Pendidikan Akhlak sebagai Solusi Persoalan Pendidikan di Indonesia

Ilustrasi @republika

Oleh Hayatullah Zuboidi*

Kasus demi kasus perilaku ketidakwajaran siswa terhadap guru selama ini telah memberikan kita satu kesimpulan bahwa banyak generasi muda abad ini masih mengalami krisis akhlak. Tidak hanya guru yang menjadi korban, perilaku amoral tersebut juga kemungkinan terjadi pada orang tua mereka sendiri.

Seperti peristiwa yang terjadi pada 10 Februari 2019 lalu, siswa SMP PGRI di Wringinanom, Kabupaten Gresik yang memegang kerah baju dan kepala guru saat ditegur. Perlakuan tersebut sangat tidak layak menjadi contoh bagi siswa-siswa lain.

Perilaku siswa tersebut beredar melalui media sosial dalam bentuk video amatir. Di sana, tampak seorang siswa laki-laki mengenakan seragam pramuka sedang mengamuk ketika ditegur gurunya agar tidak merokok di dalam kelas.

Siswa tersebut sempat beberapa kali melawan dengan menarik kerah baju gurunya. Tak hanya itu, dia juga sempat memegang kepala sang guru honorer bernama Nur Khalim (30). Terlihat pula, siswa tersebut tidak sendiri, ada 32 murid di kelas yang sama, namun tidak ada satu pun yang melerai. Bahkan mereka menertawai aksi kurang terpuji itu. (Tribunjatim, 10/2/2019).

Menurut data yang diperoleh dari media Kumparan, dalam tahun 2018, mereka mencatat ada empat kasus siswa melakukan kekerasan terhadap gurunya di sekolah: pertama, murid laki-laki SMK swasta di Kendal berguyon dengan menyerang gurunya, kedua, seorang guru kesenian di SMAN 1 Torjun, Sampang, Madura, Jawa Timur meninggal dunia akibat dianiaya oleh siswanya sendiri berinisial MH, ketiga, guru perempuan di Kalimantan Barat dipukul muridnya karena tidak naik kelas, dan keempat, Nuzul Kurniawati, guru Madrasah Darussalam, Kecamatan Pontianak Timur dipukul siswanya berinisial NF. Nuzul dipukul NF karena pelaku tidak terima ditegur saat menggunakan handphone untuk bermain games di tengah pelajaran berlangsung. (Kumparan, 12/11/2018).

Kasus-kasus seperti itu sejatinya tidak terjadi di negeri ini jika mereka mendapatkan pendidikan akhlak yang memadai. Perilaku tersebut sama sekali tidak mencermin Indonesia dengan budaya ketimuran yang sangat menghargai orang yang lebih tua. Bahkan dalam budaya kita Indonesia, ada yang lebih spesifik lagi yaitu memuliakan tiga orang tua, yaitu ibu, ayah, dan guru.

Namun demikian, kejadian-kejadikan selama ini juga tidak serta-merta kita salahkan siswa. Bisa jadi sistem pendidikan kita yang masih perlu dibenahi. Coba kita perhatikan, berapa persen mereka mendapatkan pendidikan akhlak dibandingkan dengan pendidikan umum lainnya di sekolah. Padahal pendidikan akhlak merupakan hal yang utama sebelum mereka diberikan pendidikan umum lainnya.

Mengapa pendidikan akhlak itu mesti diutamakan, karena jika mereka dewasa nanti dan pandai, maka mereka akan orang-orang yang sombong. Ketika mereka menjadi pemimpin, maka mereka akan menjadi pemimpin tidak memiliki etika dalam memimpin masyarakat. Jika mereka jadi dokter, maka dia akan menjadi dokter yang angkuh dan profesi-profesi lainnya.

Game Online dan Media Sosial sebagai Pemicu

Pengaruh media sosial dan game online hari ini tidak dapat dibendung. Mulai orang dewasa hingga anak-anak memiliki akun media sosial, bahkan memiliki akun youtube dan gemar bermain game online yang bertema kekerasan. Memang, tidak salah dengan hadirnya semua platform tersebut, tetapi pemanfaatannya yang harus dikontrol dengan baik, khusus bagi anak-anak.

Di sana mereka mendapatkan informasi dan tontonan apa pun yang tidak tersaring. Dari informasi-informasi tersebut dapat memicu mereka lebih ekstrim, apalagi dengan game-game yang mereka main membuat mereka kehilangan peka terhadap sosial.

Penulis sendiri pernah bertemu dengan salah seorang orang tua yang sedang bersama anaknya. Anaknya tampak sedang asyik dengan game yang dimainkan melalui android. Kemudian, orang tuanya memintanya untuk bersalaman dengan penulis, anaknya itu tidak mau peduli, risih, bahkan merasa terganggu.

Dari pengalaman tersebut, jelas bahwa game itu merupakan salah satu faktor yang membuat anak kehilangan kecerdasan sosial  dan tidak berperilaku seperti anak-anak semestinya. Berbeda dengan anak-anak tempo dulu, ketika dibawa orang tua bertemu dengan orang-orang, langsung bersalaman dan mencium tangan orang tersebut sebagai bentuk penghormatan.

Pendidikan Akhlak sebagai Solusi

Jika merujuk kepada sistem pendidikan Indonesia secara umum saat ini porsi belajar ilmu agama dan akhlak sangat sedikit. Belum lagi ada wacana-wacana penghapusan mata pelajaran agama di sekolah, hal itu dikhawatirkan akan membuat siswa semakin merosok akhlaknya.

Hampir setiap hari siswa dibebankan dengan pekerjaan rumah yang membuat anak-anak makin stres. Mereka tidak sempat belajar agama yang memadai. Jika pun ada beberapa tempat dibuka Taman Pendidikan Alquran (TPA) tetapi si anak tidak sempat karena orang tuanya menginginkan mereka ikut les dan ekstra kurikuler lainnya.

Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab fenomenalnya Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa sandaran baik dan buruk akhlak beserta perilaku lahiriah adalah syariat dan akal. Dengan ungkapan lain, untuk menilai apakah akhlak itu baik atau buruk haruslah ditelusuri melalui agama dan akal sehat. Hal ini seiring dengan pernyataan bahwa akal dan syariat itu saling melengkapi, akal saja tidak cukup dalam kehidupan moral.

Menurutnya, seorang pelajar seharusnya jangan menyombongkan diri dengan ilmu pengetahuannya dan jangan menentang gurunya, akan tetapi patuhlah terhadap pendapat dan nasehat seluruhnya, seperti patuhnya orang sakit yang bodoh kepada dokternya yang ahli dan berpengalaman.

Dalam membangun pendidikan di Indonesia menurut penulis, pemerintah perlu menyeimbangkan antara pendidikan moral dan fisik (sarana). Percuma membangun sarana pendidikan yang bagus jika penggunanya tidak memanfaatkan dengan bijak. Hasilnya sarana rusak dan mereka menjadi siswa yang kompetitif tetapi berperilaku negatif.

Di sekolah perlu diperbanyak mata pejalaran yang menuntun mereka kepada kelemahlembutan budi pekerti. Anak-anak juga diberikan tugas yang bisa mengarah mereka kepada kesalehan sosial, bukan tugas yang justru membuat mereka egois dan hanya ingin tampil sendiri.

Generasi kita perlu dikenalkan dengan kebudayaan kita sendiri di Indonesia yang masih kental dengan budaya ketimuran. Budaya yang berpegang teguh terhadap norma, sikap, dan nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Budaya masyarakat timur yang lain adalah saling menghormati antara satu sama lain, saling tolong menolong bahu membahu, selalu ramah, dan lain-lain.

Begitu juga persoalan pendidikan moral siswa, jangan semua diserahkan kepada guru di sekolah, tetapi orang tua juga perlu mengajarkan akhlak yang baik kepada mereka sejak dari rumah. Jika tidak mampu, orang tua juga bisa membawa anaknya ke tempat-tempat pengajian.

Orang tua sejatinya mengajarkan anak-anak mereka tidak membuang sampah sembarangan dan bersabar saat antrean. Jika mereka sudah terbiasa dengan hal-hal positif sejak dari rumah, maka ketika berada di tempat umum pun mereka akan tetap membawa sifat positif tersebut.

Oleh karena itu, mari kita merasa bertanggung jawab terhadap generasi muda kita dengan cara serius menbina akhlak mereka. Masa depan bangsa ini ada pada mereka yang muda-muda saat ini. Jika mereka tidak kita selamatkan, maka bangsa ini akan dipimpin oleh orang-orang yang tak tebina akhlaknya. Majunya sebuah bangsa karena pendidikan dan budaya kuat.[]

*Penulis adalah anggota aktif di Forum Aceh Menulis (FAMe) dan Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

KOMENTAR FACEBOOK