Idang Molod, Kita Memang Beda

Peringatan maulid Nabi Besar Muhammad SAW setiap 12 Rabi’ul ‘Awal, diperingati di Aceh dalam durasi tiga bulan lamanya. Setiap hari, di tiap gampong yang berbeda, dilakukan perayaan maulid. Di level kecamatan, kabupaten hingga propinsi pun melakukannya. Sekalipun pemimpin daerahnya terkadang dari kelompok yang membid’ahkan perayaan maulid, tapi mereka tak kuasa menolak perayaan itu.

Bulan maulid yang mencapai tiga bulan lamanya di Aceh, pun menjadi lahan ekonomi bagi para mubaligh. Sepanjang tiga bulan para penceramah kondang akan sangat sibuk. Bahkan nyaris tak sempat pulang ke rumah karena mobilitas mereka yang sangat padat. Bagi yang kurang kondang, mereka pun sangat sibuk. Karena tak ada kampung yang tak menggelar maulid yang biasanya juga turut menggelar dakwah di malam harinya.

Tulisan ini tidak hendak mengupas lebih lanjut tentang para mubaligh dakwah. Juga tidak mengupas tentang sejarah maulid dan keutamaannya dalam masyarakat Islam di Aceh yang mayoritas bermazhab Syafii.

Muhajir Juli

Catatan ini hanya tentang kuliner khas kala maulid. Itupun di empat daerah yaitu Bireuen, Pidie Raya (Pijay dan Pidie) serta Aceh Besar.

Tiap maulid, warga Bireuen pasti punya kuliner khas yaitu bu minyeuk dan si iteik masak mirah. Kuah karinya yang lumayan pedas membuat daging bebek ini selalu dinanti oleh siapa saja.

Si iteik alias daging bebek masak mirah adalah khasnya Bireuen, khususnya kawasan eks Nanggroe Peusangan. Ini kemudian yang menjadikan ciri khas kuliner Bireuen yaitu bu si iteik. Walau kini terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara si iteik rumahan dengan yang di jual di pinggir jalan.

Pidie Raya memiliki kuliner andalan yaitu si iteik masak puteh. Si iteik ini tidak pedas, juga tidak berkuah. Sajiannya kering dengan bumbu yang berminyak. Rasanya lumayan manis.

Lalu, Aceh Besar dengan kuliner khasnya yaitu kuah beulangong, yaitu daging lembu, kambing atau ayam kampung yang dimasak dalam campuran nangka, atau campuran lainnya. Kuah beulangong tidak menggunakan santan, tapi menggunakan kelapa gongseng yang digiling tidak begitu halus.

Melihat ragamnya kuliner andalan, walaupun dalam satu Aceh, menandakan pilar budaya kita yang memiliki perbedaan dalam persamaan. Ikatan kita adalah Islam, Islam yang menghargai kebudayaan lokal tanpa mencoba menghilangkan kekhasan daerah yang tidak bertentangan dengan tauhid.

Muhajir Juli

Walikota Banda Aceh Aminullah Usman, beberapa hari lalu menggelar maulid raya dengan 1000 hidangan besar. Maulid dalam minda Aminullah harus menjadi pagelaran budaya, yang selain sebagai bentuk peringatan kelahiran Baginda Rasul, juga sebagai agenda wisata yang layak dikunjungi oleh orang luar Aceh. Dia berharap peringatan maulid bisa menjadi “ladang” baru yaitu wisata religi.

Cita-cita Aminullah Usman haruslah didukung. Bila perlu antar pemerintah daerah membuat kalender khusus wisata religi yang saling terpaut. Sehingga event budaya tersebut yang digelar selama tiga bulan itu menjadikan Aceh sebagai daerah tujuan wisata islami di Indonesia.

Maulid yang dirancang oleh indatu kita di masa lampau, telah memberikan kita satu pelajaran, bahwa kita sesungguhnya dalam ragam perbedaan, kita sejatinya masih satu, yaitu Islam. Kita bisa saja membelah diri menjadi Pasee, Peusangan, Samalanga, Pidie, Aceh Rayeuk, Singkil, Simeulue, Gayo, Alas, Melayu, dll, tapi kita adalah satu. Islam.

Sebagai Islam, kita tentu memiliki satu rule yang tidak berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, yaitu kala menjadi Islam maka kita harus menjadi baik, jujur, hati-hati, tabayyun, saling berbagi, saling melindungi, saling menjaga lisan serta saling berkasih sayang.

Sekat Pidie, Bireuen, Pasee, Aceh Rayeuk, adalah batas yang seharusnya menjadi nir, kala kita berada di bawah payung Aceh, di bawah payung Islam.

Menjadi Aceh mensyaratkan kita harus menjadi Islam. Tanpa menjadi Islam kita tidak bisa menjadi Aceh. Inilah identitas Aceh. Tak bisa digugat.

Bila sudah demikian, ceramah maulid haruslah dikembalikan ke semangat awal yaitu mengajak manusia meneladani Baginda Rasul, mengajak manusia menjadi muslim.

Jangan jadikan ceramah maulid sebagai ajang untuk menebar fitnah saudara seagama, memfitnah orang lain, apalagi sampai melakukan namimah.

Politik yang telah membelah kita pada perbedaan pilihan, perbedaan cara pandang, tidak semestinya menjadi ruang bagi klaim pilih P masuk surga, pilih J masuk neraka.

Mari menjaga lisan, karena agamawan sekalipun akan diminta pertanggjangjawaban di yaumil hisab. Tak ada ayat Quran dan hadist yang menjamin orang alim masuk surga tanpa melewati sirath di akhirat.

KOMENTAR FACEBOOK