Kisah Cinta Jokowi, Santri dan Ulama

Presiden RI Ir. Joko Widodo. (Ist)

ACEHTREND.COM, Jakarta- Walau sudah didengungkan sejak lama, tapi penetapan Hari Santri Nasional (HSN) sebagai salah satu hari libur Nasional barulah wujud di masa Ir. Joko Widodo menjadi Presiden RI. Lelaki kurus asal Solo itu adalah sosok pemimpin yang peduli pada Islam, khususnya ahlussunahwaljamaah. yang dianut oleh NU.

Suatu ketika, kala masih menjadi calon presiden pada periode pertama, Ir. Joko Widodo yang kala itu menghadiri haul pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari, kala ia dipersilahkan menyampaikan isi hatinya, ia pun mengutarakan komitmen mendukung upaya perjuangan para ulama dan santri untuk mewujudkan hari santri di Indonesia.

Kala itu, setelah menyampaikan komitmennya, ia pun turut menandatangani surat pernyataan mendukung penetapan 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional (HSN).

Demikianlah kesaksian pengasuh Pondok Pesantren Babussalam Malang, Ustad Agus Thoriq Darwis bin Ziyad, yang dikutip dari Men’sObsession, edisi Januari 2019.

Ustad Agus Thoriq menjelaskan, upaya mewujudkan lahirnya HSN di Indonesia sudah dilakukan sejak lama. Sejumlah ulama di tapal kuda Jawa Timur yaitu Pasuruan, Lumajang, Probolinggo dan Jember . Keluarga mantan Presiden RI KH Abdurahman Wahid pun dilibatkan. “Harapannya kala itu Gus Dur bisa menjadi tumpuan untuk mewujudkan 1 Muharram sebagai HSN. Namun takdir berkata lain, Gus Dur justru mangkat, sebelum misi itu tercapai.

Padahal ide besar itu sudah mendapatkan dukungan dari mayoritas ulama sepuh di Jawa Timur.

Upaya mewujudkan HSN sebagai salah satu hari penting di Indonesia tak juga surut. PBNU yang dipimpin KH Aqil Siradj, PDIP dan sejumlah pihak lainnya turut memberikan dukungan.

Puncaknya adalah ketika Ir. Joko Widodo dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia. Bukan lagi 1 Muharram, HSN digeser pada 22 Oktober. Mengapa?

1 Muharram adalah hari besar umat Islam di seluruh dunia, sebagai tahun baru dalam almanak Islam. Tentu, bila disandarkan pada tanggal tersebut, dengung HSN justru akan mengecil. Maka perlu dicarikan tanggal lainnya yang memiliki keterkaitan sejarah dengan perjuangan Indonesia.

Akhirnya, sebagai garis demarkasi kesepakatan, dipilihlah 22 Oktober, sebab pada tanggal tersebut pendiri NU KH Hasyim Asyari mengeluarkan resolusi jihad. PBNU yang dipimpin oleh KH Said Aqil Siradj pun sepakat.

Kemudian hasil tersebut dibawa ke pertemuan sejumlah ormas Islam. Pada pertemuan yang digelar di Hotel Salak, Bogoro, Rabu, 22 April 2015 dibahaslah secara lebih intens oleh sejumlah ormas yaitu Al-Irsyad, DDII, Persis, Muhammadiyah, NU dan juga MUI. ikut serta pula sejarahwan Islam Azyumardi Azra.

Hasil akhir dari perjuangan tersebut adalah, oleh Presiden Joko Widodo, kemudian menetapkan HSN pada setiap 22 Oktober, melalui Keppres Nomor 22 OTahun 2015, menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Santri, Penjaga Pancasila dan NKRI

Ahad malam, 21 Oktober 2018, mengenakan sarung, baju muslim putih dan dilapisi jas hitam serta peci, Presiden Joko Widodo berpidato di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Jawa Barat. Kala itu ia mengurai peran besar ulama dan santri dalam perjuangan bangsa Indonesia.

“Sejarah mencatat peran besar para ulama dan santri pada masa kemerdekaan. Menjaga Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika,” kata Predien H. Joko Widodo.

Presiden menuturkan, HSN merupakan penghormatan dan rasa terima kasih negara kepada para alim ulama, kyai, ajengan, dan para santri dan sleuruh komponen bangsa yang mengikuti teladan alim ulama, ajengan serta kyai.

Menurut Presiden Jokowi, Indonesia tidak bisa lepas dari ulama dan santri. Karena dua komponen ini menurut Presiden ikut menjaga keutuhan NKRI.

“Sejarah mencatat para santri telah mewaqafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan tersebut. Para santri melalui caranya masing-masing telah bergabung dengan seluruh elemen bangsa, melawan penjajah, menyusun kekuatan di daerah-daerah terpencil, mengatur strategi dan mengajarkan kesadaran tentang arti kemerdekaan,” kata Presiden di hadapan para ulama, santri dan tokoh-tokoh agama di Masjid Istiqlal Jakarta, Kamis (22/10/2015).

Disadur dari majalah Men’s Obsession, edisi Januari 2019.

KOMENTAR FACEBOOK