Bertemu di Pengajian, Pasangan Asal Plimbang Menikah Tanpa Pacaran

ACEHTREND.COM, Bireuen- Menikah tanpa pacaran, whats? Emang masih ada di dunia ini? Bagaimana mungkin? Pasangan lintobaro dan darabaro asal Plimbang, Bireuen telah membuktikannya. Mereka menikah hanya setelah sebulan lalu berpapasan mata di pengajian Islam rutin mingguan. So sweet! Lage lam film.

Demikianlah kisah cinta Fazli bin M Daud, perjaka kelahiran Seuneubok Aceh pada 9 Oktober 1984, yang juga pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknik Arsitektur, Universitas Almuslim, Bireuen.

Fazli, yang sempat merantau ke Negeri Jiran Malaysia setelah lulus kuliah, bertemu dengam “tulang rusuknya” kala menghadiri pengajian rutin mingguan yang diasuh oleh Teungku Bukhari, santri senior Dayah Babussalam Al Aziziyah, Jeunib, yang dipimpin oleh Teungku H. Yusuf A. Wahab alias Ayah Sop.

Kepada saya, Senin (11/2/2019) Fazli mengisahkan, ia telah lama mendamba kekasih hati untuk mengisi kekosongan relung jiwanya. Sebagai lajang yang telah mapan secara ekonomi dan pengetahuan agama serta telah pula lulus perguruan tinggi, ia merindui belaian dan tempat berkasih sayang.

Namun segala ikhtiarnya tidaklah membuahkan hasil. Dari semua usahanya mendapatkan pendamping hidup, tak sekalipun dalam bentuk pacaran. Sekretaris Tuha Peut Mukim Plimbang itu istiqamah dalam bentuk ta’aruf saja.

Tetapi, sepertinya ujian harus lebih lama ia hadapi. Uang ada, pengetahuan oke, keluarga mendukung, teman-teman sudah pun mulai menanyakan kapan kawin. Tapi Fazli tak kunjung menemukan gadis yang ia dambakan.

Hingga pada 11 Januari 2019, ia tanpa sengaja berpapasan mata dengam dara asal Padang Kasab, masih dalam kecamatan yang sama. Ia “menemukan” sang dara kala menghadiri pengajian di Seuneubok Aceh.

Kala melihat wajah nan ayu Nurul Asma, dara kelahiran 26 September 1998, darah Fazli berdesir. “Adakah itu jodohku? Adakah itu gadis yang selalu hadir dalam tiap mimpiku? Apakah ia yang namanya telah tercatat di lauhul mahfuz, sebagai jodohku? Hati Fazli berkecamuk tanya. Debar jantungnya sangat terasa. Tanpa ia sadari, bunga-bunga cinta pun bermekaran.

Lalu Fazli pun dibuat penasaran. Siapakah gadis itu? Keesokan harinya, 12 Januari, ia kembali melihat sang dara di pematang tambak. Rupanya dara itu adalah santriwati Dayah Darul Aminin, Padang Kasab. Fazli pun semakin penasaran.

Lagu Band Jamrud pun berdentang di alam imajinasinya. “Tigapuluh menit, kita di sini, tanpa suara…. dan aku resah harus menunggu lama… kata darimu. “

Fazli tentu tak mau dibekap duga yang tiada ujung. Ia pun mencoba mengajukan rasa kepada putri Amiruddin dan Nurhayati itu. Ia memberanikan diri meminta nomor telepon genggam. Via telepon kemudian dia membangun komunikasi. Kala ia mendapatkan sambutan, Fazli langsung mengajukan lamaran.

“Bersedialah Dinda menikah denganku, dengan segenap kekuranganku, walau usia kita terpaut lumayan jauh?”

Gayung bersambut. Nurul Asma mengangguk. Fazli pun bersiap. Kali ini detak jantungnya kian kencang. Ia pun mempersiapkan panitia kecil untuk lamaran. Seulangke pun dipasang untuk menyampaikan maksud dan tujuan yang ingin dicapai di hadapan bakal calon mertua Fazli.

Dua orang senior di kampung, Zarkasyi dan Jauhari, pun bertugas menjadi “duta” untuk menyampaikan lamaran. Tugas mereka lebih kepada cah rauh, alias sebagai pembuka jalan.

Misi sukses. Zarkasyi dan Jauhari adalah diplomat ulung level gampong.

16 Januari 2019, mereka pun diikat dalam pertunangan. Ibunda Fazli menjadi orang yang menyematkan cincin tunangan ke jari manis sang calon mempelai. Hati Fazli pun kian berbunga-bunga. Pun demikian, mereka belum boleh saling mengunjungi. Hanya boleh membicarakan soalan pernikahan.

7 Februari 2019, mereka melangsungkan akad nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) Plimbang. Kala prosesi itu berlagsung, hati Fazli sangatlah riu rendah. Dag dig dug sepanjang proses. Ia pun semakin berkeringat kala menyalami tangan calon mertua untuk prosea akad nikah.

Fazli dan Nur Asma, sesaat setelah pernikahan. (Ist)

Alhamdulillah, tanpa kendala, disaksikan puluhan orang, mereka sah menjadi sepasang suami istri, yang harus saling melengkapi, harus saling memahami, saling berbagi dan tentunya saling menjaga dalam bingkai cinta berdasarkan Syariat Islam dan Pancasila. Hehehehe.

***

Malam pertama, ketika saya tiba di Jeunib, perjalanan pulang dari Banda Aceh, saya menelpon Fazli. Dalam pikiran saya, pasti dia belum pulang ke rumah mertua.

Sehari sebelumnya saya sempat chating dengannya dan bilang “Jangan pulang dulu, tunggulah barang dua hari.”

Rupanya, kala saya telpon sekitar pukul 00 .00 WIB , sang pengantin sudah di rumah mertua. “Saya di Padang Kasab, Bang. Tak bisa keluar.”

Meledaklah tawa saya dan kemudian memohon maaf karena telah mengganggu waktu yang sangat sakral.

***

Sabtu (9/2/2019) saya bertemu dengan Fazli, Nurul Asma, di warung kopi di Kota Bireuen. Istri saya Mutia Dewi ikut serta. Kami janjian makan kepiting. Seorang lagi, temannya Fazli pun ikut serta. Beliau itu merangkap supir, karena sang pengantin belum bisa menyetir.

Kala lima piring mie kepiting tersaji di meja, kami segera lahap. Maklum, walau kepiting mengandung kolesterol jahat, tapi mampu membuat jantung berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang.

Tapi, Nur Asma tak menyentuh mie itu. Dia duduk diam sembari menunduk. Ia terlihat masih sangat malu-malu. Fazli agak kaget, tapi segera menguasai keadaan. Saya dan istri terbahak. Ya, Nur Asma masih terlihat malu-malu di depan Fazli. Lage lam film jameun neukiraju.

Well, akhirnya saya dan istri beserta seluruh perangkat gampong mengucapkan selamat berbahagia untuk keduanya. Semoga kita masih berkesempatan makan mie kepiting satu meja, tentunya dengan harapan Asma tidak lagi ragu untuk menggigit kerasnya kaki kepiting di hadapan Fazli.

Selamat ya, semoga sakinah, mawaddah, warahmah.

KOMENTAR FACEBOOK