Komandan Joni & Kisah Yatim Pemanggul Senapan Perang

Joni Suryawan, kombatan GAM yang ikut mendukung perdamaian Aceh.

ACEHTREND.COM, Banda Aceh- Joni Suryawan, salah seorang petempur GAM yang beroperasi di kawasan Linge (Aceh Tengah, Bener Meriah, gayo Lues) adalah loyalis GAM yang menaruh hormat kepada atasan, baik dari unsur sipil maupun pemimpin militer di jajaran Teuntra Neugara Aceh (TNA).

Joni adalah lelaki kelahiran Samalanga pada 22 Maret 1979. Sejak usia belia dibawa merantau ke Tanoh Gayo oleh orangtuanya. Ia adalah alumnus SD Negeri Reronga, Bener Meriah (dulu Aceh Tengah-red) dan SMP Bina Bersaudara, Titi Kuning, Kota Medan, Sumut.

Setelah perdamaian antara GAM dan RI pada 15 Agustus 2005, Joni melanjutkan sekolah Kejar Paket C, Kelompok Belajar Pabte Raya, Kecamatan Wih Pesam, Bener Meriah. Kemudian dia juga kuliah di Fakultas hukum di Banda Aceh.

Bang Joni, betulah ia akrab disapa oleh orang yang lebih muda. Lelaki ramah senyum yang seluruh giginya telah rontok itu, bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka pada 1999 sebagai anggota intelijen. Kala itu setahun setelah meledaknya reformasi 1998 oleh gerakan mahasiswa Indonesia.

Dalam masa perjuangannya membela panji GAM, Joni telah melewati ragam pengalaman hidup. Menjadi anggota intelijen GAM pada 1999. Kemudian menjadi prajurit penembak GLM, perakit bom, pemanggul AK-47 hingga RPG, sepanjang 2001-2003.

Kemudian ditunjuk oleh Panglima Muda Daerah III Wilayah Linge alm Wen Kala sebagai Komandan Peleton Radja Muda, markas Pantee Amri Gunong Geureudong. Kemudian dipercaya sebagai Keuangan Militer TNA Daerah III Linge.

Ada sebuah kisah yang sangat dikenang oleh Komandan Joni, kala ia masih bergerilya di hutan Gunong Goh.Kisah itu sungguh menyita semangat kemanusiaan Joni selalu kombatan GAM dan orang Aceh.

Kala itu, Joni dan pasukan TNA bergerilya di kawasan Gunong Goh. Sepasang suami istri yang merupakan kombatan GAM, membawa serta anak mereka ke dalam hutan. Bocah lelaki tersebut masih delapan tahun. Namanya Rachmat.

Dalam usia yang sangat belia, Rachmat harus hidup di belantara, mengikuti gerak langkah perjuangan ayah dan ibunya sebagai laskar bangsa. Tiap waktu, bocah tersebut harus berurusan dengan perang, perjalanan gerilya, dan perang. Desingan peluru, kaki yang berlari, tubuh berlumur darah dan lumpur adalah pemandangan yang sudah lazim bagi Rachmat kala itu.

Hingga pada suatu ketika, kala pasukan TNA baku tembak dengan tentara pemerintah, Rachmat kecil yang kala itu sedang di dalam sungai dan terus ditembaki oleh tentara, berhasil lolos sembari memanggul sepucuk bedil M-16 miliknya gerilyawan GAM yang gugur dalam laga itu. Dalam perjuangan itu, kemudian ayah Rachmat pun ikut gugur di lain waktu. Yatimlah ia bersama saudaranya.

Hari ini, Selasa (18/2/2019) Rachmat melangsungkan pernikahan dengan pujaan hatinya. Seorang dara kampung yang telah mencuri hatinya. Joni menghadiri resepsi itu. Ia sangat bangga kepada Rachmat.

Rachmat (tengah) dan Joni Suryawan (kiri). Hubungan mereka sudah seperti ayah dan anak. (Ist)

Sejak damai, Rachmat dan adik serta ibunya, hidup dengan 1 hektar kebun kopi peninggalan mendiang ayahnya. Tidak lebih dari itu. Hidup mereka miskin.

“Trenyuh saya bila mengenang masa-masa itu. Makanya saya sangat sakit hati ketika Dahnil Ahzar Simajuntak dan sandiaga Uno mengaku lahan HTI Prabowo di bener Meriah dan Aceh Tengah, digarap oleh eks gerilyawan GAM,” kata Joni.

KOMENTAR FACEBOOK