Dari 3.000 Wartawan Aceh, Tidak sampai Lima Orang Paham Soal Migas

Yarmen Dinamika, saat menyampaiakn materi tentang tantangan bagi jurnalis di Aceh dalam memberitakan industri migas, Rabu (20/2/2019) Foto: Muhajir Juli/aceHTrend.

ACEHTREND.COM, Banda Aceh- Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika, yang juga salah seorang wartawan senior di Aceh, Rabu (20/2/2019) mengatakan jumlah wartawan di Aceh mencapai 3000 orang. Akan tetapi yang paham tentang industri migas tidak mencapai lima orang.

Hal ini disampaikan oleh Yarmen, kala didapuk sebagai salah seorang pemateri pada acara diskusi yang digelar oleh The Aceh Institute, di Paradigma Cafe, Banda Aceh.

Dalam paparannya, Yarmen menjelaskan bahwa industri migas adalah sebuah investasi berskala besar, melibatkan banyak orang, melibatkan modal yang sangat besar, serta menyangkut hajat hidup orang banyak. Juga menarik perhatian banyak orang. Nilai ekonomi politiknya sangat tinggi.

Dalam konteks Aceh, Yarmen juga mengatakan satu dari tujuh penyebab Aceh bergolak adalah karena kalah tender salah seorang putra Aceh saat ladang Arun dibuka.

Penulis buku Aceh Bersimbah Darah tersebut juga mengatakan, wartawan di Aceh harus memiliki keilmuwan tentang migas. Hal ini untuk menghindari kesalahan pemberitaan.

“Juga agar terhindar dari tindakan menghakimi serta terbiasa memuat berita dengan klarifikasi dan konfirmasi. Juga untuk menghindari inkonsistensi antara judul berita dan isi berita,” kata Yarmen.

Pengetahuan tentang industri migas, tambahnya, juga agar wartawan memahami perihal kebijakan perusahaan migas di sektor hulu dan hilir, khususnya di Aceh.

Kegiatan yang dipandu oleh Muazzinah Yacoub ini berlangsung dari pukul 09.00- 12.30 WIB. Ikut sebagai pembicara yaitu Risman A Rachman selaku CEO aceHTrend, Nazamuddin dari Unsyiah serta Kepala BPMA Azhari Idris.