Sikundo, Kisah Jembatan Ayoen dan Komitmen Pemerintah

Plt Gubernur Aceh menegaskan Aceh Bebas Jembatan Gantung 2020. Itu artinya, jembatan tali (ayoen) yang masih ada di Aceh, termasuk di Gampong Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat bisa jadi akan hilang juga seiring waktu, bersama hilangnya jembatan gantung, atau karena mengeringnya air sungai.

Jika hilang, maka warga sudah terbebas dari jembatan yang menantang maut. Dan, kisah prajurit yang pernah jatuh, mati di jembatan tali kala konflik, sepenuhnya menjadi kenangan abadi, milik masa silam.

Lebih dari itu, kenangan survival warga yang lincah melintas di atas tali baja, terkadang sambil bercanda, juga akan hilang dari keseharian, seiring perkembangan. Tidak akan ada lagi video yang memvisualkan keberanian warga, yang terlatih oleh guru waktu.

Orang-orang kota yang melihat video jembatan tali dengan narasi ketakutan akan segera menjadi kisah yang hanya bisa ditonton di “museum” digital, Youtube.

Barangkali, narasi ke depan bukan lagi soal warga yang bertaruh nyawa, melainkan tentang hebatnya daya survival warga dalam bertahan hidup di surga Sikundo yang ada di hutan belantara, bagian dari kawasan ekosistem Ulu Masen.

Di masa depan, bisa jadi akibat intervensi pembangunan oleh pemerintah atau oleh pihak swasta sangat mungkin terbangun narasi baru. Misalnya: “Sikundo, Surga yang Tercabik oleh Pembangunan”.

Tak ada lagi wangi rotan, kayu gaharu, damar, manisnya madu, juga akan hilang ikan-ikan yang menghuni Krueng Meureubo. Kicau burung dari pucuk pohon, barangkali akan berganti dengan kicau burung yang sudah terkurung dalam sangkar.

Orang-orang kota yang karena ketersedian jembatan beton, akan menjadi pihak yang berpotensi menyingkirkan penduduk setempat, yang berlindung dari kasih sayang hutan sebagai nikmat Allah Swt, dan ini karena alasan investasi sumber daya alam dan lainnya. Komitmen warga untuk tidak memberi akses bagi orang luar merusak alamnya hanya tinggal catatan lama.

Kehadiran pemerintah yang awalnya dipuji karena terus berbenah dan cepat tanggap berkat warta media, sangat mungkin akan diposisikan ulang, sesuai masalah di waktunya.

Mungkin, Gubernur Aceh nantinya, entah di tahun berapa, melalui akun media sosialnya akan dikecam karena praktik pariwisata yang diklaim dekat dengan dosa, atau karena praktik pertambangan atau perkebunan, yang mengacaukan atau mengeringkan air sungai Krueng Meureubo.

Saat itu, sangat mungkin ada seseorang yang dalam demo berpidato lantang, memanggil arwah Cut Nyak Dien, yang dulu pernah bermukim di Sikundo, yang bersama pasukannya menggarap sawah sebagai penyedia pangan para gerilyawan, tapi kini telah menjadi lahan tempat tinggal orang-orang yang datang dengan logika pembangunan ekonomi modern.

Sebelum semunya terjadi, selagi masih bisa dilihat secara kasat mata jembatan gantung yang masih berdampingan dengan jembatan tali (sebelum dibongkar), mari kita hormati daya survival rakyat yang sudah hidup akrab dengan alam, minimal sejak jembatan tali ada, yaitu 1979.

Pada saat yang sama, kehadiran jembatan gantung yang sudah ada dan sudah bisa dilewati warga, kita apresiasi sebagai wujud kehadiran pemerintah yang menaruh peduli pada warganya agar tidak lagi yang bertaruh nyawa karena harus melewati jembatan tali, sekalipun bagi warga melintasinya bagai gerak.

Kita dorong terus Pemerintah Aceh untuk mewujudkan Aceh Bebas Jembatan Tali 2020, seraya menaruh perhatian kepada pembangunan lainnya, khususnya di daerah-daerah terjauh.

Untuk itu, Dana Desa yang ada perlu pula kita kawal agar benar-benar bermanfaat bagi desa mereka, bila perlu yang bernilai investasi, seperti menghadirkan wisata tantangan, salah satunya arung jeram yang kini semakin digemari oleh orang kota.

Mereka, karena stimulan video dan film terkait survival, apalagi yang di create sudut pandangnya sedemikian rupa, plus narasi yang mengguncang hati banyak viewer, diberi pula sentuhan kisah sejarah manusia, maka efeknya terbangun pula keinginan merasakan bagaimana bertahan hidup ala zaman nan jauh.

Dengan begitu, narasi bertaruh nyawa, yang merebut pengunjung, dan sangat mungkin memenangkan kompetisi, jika diubah sudut pandangnya, barangkali akan bisa menjadi peluang bagi warga yang memiliki alam yang menantang tapi masih asri, sebagai sumber pemasukan dari gaya hidup orang kota yang membutuhkan hiburan penuh tantangan.

Jika di kota-kota besar, lahan kawasan kota diubah untuk menghadirkan spot wisata tantangan, bersebab bantuan sentuhan arsitektur dunia, di desa-desa di Aceh yang dianugerahi alam yang indah, asri, menantang, anugerah arsitektur Ilahi, justru makin menarik minat pelancong dunia.

Memang, banyak orang ingin mengubah dunia, tapi sedikit sekali yang mampu mengubah dengan perbaikan sudut pandang dan narasi yang membuka imajinasi ekonomi kelas dunia. Barangkali, kita bisa memulainya, sebab pada ghalibnya, Aceh itu orang dengan kelas berpikir mendonya. Semoga.[]

KOMENTAR FACEBOOK