Cerbung: Janji

Ilustrasi dikutip dari Pixabay.

Oleh Muhajir Juli

Tafsir (1)

“Aku tahu bahwa pernikahan ini tidak pernah kau dambakan. Bahkan kau mengutuknya. Tapi percayalah, sebagai suami, aku akan berusaha membuat kamu jatuh cinta padaku.”

Banyak teman-teman yang mengatakan aku beruntung. Mengapa? Karena aku berhasil menikahi gadis berparas perpaduan kecantikan Timur-Tengah dengan Asia Tenggara. Tubuh semampai, lemah lembut serta memiliki prestasi. Juga lulusan luar negeri. 

Mereka tidak henti-hentinya mengucapkan selamat. Bahkan banyak pula mengirimkan hadiah seperti pineueng nyen, ramuan bawang putih serta suplemen produk luar negeri. Menurut mereka, aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu sedetikpun. “Sijeum teungeut, dua jeum rugoe,” kata Amir, temanku yang sama-sama menempuh studi di Mesir.

Khalifa Umaira, perempuan berusia 24 tahun. Lulusan Turki dan seorang dosen di salah satu universitas ternama di Indonesia. Sebelumnya aku tidak mengenali dirinya, hingga suatu hari keluarga kami mengadakan taarufke rumahnya. Gadis berkulit kuning langsat itu—demikian kusimpulkan ketika melihat telapak tangan dan wajahnya—merupakan putri dari sejawat ayahku. 

Aku tidak pernah menolak permintaan dari kedua orangtuaku. Apalagi semenjak ibu tiada. Apapun yang dikatakan oleh bapak, selalu kucoba penuhi. Termasuk dalam hal paling sakral dalam hidupku, yaitu jodoh. 

“Sudah cukup sampai magister. Tak perlu doktor, pulanglah dan menikah. Nanti kamu bisa melanjutkan kuliah sembari mengurus bisnis keluarga. Bapak sudah tidak sabar menimang cucu. Ibumu pun berkali-kali muncul dalam mimpiku, menanyakan tentang cucunya,” kata bapak, kala aku mengutarakan niat melanjutkan studi. 

“Baiklah kalau demikian kemauan bapak. Saya ikut saja,” kataku sembari mengucapkan salam dan mohon diri untuk melanjutkan pekerjaan. 

***

Dua bulan sejak percakapan di telepon, aku pulang ke Aceh. Bapak menjemputku di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda. Di Aceh Besar. Setelah melepas rindu seperlunya, kami pun bergerak menuju Teupin Manee, kampung tempat bapak dilahirkan di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Bapak sengaja menghabiskan masa tuanya di kampung halamannya. Katanya di kampung dia bisa setiap saat menjeguk ayah dan ibunya, serta istrinya tercinta, yang kini telah bersemanyam di pekuburan umum gampong di Juli Selatan itu. 

Seminggu setelah tiba di Teupin Manee, bapak mengajakku ke rumah temannya. Dia mengatakan sudah memilihkan seorang gadis untukku. Seorang dosen lulusan Turki. 

“Cocoklah dengan kamu yang lulusan Mesir. Pengetahuan agamanya pun bagus,” kata bapak sembari menepuk bahuku, ketika kami tiba di gerbang rumah yang sederhana, tapi ditata dengan apik.

“Perkenalkan, ini putra saya, Abdullah. Baru pulang dari Mesir seminggu yang lalu,” kata bapak, setelah kami dipersilahkan masuk.

“Sudah besar Ananda rupanya. Gagah dan tampan. Sorot matanya seperti almarhumah istrimu. Pasti kecerdasannya persis istrimu,”kata calon mertuaku itu.

“Dari dulu kamu memang tak pernah mengakui bila aku lebih cerdas dari Fatimah,” kata bapak sembari terkekeh. 

“Fakta tak bisa dibantah, Mustafa. Fatimah memang cerdas, sayangnya, karena kau pinang, dia tidak lulus pula kuliah,” timpal Pak Subhan, teman ayah sejak mereka kuliah di Universitas Almuslim, Bireuen.

***

Tidak butuh waktu lama, sebulan setelah pertemuan itu, kami dinikahkan. Hari itu untuk pertama kali aku melihat calon pengantinku, calon istriku berbalut pakaian pengantin, diiring oleh dua dara. Wajahnya menunduk. Sesekali aku mencuri pandang. Dia begitu cantik, sempurna sebagai seorang istri idaman. 

Tapi, ada sesuatu yang bergelayut. Air mukanya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Bilapun ia tersenyum seperti dipaksakan. Ada rona tak bahagia. Tapi aku tak tahu mengapa.

Akhirnya, ijab kabulpun selesai. Kami sah menjadi sepasang suami dan istri.

***

Ragam oleh-oleh dari teman-temaku, kutaruh di sudut kamar, dekat lemari. Tingkah polah mereka memang menggelikan. Sudut Kamar pengantinku penuh dengan barang yang katanya sebagai penambah stamina. Bila mengingat kelucuan wajah mereka kala menyerahkan hadiah itu, aku ingin tertawa. 

Tapi itu urung kulakukan. Aku seperti sendirian di kamar ini. Khalifa tidak bercakap sepatah katapun padaku. Ketika ia membuka pintu, Khalifa hanya menyalamiku, mencium tanganku, selanjutnya dia tidak berkalam. Ia hanya mematung saja di depan meja rias.

Aku menjadi serba salah. Ingin kudekati, kutakut dia marah. Tak kudekati, aku takut menjadi lebih salah lagi. Aku tahu bahwa sikap itu bukan bentuk rasa malu. Sebagai lelaki dewasa aku sudah cukup mampu membedakan antara malu dan penolakan. Aku menangkap pesan, bila aku tidak boleh mendekat. Minimal, belum boleh mendekat. Kuhormati bahasa tubuh itu. 

Tapi, aku butuh kepastian, tidak boleh gegabah menerjemahkan pesan yang tidak tersurat.

“Khalifa, ada apa, mengapa engkau murung?” tanyaku sembari memegangi bahunya.

Dia tidak menjawab. Ia menunduk. 15 detik kemudian dia terisak. Kucoba yakinkan dirinya untuk berbagi cerita. Tapi dia menggeleng. Aku mengalah. Aku mundur dan duduk di sudut ranjang. Kubuka handphone.Ingin rasanya aku segera keluar dari kamar ini. Baru beberapa menit lalu aku membayangkan kebahagiaan di malam pertama, tapi buyar seketika. 

Kubaca kontak dihandphone. Satu persatu dengan teliti. Ingin kutelepon teman-temanku untuk mengopi di warung. Tapi itu tidak boleh kulakukan. Malam pertama, tapi pengantin prianya ngopidi luar, bagaimana nanti persepsi orang lain terhadapku dan terhadap istriku. Kehormatan kami pasti akan rusak. Juga bapak dan mertuaku, mereka pasti akan menuai malu.

Kumandang azan terdengar hingga ke bilik kamar kami. Aku berwudhuk, aku menoleh ke arah Khalifa. 

“Shalat saja duluan. Nanti saya susul,” katanya sembari kembali menoleh ke arah cermin.

Aku mengangguk. 

Usai shalat, aku membuka laptop. Maksud hati ingin menulis. Tapi ide tidak keluar. Kututup kembali laptop. Kuambil buku memoar Nur Djuli: The Long and Winding Road To Helsinki. Kulanjutkan bacaan yang tersisa. Aku tidak fokus. Kutaruh buku bersampul merah itu di atas sofa. 

Sejenak kupenjamkan mata sembari duduk. Kusenderkan punggung ke senderan sofa. Aku berharap segera bisa lelap. Aku belum boleh tidur di ranjang pengantin. Khalifa belum memberikan tanda apapun. 

Tak juga bisa kupenjamkan mata.

Aku gelisah, tak jelas apakah aku marah, kecewa, ataukah gejolak kelelakianku sedang bergemuruh. Semua duga rasa bercampur aduk dalam dada. 

Aku keluar kamar, maksud hati hendak ke teras depan, sejenak mencari angin segar. 

“Eh Nak Abdullah,” sapa mertuaku, ibunya Khalifa.

“Iya Bu, saya hendak ke teras sebentar,” jawabku, kala berpapasan dengannya di ruang tengah. 

“Khalifa mana?,” tanyanya.

“Sepertinya kurang enak badan,” jawabku sembari tersenyum.

“Kalau begitu biar ibu saja yang antar makanan ke dalam kamar. Sekalian mengecek keadaan Khalifa,” katanya.

“Tidak usah Bu, biar saya saja yang membawa talammakanan ke dalam kamar,” kataku.

“Tidak boleh. Linto baroadalah raja. Ini adat kita, jangan dilanggar,” kata ibu mertua.

Kudengar derit pintu.  Khalifa keluar kamar.

“Jangan Bang, tidak boleh. Khalifa sudah sehat. Abang masuk saja,” katanya sembari menuju dapur. Aku menangguk. Ibu mertuaku terlihat bengong. Tapi tak lagi mengatakan apapun. 

Makanan itu, tak kami sentuh. Khalifa mempersilahkan aku makan, tapi dia tidak menyentuh apapun. Akupun tidak berselera. Hilang sudah semangatku malam ini. 

“Kalau kamu lelah, tidurlah. Aman, takkan ada serangan dari monster apapun, aku akan menjagamu,” kataku sembari berusaha ramah. 

Ia hanya menunduk, tanpa menjawab.

“Tenang, kamu tak perlu ragukan aku. Kamu istriku, tapi bukan tawananku. Aku akan tidur di sofa,” kataku.

“Biar saya saja di sofa. Bang tidur di ranjang,” katanya.

“Tidak usah. Kamu butuh istirahat. Mana selimut, aku butuh selimut,” kataku.

Khalifa bangkit dari duduknya. Dia membuka lemari dan mengambil selimut. Di serahkan padaku. ia tersenyum. Aku membalasnya.

***

Sebulan setelah pernikahan, aku mulai bekerja mengurusi bisnis penerbitan dan percetakan yang dulunya dikelola bapak. Dia ingin pensiun. Usianya sudah tua untuk menghitung laba rugi, serta membuat perencanaan kerja. Satu media online yang dibangun olehnya telah diserahkan kepada manajemen tersendiri. 

“Kamu intelektual. Dunia buku adalah dunia membangun peradaban. Media biar diurus oleh Pakcikmu. Dia lihai soal itu. Aku ingin kau kelola ini, bukan semata untuk bisnis dunia. Tapi juga sebagai sarana memperluas dakwah Islam, dakwahnya ahlussunah,” kata bapak suatu ketika.

“Bagaimana istrimu, sehatkah?” tanya bapak. 

Aku agak terkejut, tapi segera mengangguk dan tersenyum. “Pilihan bapak jarang meleset,” kataku sembari menyeruput kopi.

“Jangan bohong kamu,” kata bapak, seperti mampu menangkap sesuatu.

Aku mencoba bersikap biasa saja. Aku tidak boleh membuat dia kecewa. Terlalu banyak pengorbanan yang ia lakukan untukku. Sejak muda dia bekerja keras, siang dan malam. Bahkan kerap meninggalkan kami berbulan-bulan, hanya demi mewujudkan mimpinya bersama ibuku, yaitu agar aku bisa kuliah di Mesir. Dia begitu mengimpikan anaknya menjadi sarjana yang sekaligus agamawan, bilapun tak mencapai level ulama, tapi harus menjadi orang yang mampu memimpin umat.

Tapi, bukanlah Mustafa namanya, bila tak mampu membaca yang tidak tertulis. Insting wartawannya masih sangat tajam.“Maafkan bapakmu ini bila telah melakukan kekeliruan,” katanya sembari menatapku.

“Tidak ada yang keliru. Apa yang bapak lakukan demi kebahagiaanku,” jawabku sembari menatap pula matanya dan menggenggam tangannya. Ia tersenyum. 

“Siapa tahu kau tidak mencintainya. Kan itu bisa saja terjadi,” kata bapak.

“Masa sih aku tidak jatuh cinta pada perempuan secantik itu? Ada –ada saja bapak ini,” timpalku sambil tertawa kecil.

“Cinta bukan soal rupa, karena cinta tidak diciptakan dengan tujuan yang demikian,” kata bapak.

“Ah bapak ini, mulai lagi deh,” timpalku sambil membetulkan letak kacamatanya. 

“Sepertinya bapak perlu ke tukang pangkas,” kataku kemudian, mengalihkan pembicaraan.

“Hmm, sudah ganggu bapak lagi. Mau bilang bila kumis lele bapak mulai terlihat ya,” katanya sembari mencoba menjewer telingaku. Aku menghindar sembari tertawa.

“Mari saya antarkan bapak ke tukang pangkas,” kataku.

“Baik, antarkan aku ke si Juliadi. Sudah rindu aku pada guntingnya itu,” kata bapak. 

“Siap komandan.”

***

Pagi ini kususuri tepian Krueng Peusangan. Di bawah jembatan. Dulu bapak, ketika ia kecil, bermain bola di sini. Tapi lapangan itu sudah tidak ada, digerus sungai yang kerapkali meluap bila musim hujan. Penambangan batu besar-besaran kala Aceh dihumbalang konflik, membuat tanah di sini terkikis. 

Aku melihat dengan cermat tiap jengkal tanah. Kubayangkan bila dulu bapak mengocek sikulit bundar di bawah jembatan ini. Ia memang tak pernah mampu bermain bola dengan baik. Andaikan laju larinya yang tidak kencang, sungguh dia tidak layak berada di lapangan hijau. Bapak hanya bisa menendang dan berlari, dia tidak lihai kilikbola. 

Dalam permainan sepakbola kampung yang terkadang para pemainnya terkadang melebihi 11 orang per tim, bapak seringkali hanya sekedar peugeunap ngon. Jangan harap dia akan mampu berperan sangat besar membangun serangan. Bila bola berhasil ia dapatkan, dalam hitungan detik sudah berpindah tempat.

Tapi bapak adalah orang yang selalu diminta bermain. Mengapa? Karena larinya yang cepat dan tidak berlama-lama memegang bola. 

Oleh teman-temannya, bapak dikenal sebagai lelaki periang, pandai bercerita serta sangat gemar membaca koran. Sejak kecil ia sudah membaca koran. Bahkan ia kerapkali tertidur di bawah surat kabar yang sedang dibacanya sembari tiduran. 

Ingin kukusuri masa lalu bapak. Kujejali pinggiran sungai yang kian terlihat keropos ini. Tapi pikiranku tidak bisa berlama-lama menembus masa kecil lelaki yang sangat kuhormati itu. 

Apa yang dikatakan oleh Khalifa dua malam lalu, sangat menyita ruang di hatiku.

“Abang, Khalifa mohon maaf telah berbuat dosa. Tapi hingga saat ini aku belum mampu mencintai Bang Abdullah. Aku belum bisa. Bukan tidak pernah aku mencoba. Tapi tiap kali mata ini terpejam, selalu saja yang terlintas adalah bayang Khaidir, kekasih hatiku. Lelaki yang telah mencuri hatiku kala kami kuliah di Turki.”

Walau sudah kuprediksi ada yang salah dalam hubungan ini, tapi aku tetap seperti disambar petir. Aku terkejut luar biasa. Khalifa terisak. Ia sesenggukan. Kuperhatikan dengan jelas raut wajahnya itu. 

“Bila hanya persoalan seks, persoalan hubungan badan, hak Abang atas tubuhku. Silahkan  Abang minta kapan saja, aku tidak akan menolak. Tapi soal hati, jujur Bang. Aku belum bisa,” katanya sembari duduk di lantai dan memegangi lututku.

Kupegangi bahunya. Kududukkan dia di atas kursi. Hatiku hancur. Aku seperti ditikam berkali-kali, ulu hatiku sakit. Ingin kumenangis. Tapi aku kuatkan hati. Aku tidak boleh hanyut. 

“Bapak menghantarku hingga magister di Mesir, agar aku menjadi manusia seutuhnya. Apa yang Khalifa sampaikan, terus terang aku terluka. Tapi semuanya sudah terjadi. Aku tidak akan mencari siapa yang salah di antara kita. Pernikahan ini terjadi karena kita berdua sama-sama ingin menjaga hati orangtua kita masing-masing. 

Pernikahan antara kamu dan aku bukan berlandaskan cinta. Walau sebagai lelaki aku sudah jatuh cinta padamu, sejak kita ditunangkan. Aku menjalankan tanggungjawab yang sudah kuemban. Tapi aku takkan mungkin memaksa hatimu untuk segera jatuh cinta padaku. Apa yang kudengar malam ini, sesuatu yang menyakitkan. Aku terluka, aku kecewa. Tapi ini tentang perasaan. Terima kasih telah menyampaikan segenap isi hatiku,” kataku sembari duduk dan memegang tangannya.

Ia sejenak menatapku. Ia semakin sesenggukan.

“Bang, percayalah aku sudah berusaha untuk mencintaimu. Aku telah melakukannya dengan segenap upaya. Tapi aku kalah. Bayang Khaidir tak kunjung lekang di pelupuk mataku. Setiap engkau pulang, aku selalu berharap bahwa ini mimpi. Dalam tidurku selalu saja yang terlintas adalah dirinya,” kata Khalifa.

Aku mengangguk. Aku mencoba tersenyum. Kemudian memeluknya sejenak. Dia tidak melawan. Sejenak aku larut, perasaanku campur aduk. Tapi aku segera sadar bahwa Khalifa tidak mencintaiku. Hatiku sakit, walau tidak pula marah. Kulepaskan pelukan itu. 

“Baiklah, aku sudah mengetahui semuanya. Aku tidak akan menyentuhmu sampai kau benar-benar bisa melupakan Khaidir. Mungkin kau tak pernah bisa mencintaku sebagai seorang lelaki. Tapi, sebagai seorang suami, aku akan berusaha agar kau benar-benar jatuh cinta padaku. bila masa itu tiba, aku menggaransi kau akan tergila-gila padaku,”timpalku sembari memegang bahunya.

“Mulai malam ini anggap saja aku teman, tapi halal bagimu. Anggap saja kita sahabat tapi muhrimmu. Sebelum kau benar-benar menerima diriku dengan penuh cinta, aku tidak akan menyentuhmu, tanpa seizinmu. Aku tidak akan memaksa. Di luar sana, di hadapan ayah dan ibu, kita adalah sepasang suami istri yang berbahagia. Sikap kita lazimnya orang lain. Tapi di antara kita ada sekat yang akan kuhormati sampai kapanpun. Percayalah, aku tidak akan menyentuhmu, sebelum aku berhasil membuatmu jatuh cinta padaku.”

Ia mengangguk dan berterima kasih. 

“Semoga ini cepat berakhir,” katanya.

Mendengar kalimat itu, hatiku berbunga-bunga. Ada setangkup harapan yang tiba-tiba muncul. Akankah cinta itu hadir di hatinya, untukku? kapan? Oh! (Bersambung)

KOMENTAR FACEBOOK