Pengrajin Rapai di Lhokseumawe Kesulitan Bahan Baku

@aceHTrend/Mulyadi Pasee

ACEHTREND.COM, Lhokseumawe – Di Dusun Di Awe, Gampong Blang Weu Panjoe, Kecamatan Blang Mangat terdapat usaha kerajinan yang memproduksi alat musik perkusi tradisional. Masyarakat Aceh menyebutnya dengan rapai.

Dari kreasi alat musik inilah muncul seni rapai debus, rapai uroh, dan lainnya yang dimainkan dengan cara ditabuh.

Para pengrajin mengakui saat ini mereka kesulitan mendapat bahan baku. Misalnya, mereka sulit mendapat kayu berkualitas terbaik seperti kayu merbau. Rotan pun sulit didapatkan.

“Jika digunakan dengan kayu lain maka suaranya tidak akan indah ketika dimainkan,” kata seorang pengrajin, Junaidi, kepada acehtrend.com, Selasa (12/2/2019). 

Untuk mendapatkan kayu berkualitas terbaik dia biasanya dapatkan dari pengunungan di daerah Bener Meriah dan Aceh Timur dibeli dari masyarakat. Sedangkan untuk gendangnya dia gunakan dari kulit kambing pilihan yang didapatkan dari peternakan lokal.

Pengrajin mengakui dalam satu pekan mereka dapat memproduksi delapan unit alat musik rapai. Untuk harga dia membandrol Rp400 ribu hingga Rp1,5 juta per unit, tergantung ukurannya.

Bisnis pembuatan rapai ini dirintis sudah lama. Namun menurut Junaidi, usaha keluarga ini baru mulai fokus dikembangkan sejak 2002. Tiga orang pengrajin semuanya anggota keluarga.

Junaidi sendiri awalnya bekerja sebagai buruh kasar, belakangan memilih menjadi pengrajin rapai.

“Adapun produksi alat musik tradisional yakni rapai uroeh, rapai geurempeng, rapai geleng, rapai musik, seurune kale, canang, geundrang, dan ale tunjang,” kata Junaidi.

Untuk pemasarannya, produksi rapai tersebut sudah dikirimkan ke berbagai negara di Asia dan Eropa. Meskipun kesulitan bahan baku, keluarganya masih terus bersemangat memproduksi alat musik tradisional tersebut.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK