Motivasi Milenial Menikah di Masjid, Mulai dari Kaul Orang Tua hingga ‘Usaha Lebih’ untuk Menikah

Pernikahan pasangan Rahmat Afriadi dengan Fitria Nida di Masjid At-Taqwa Air Sialang, Samadua, Aceh Selatan, pada 15 Januari 2019. @aceHTrend/Yelli Sustarina

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Selain sebagai tempat ibadah, masjid juga kerap difungsikan sebagai tempat kegiatan sosial masyarakat, salah satunya acara pernikahan. Setiap orang memiliki motivasi tersendiri saat memutuskan menikah di masjid.

Beberapa masjid di Aceh, khususnya di Kota Banda Aceh menjadi incaran bagi pasangan yang ingin menikah. Sebut saja Masjid Raya Baiturrahman dan Masjid Agung Al Makmur. Hampir setiap hari ada saja pasangan yang melangsungkan pernikahan di masjid tersebut.

Bila menikah di masjid menjadi tren di kalangan masyarakat, khususnya generasi milenial. Kira-kira apa sih yang menjadi motivasi mereka?

Ternyata ada beberapa alasan kenapa para milenial ini lebih memilih masjid sebagai tempat untuk melangsungkan momen sakralnya, dibandingkan di Kantor Urusan Agama (KUA).

Padahal, dari segi biaya, pernikahan di masjid lebih banyak mengeluarkan biaya dibandingkan nikah di KUA. Bagi mereka, merogoh sedikit lebih dalam isi kantung celana tidak masalah. Di luar itu, ternyata juga ada pertimbangan-pertimbangan lainnya, seperti yang diakui oleh vokalis ban Apache 13, Nazar Shah Alam, yang menikah di Masjid Raya Baiturrahman pada 15 Agustus 2018.

“Kami memilih di Masjid Raya Baiturrahman karena beberapa pertimbangan. Pertama karena ada kaul Umi saya, kedua biar lebih khusyuk dan sakral dari permulaan hingga selesai akad, terus karena pertimbangan ruang, adat, dan pergaulan saya. Saya anak pertama di keluarga kami dan sesuai adat walimatul ursy akan dilaksanakan di kampung asal (Abdya) dalam lingkungan keluarga, sementara pergaulan saya sepuluh tahun terakhir ada di Banda Aceh. Umi saya mempertimbangkan jarak yang harus ditempuh oleh teman sepergaulan dan sepekerjaan saya di Banda jika harus ke Abdya. Makanya agar teman-teman bisa ikut berbahagia saya menikah di Banda Aceh, walimah di Abdya. Biar adil,” ujar Nazar yang kini menjadi suami dari Rafiqah Annisa kepada aceHTrend, Jumat (8/2/2019)

Sementara bila menikah di KUA, menurut Nazar ruangan yang tersedia tidak memungkinkan menampung tamu undangan yang hadir.

Namun, ada juga yang memilih Masjid Raya karena alasan yang agak menggelitik.

“Alasannya karena masjid di kampung terlalu dekat dan posisinya berada di samping rumah. Kayaknya tidak ada usaha gitu, jadinya kami memilih Masjid Raya Baiturrahman untuk melaksanakan akad nikah,” ujar Wildan Sirna yang menikah dengan Harry Muntadhir pada 14 Mei 2017 di Masjid Raya Baiturrahman.  

Ternyata tren nikah di masjid tidak saja disukai milenial yang ada di kota, di daerah pun juga demikian. Seperti halnya pasangan Fitria Nida dan Rahmat Afriadi yang menikah pada 15 Januari 2019 di Masjid At-Taqwa Air Sialang, Samadua, Aceh Selatan.

“Kalau di masjid rasanya lebih afdal. Suasananya pun nyaman, semua keluarga, teman-teman, dan sanak saudara bisa datang menyaksikan pernikahan kita. Acara pernikahannya juga terlihat jelas karena tidak berdesakan-desakan. Kalau di KUA bukannya tidak mau, tapi karena tempatnya kecil sehingga tidak muat menampung undangan yang ada. Teman-teman pun tidak tahu duduk di mana, agak gerah karena kepanasan yang membuat para undangan tidak nyaman. Jadinya, banyak yang pulang sehingga tidak bisa melangsungkan pernikahan kita sampai selesai. Bahkan untuk acara foto-foto pun tidak dapat karena sudah gerah kepanasan,” ujar Fitria Nida kepada Aceh Trend, Kamis (7/2/2019).

Menyikapi tren nikah di masjid, Penyuluh Agama Islam di salah satu KUA di Aceh Besar, Amiruddin, mengatakan pelaksanaan akad nikah di Aceh bertumpu pada dua model.

Pertama, pelaksanaan akad nikah yang berlangsung tanpa dihadiri oleh calon mempelai perempuan. Kedua, dihadiri oleh kedua mempelai yaitu laki-laki dan perempuan.

“Untuk tempat pelaksanaan akad nikah model kedua yang pelaksanaan nikahnya di masjid sepertinya agak sedikit kurang indah dibanding model pertama. Sebab fitnah-fitnah terselubung akan muncul. Misalnya, ada pria muda yang mencuri kesempatan melihat gadis yang berada dalam rombongan wanita atau sebaliknya. Hal seperti ini kerap terjadi dan bukan perkara mustahil,” ujar Amiruddin.

Namun, dari pihak KUA lebih senang menikahkan pasangan di luar KUA. “Kalau disuruh pilih, lebih mudah menikahkan mempelai di luar KUA karena KUA tinggal datang lalu menikahkan. Sedangkan persiapan sudah diurus pengantin, plus dapat tambahan honor bila menikahkan di luar KUA, tapi jika di KUA nikahnya gratis,” ujarnya kepada AceHTrend (8/2/2019). 

Nah, bagaimana dengan Anda? Apakah ingin melangsungkan pernikahan di masjid, rumah, atau di KUA? Di mana pun dilakukan akadnya, yang penting semua itu sudah dimusyawarahkan dengan calon pasangan dan masing-masing keluarga. Sehingga, niat menikah untuk menggenapkan separuh agama bukan malah menjadi beban karena mengikuti tren.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK