Jokowi, Bapak Pembangunan Aceh

Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengenakan pakaian adat khas Aceh dalam upacara peringatan pengibaran bendera Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, pada Jumat, 17 Agustus 2018. TEMPO/Dewi Nurita

Tanpa terasa masa kepemimpinan Ir. Joko Widodo atau akrab dikenal dengan Jokowi, hampirlah usai dalam membiduki Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Telah banyak yang sudah dilakukan, tentu masih banyak pula yang belum selesai. Indonesia dengan kompleksitas masalahnya, dengan luas wilayahnya, serta dengan fasilitas infrastrukturnya yang tidak merata, tidak akan selesai dibangun dalam lima tahun.

Sebagai daerah yang telah 13 tahun keluar dari konflik, Aceh merupakan salah satu kawasan tertinggal di Indonesia. Kekayaan alamnya, masih menjadi sekedar kutukan bagi pembangunan. Aceh seperti saudagar yang hartanya telah dikuasai oleh para pekerjanya. Memiliki sejuta potensi, tapi tak memiliki apa-apa.

Banda Aceh, sebagai ibukota Propinsi Aceh, tidak lebih hebat dari Kota Lhokseumawe, kala Aceh Utara masih menjadi petrodolar. Setelah petrodolar runtuh, kedua kota “besar” ini tidak lebih hebat dari ibukota kabupaten di Pulau Jawa yang lebih unggul dalam segala hal.

Persoalan kekeringan, sawah tadah hujan, adalah problem klasik di Aceh. Tiap musim kemarau petani menjerit, kala musim hujan mereka juga kembali menjerit. Aceh memang tertinggal. Aceh Tidak memiliki apa-apa.

Tapi, semenjak Jokowi menjadi Presiden Republik Indonesia, semuanya pelan-pelan berubah. Setidaknya belasan proyek raksasa hadir di Aceh, sebagai prasyarat menuju Aceh Hebat di hari depan. Apa yang dilakukan oleh Jokowi ini, belumlah sempat dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya.

Lewat Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2018, Perubahan Kedua Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 Tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional, untuk Aceh, Presiden Joko Widodo menempatkan 11 Proyek Strategis Nasional (PSN).

Apa saja itu?

Ruas jalan tol:

Ruas jalan tol Binjai-Langsa sepanjang 110 km. Ruas jalan tol Langsa-Lhokseumawe sepanjang 135 km. Ruas jalan tol Lhokseumawe-Sigli sepanjang 135 km. Banda Aceh-Sigli sepanjang 75 km. Semuanya masuk ke dalam bagian Trans Sumatera.

Bendungan:

Waduk keureuto Aceh Utara, waduk Rukoh dan Waduk Tiro di Pidie. Waduk Rajui di Pidie, serta Waduk Paya Seunara di Sabang.

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun.

Selain itu, khusus untuk Kota Sabang, menurut keterangan Walikota Sabang Nazaruddin, ada dua proyek yang didapatkan Sabang, yaitu pembangunan jalan lingkar dan pembangunan bandara sipil. Bandara itu sudah pun masuk ke dalam PSN terbaru.

Juga sudah dilakukan proyek Revitalisasi Pelabuhan Sabang senilai 220 miliar. Program ini walaupun tidak masuk PSN, tapi dilakukan kala Jokowi menjadi Presiden Indonesia.

Selain itu, di bidang energi, PLN sebagai BUMN yang menyediakan energi, sedang membangun empat pembangkit listrik tenaga air di Aceh Tengah.  

Jangan lupa pula, hikmah dari gempa Pidie Jaya dan Bireuen, beberapa tahun lalu, banyak pembangunan yang diberikan untuk Aceh. Yang paling fenomenal adalah Mesjid At-Taqarub, Trienggadeng, Pidie Jaya dan pembangunan kampus megah di kompleks Dayah MUDI Mesra, Samalanga.

Modal Masa Depan

Apa yang dilakukan oleh Presiden Jokowi untuk Aceh, bila diumpamakan, seperti seorang bapak yang bertanggungjawab. Ia membangun infrastuktur, sebagai modal dasar bagi Aceh, yang sebelumnya tidak pernah disediakan. Ibarat kata pepatah: Jangan berikan ikan hasil tangkapan, tapi berilah kail untuk memancing. Itulah yang dilakukan oleh Jokowi. Aceh dia sediakan infrastruktur sebagai modal bagi masa depan.

Apa yang dilakukan oleh Jokowi tentulah tidak bisa dirasakan dampaknya sesegera mungkin. Tentu beda dengan subsidi langsung yang tiap KK diberikan uang 600 ribu per tiga bulan. Subsidi itu tidak membantu secara jangka panjang. hanya sekedar jajan agar kemarahan tidak meluap. Mirip dana diyat untuk korban konflik Aceh. Ada tapi tak berdaya jangka panjang.

Percayalah, bahwa Presiden Jokowi telah memberikan banyak modal untuk daerah modal ini. Puluhan tahun bersama Indonesia, baru kali ini belasan proyek besar untuk Aceh masuk dalam PSN, dalam dokumen nasional. Tentu dengan masuknya banyak proyek untuk Aceh dalam PSN, membuat kita semakin yakin, bahwa rancangan kesejahteraan di masa depan, kian terbuka lebar. Bukan lagi sebatas mantra politik yang sesegera mungkin disesali begitu pemilu usai.

Dalam beberapa diskusi, telah mulai ada orang-orang yang berani mengatakan bahwa Jokowi adalah Bapak Pembangunan Aceh (BPA). Dengan harapan bahwa apa yang sudah ia lakukan itu, tidak dihilangkan oleh orang lain, yang masih berkeinginan Aceh tidak memiliki apa-apa. []

KOMENTAR FACEBOOK