Tren Inai Kemasan, Praktis dan Banyak Ragamnya

@aceHTrend/Yelli Sustarina

ACEHTREND.COM, Tapaktuan – Tradisi menggunakan inai (boh gaca) sudah menjadi hal yang biasa bagi pengantin perempuan di Aceh. Bedanya, inai yang digunakan sekarang umumnya bukan lagi inai yang berasal dari daun pacar atau on gaca, melainkan inai bubuk kemasan atau lazimnya disebut henna.

“Di zaman ini, semua ingin serba instan, termasuk proses menginai yang biasanya membutuhkan waktu lebih lama. Namun, dengan adanya henna ini, pengukir bisa lebih leluasa melukis karena bahan┬ádan teksturnya sangat lembut sehingga mudah digunakan. Hasilnya pun juga tidak kalah lebih cantik ,” ujar salah seorang pengukir inai di Aceh Selatan, Desry, kepada aceHTrend (9/2/2019).

AceHTrend sempat melihat proses pembuatan henna pada pengantin di Gampong Ladang Kasik Putih, Samadua, Aceh Selatan. Sebelum henna tersebut diukir ke tangan dan kaki pengantin, bahan-bahannya diracik terlebih dahulu.

“Bahan henna sangat banyak, tergantung kenyamanan si pengukir memakai bahan dan merek apa. Ada juga memakai inai daun yang sudah diracik dahulu sebelum digunakan,” kata Desry sambil menunjukkan henna yang sudah diraciknya.

Selanjutnya ialah pemilihan motif ukiran. Terdapat banyak motif yang disediakan sehingga si pengantin tinggal memilih motif apa yang diinginkannya. Kemudian barulah pengerjaannya sesuai dengan motif yang dipesan.

Butuh waktu sekitar dua jam untuk menyelesaikan ukiran ini dan henna tersebut langsung bisa dibuka. Sangat berbeda dengan inai daun yang membutuhkan waktu lama agar warna yang ditampilkan menempel di kulit. Kelebihan henna selain cepat mengering juga menampilkan warna yang cerah dan lebih menarik.

“Selain itu, banyak varian warna henna yang mudah untuk memperagam motif-motif. Mulai dari motif India sampai motif tradisional bahkan mancanegara bisa dibuat,” lanjut Desry.

Oleh karen itu, rata-rata pengantin perempuan zaman sekarang lebih suka menggunakan jasa pengukir henna untuk mempercantik tampilan kaki dan tangan mereka.

Dalam satu bulan ada sekitar lima sampai sepuluh orang yang menggunakan jasa Desry Henna. “Paling banyak di awal dan di akhir tahun,” ujar Desry.

Untuk satu paket ukiran henna menurut Desry dihargai Rp200.000. “Kalau di luar daerah tergantung jauh transportasinya. Untuk henna putih Rp250 sampai Rp300 ribu, karena henna putih harganya lebih tinggi ketimbang henna merah. Selain itu juga ditambah kuku palsu lagi,” katanya.

Terlepas dari kelebihan dan kepraktisan menggunakan henna, terdapat budaya yang dilewatkan. “Kalau ditinjau dari segi pandang tradisinya sangat tidak ada lagi kekeluargaan dan adat di malam boh gaca tersebut, karena sudah ada penginang (pengukir henna) yang khusus untuk boh gaca pengantin,” lanjut Desry yang merupakan lulusan kesenian dari Unsyiah ini.

Nah, bagaimana dengan kamu, apakah menggunakan jasa pengukir inai atau masih mempertahankan tradisi boh gaca dari inai alami?[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK