Tangis dan Tawa Bersama Usamah (1)

JARUM jam menunjukkan angka pukul 14.12 WIB, Jumat (7/2/2019). Fortuner yang membawa Kepala Dinas Pendidikan Daya Aceh, Usamah El Madny, terus menerobos kebisingan jalan di Kota Medan, Sumatera Utara. Usamah beserta rombongan sedang dalam perjalanan menuju ke Aceh Tenggara via Sumut dalam rangka kerja dinas

Ada kisah menarik dalam kunjungan kerja pria yang dikenal sebagai ‘kadis bersarung’ ini. Mulai dari curhat mantan pejuang kemerdekaan dari Karo yang ber-horas-horas ria hingga cerita haru teungku dayah perbatasan dalam membentengi akidah.

Peristiwa pertama terjadi ketika masih melintasi kaki Gunung Sinabung sekira pukul 22.00 WIB, salah satu mobil rombongan tiba-tiba terperosok ke lubang dan mengalami bocor ban. Mobil yang membawa Usamah pun berhenti untuk memastikan kondisi mobil satu tim.

Suasana saat itu sepi dan mencekam, plus cuaca dingin menusuk tulang sehingga butuh tingkat kewaspadaan tinggi jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Lima belas menit kemudian usai mengganti ban mobil cadangan, Usamah dan rombongannya kembali melanjutkan perjalanan dengan kecepatan lamban. Hal ini dikarenakan kondisi mobil yang ditumpangi Kabid UPTD, Sahlan M. Dian masih belum sempurna setelah ban mobilnya mengalami kebocoran.

“Alhamdulillah, meski berbagai rintangan dan berkat solidaritas kerja antartim, akhirnya segala rintangan teratasi dengan baik. Ada hikmah di balik musibah kemarin, tentunya rasa solidaritas dan kekompakan tim harus terus dijaga,” ujar Usamah El Madny kepada aceHTrend, Senin (11/2/2019).

Usamah menambahkan, selang beberapa kilometer kemudian, ia dan rombongan berhenti di sebuah bengkel milik warga Karo. Mereka berhenti untuk mengusir penat.

Tiba-tiba, salah seorang pria paruh baya menegur Usamah dan rombongan. Mengawali pembicaraan itu, kakek yang kemudian diketahui bernama Lumbor Sinaga itu mengawali sapaan kata-kata horas ketika Usamah dan rombongannya bertandang depan rumahnya. Ia merupakan salah satu dari pejuang kemerdekaan asal Karo yang berada di garis terdepan melawan penjajahan Belanda dan Jepang.

Terkadang ia tertawa lepas saat mengenang kisah-kisah yang lucu, kadang mimiknya terlihat haru saat sedang serius ketika mengenang peristiwa menegangkan. Bahkan, semasa perang kemerdekaan, ia bersama rekan seperjuangannya juga pernah bergerilya hingga ke pedalaman Aceh. Menurutnya, banyak para pejuang asal Aceh yang ikut membantu mereka melawan penjajah Belanda dan Jepang di Tanah Karo.

Usai kemerdekaan dideklarasikan pada 17 Agustus 1945, Lumbor terlibat dalam berbagai organisasi kepemudaan di Sumatera Utara. Salah satu organisasi yang membesarkan namanya adalah Persatuan Pemuda Indonesia (PPI).

“Ketika itu, saya dipercaya Presiden Soekarno sebagai perwakilan pemuda Indonesia ke Rumania. Selama empat bulan di sana, kami dibekali dengan berbagai spirit kepemudaan,” pungkas Lumbor Sinaga.

Usai bercakap-cakap dengan warga setempat, Usamah beserta rombongannya berpamitan. Mereka harus kembali menempuh perjalanan jauh menuju Kabupaten Aceh Tenggara.[] bersambung

E

KOMENTAR FACEBOOK