOOK