Gelora Cinta Aceh di Negeri Cincin Api

Sekdaprov Sulteng, Hidayat Lamakarate menyambut Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah

Dukungan Aceh untuk Palu, dalam wujud dukungan pembangunan kembali Masjid Jami’ Nurul Hasanah Kota Palu hanya salah satu bukti dari gelora kasih sayang Aceh kepada negeri-negeri yang dilanda gempa dan tsunami.

Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, dijadwalkan melakukan peletakan batu pertama pembangunan kembali Masjid Jami’ Nurul Hasanah Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rabu, 13 Februari 2019.

Masjid itu akan dibangun dengan dana sumbangan masyarakat Aceh, para SKPA, dan donatur lainnya, mencapai Rp3,37 miliar lebih setelah seruan penggalangan dana disampaikan oleh Plt Gubernur Aceh sehari pascagempa dan tsunami Palu-Donggala.

Update¬†donasi Palu pada 11 Februari 2019, dana di bank Rp2.876.201.972 dan Disdik Rp500.000.000, dan ditransfer semuanya Rp3.376.201.973. Untuk pembangunan masjid di Palu ini merupakan sumbangan dari masyarakat Aceh, para SKPA serta elemen masyarakat lainnya,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh Teuku Ahmad Dadek kepada aceHTrend, Selasa (11/2/2019).

Jejak dukungan Aceh tidak hanya di Palu, Sulawesi Tengah. Di Lombok, Nusa Tenggara Barat juga ada. Melalui dukungan rakyat dan Pemerintah Aceh, dilakukan pembangunan kembali Masjid An-Nur di Desa Gondang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang diperkirakan fungsional Ramadan tahun 2019.

Peletakan batu pertamanya dilakukan Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Sabtu, 27 Oktober 2018 lalu.

Di waktu yang lebih lama, Aceh juga membangun masjid bercorak Masjid Raya Baiturrahman di Yogyakarta usai gempa Yogya pada tahun 2006. Masjid yang menempati lahan seluas 900 meter persegi tersebut sepenuhnya dibangun menggunakan dana bantuan dari rakyat Aceh dan Pemerintah Provinsi Aceh. Masjid ini dibangun tahun 2006. Peletakan batu pertama pembangunan masjid dilakukan oleh Wakil Gubernur Aceh saat itu, yakni Muhammad Nazar.

Tiga bukti itu menandakan betapa Aceh tidak lupa diri terhadap musibah gempa dan tsunami, yang juga pernah melanda Aceh, tahun 2004, yang menewaskan lebih dari 160.000 jiwa.

Jadi, Aceh paham betul makna dukungan kasih sayang di kala terjebak dalam kebencanaan yang mematikan.

Aceh, bisa menemukan titik bangkitnya pascagempa dan tsunami salah satunya berkat dukungan nyata dari berbagai saudaranya di berbagai daerah di Indonesia dan juga dunia. Maka, wajar jika Aceh juga tergerak hati untuk ikut melakukan hal yang sama kepada daerah yang juga mengalami gempa, apalagi yang diikuti tsunami.

Jika di Aceh ada prasasti Thanks to The World sebagai tanda kehadiran masyarakat dunia di Aceh, maka Aceh memilih jalan, salah satunya dengan membangun kembali masjid yang hancur di daerah yang dilanda gempa atau tsunami.

Dengan begitu, masjid tidak hanya menjadi pesan spesial Aceh bagi warga dilanda bencana bahwa apa pun bencana yang terjadi, jangan pernah putus dengan tali Ilahi Rabbi. Dengan masjid Aceh ingin mewujudkan kembali diplomasi persahabatan dengan negeri-negeri yang berada di lingkar cincin api.

Memang, menurut catatan Kompas (2011) Indonesia tersusun dari ribuan pulau yang dilingkari jalur gempa paling aktif di dunia, Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire), sekaligus dibelit jalur gempa teraktif nomor dua di dunia, Sabuk Alpide (Alpide Belt). Kondisi ini diperparah dengan tumbukan tiga lempeng benua, Indo-Australia dari sebelah selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur.

Ditambahkan, jutaan orang tinggal dalam jangkauan letusan gunung berapi, bahkan sebagian tinggal di dalam kaldera tanpa menyadarinya. Kota-kota tumbuh di jalur patahan, dibangun dari batu bata rapuh dan abai prinsip aman gempa. Tsunami yang mengancam hanya dibentengi tanggul cacat, bukit yang dikeruk, bakau yang menyusut, alat deteksi dini yang dicuri, dan masyarakat yang lupa.

Di atas Bumi yang paling bergolak inilah kita semua, masyarakat di berbagai daerah tumbuh dan berkembang selama ribuan tahun. Indonesia menjadi negara yang penduduknya terbanyak tinggal dalam jangkauan gunung berapi, yang siap mengejutkan dan bahkan mematikan.

Maka, dalam gelora gunung berapi itulah gelora cinta Aceh menemukan sisi spiritualitasnya, yang mampu membasuh luka hati, usai dicabik-cabik oleh bencana. Sungguh tiada daya upaya kecuali dengan izin Allah. Suara kumandan azan dari masjid yang didirikan dari sumbangan rakyat dan Pemerintah Aceh inilah siapa tahu kelak menjadi alasan mengecilkan amarah bumi.[]

KOMENTAR FACEBOOK