Menemukan Aceh Dalam Diri Nur Djuli

Penulis bersama Nur Djuli. (Foto: Mirza/aceHTrend)

Usianya boleh sudah senja. Tapi soal semangat, ia jauh mengungguli rata-rata anak muda Aceh. Di matanya selalu tersirat pesan bahwa siapapun bertanggungjawab untuk membangunkan kembali Aceh yang tak kunjung bangun setelah tidur panjang.

Bicara Nur Djuli adalah membahas tentang anak Aceh yang tidak kunjung berhenti belajar. Sejak kecil sudah terbiasa dengan berbagai konflik yang melanda Indonesia. Ia sempat bersentuhan dengan Jepang kala masih kecil. kemudian juga ikut menjadi saksi sejarah perlawanan Daoed Beureueh terhadap Jakarta dalam pemberontakan DI/TII. Bahkan ia pun akhirnya terjun sebagai salah seorang pejuang kemerdekaan Aceh dalam tubuh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dipimpin oleh Teungku Hasan Tiro.

Saya berkenalan secara langsung dengan tokoh perdamaian Aceh tersebut, kala pada tahun 2008, ia dan istrinya Shadia Marhaban, dengan grup Liga Inong Aceh (LiNA) menggelar sebuah diskusi di Universitas Almuslim. kala itu saya sebagai panitia penyelenggara.

Kesan saya kala itu, walaupun sebagai tokoh penting yang sudah diakui oleh dunia internasional, ia bisa berbaur dengan siapa saja di sana. Bahkan ia tidak mempermasalahkan kala dirinya tidak mendapatkan sambutan yang pantas dari akademisi di sana yang rata-rata sudah bergelar magister.

Hal paling terkesan bagi saya kala itu adalah, ia memilih duduk bersama mahasiswa sebagai penonton acara diskusi. Hanya berbicara sekali saja, karena diminta memberikan tanggapan.

Nur Djuli adalah GAM yang unik. Walaupun ikut serta dalam perjuangan Hasan Tiro, tapi dia tetap berstatus Warga Negara Indonesia dan sekaligus PNS di Kedutaan Prancis. “Tidak sulit untuk tetap menjadi WNI. Kalau urusan memperpanjang passport, itu soal gampang,” katanya suatu ketika, kala menceritakan bagaimana ia¬† mempertahankan status WNI-nya, sembari tetap bermukim di Malaysia.

Di Kedutaan Prancis, ia bukan sosok yang tidak penting. Lewat kemampuan komunikasinya, serta mampu berkomunikasi dengan beberapa bahasa dunia, Nur Djuli didapuk sebagai staf non diplomatik Departemen Pers dan Penerangan Kedubes Perancis di Malaysia. Bahkan atas jasanya itu, dia mendapatkan award “Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres” dari Presiden Prancis Jacques Lang. Anugerah itu atas jasanya membantu pengembangan bahasa Prancis di Malaysia.

Sebagai GAM, ia merupakan salah satu sosok yang membentuk citra GAM di mata dunia. Melalui berbagai propaganda yang ia tulis di media massa. Sebagai intelektual sekaligus sastrawan, tentu tidak sulit bagi putra Teungku Keuchik Brahim Djuli itu untuk membuat tulisan-tulisan agitasi dan sebagainya. Beberapa isu yang sempat hangat dibincangkan di Aceh kala konflik melanda, juga hasil propaganda Nur Djuli dan teman-temannya. Salah satunya adalah isu markas GAM di Rawa Cot Trieng, Aceh Utara, yang kemudian dikepung sekian lama oleh TNI.

Atas semua pengalaman masa kecil, hingga terwujudnya perdamaian Aceh, sudah ia tulis dalam buku memoar berjudul: The Long and Winding Road To Helsinki (Aceh Dalam perang dan Damai) yang diterbitkan oleh Kawat Publishing. Buku setebal 392 halaman itu serta berbahasa Indonesia, penuh dengan kisah-kisah menarik tentang Aceh dalam berbagai peristiwa.

***
Nur Djuli adalah orang Aceh modern. Itu hasil simpulan saya. Tapi ia Aceh modern yang tidak meninggalkan identitasnya sebagai Aceh yang murni. ia begitu mencintai tanah kelahirannya. Ia bahkan rela ke sana-kemari hanya demi Aceh. Bagi orang lain, seusia Nur Djuli, tentu sudah “parkir” dan bermain dengan cucu-cucunya. Tapi Nur tidak, ia tetap ada untuk Aceh.

Setiap kami berjumpa, bila boleh ditakar dengan persentase, bila ada 100 persen pembicaraan, 80 persen tentang masa depan Aceh. Hanya sedikit sekali ia bicara tentang dirinya.

Demikian pun ketika ia bertemu dengan kolega serta tokoh-tokoh penting lainnya. Yang selalu ia bicarakan adalah Aceh.

Bagi lelaki kelahiran 1 November 1940 itu, Aceh adalah kehormatan. Identitas dan juga rumah tempat berteduh. Untuk itu, Aceh harus dibangun.

Bagaimana Aceh harus dibangun? tentu dengan mempersiapkan generasi unggul, yang dimulai dari saat ini dan hasilnya akan dipetik di masa mendatang.

Nur adalah sosok “ayah” bagi Aceh. Di usia senjanya itu, ia masih terus bergelut memikirkan Aceh. Dari hal-hal kecil sampai hal-hal besar. Ia selalu membuka diri kepada siapa saja yang ingin berdiskusi tentang Aceh.

“Pintar saja tidak cukup. Jujur saja pun tak cukup. Untuk membangunkan Aceh dari tidur panjang, harus dikombinasikan antara pintar dan jujur,” itulah petuah Nur Djuli yang seringkali diulang.

***
Sebagai orang penting, Nur hidup sederhana di sebuah sudut Banda Aceh. Ia tinggal di sebuah rumah sederhana bersama istrinya Shadia Marhaban. Walau seatap mereka sering tak bersama. Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Pekerjaan mereka tidak jauh-jauh dari urusan penyelesaian konflik di berbagai wilayah konflik di dunia.

Bagi saya, Nur Djuli adalah rupa Aceh yang sebenarnya. Ia mewakili Aceh dalam wujud pekerja keras, rasional, pantang menyerah, memiliki semangat menolong, jujur, serta melindungi. Satu hal lagi yang paling kentara, ia tidak melupakan orang yang pernah menzaliminya, tapi ia tidak dendam. []

KOMENTAR FACEBOOK