Nasib Buruk Aksara Tionghoa di Indonesia

Oleh Ir. Azmi Abubakar Bintang*)

Sampai akhir 1950an, masih dapat dengan mudah kita temui papan nama sekolah, plang toko, nama rumah ibadah, sampai beragam media beraksara Tionghoa. Tapi, akibat kebijakan penguasa yang salah kaprah, aksara ini boleh dikatakan lenyap sama sekali dari pandangan mata, di seluruh Indonesia.

Tragis, padahal aksara Tionghoa lebih dulu kita kenal dibandingkan Latin, yang datangnya terkemudian, akibat dibawa serta oleh Belanda ke negeri jajahannya, Indonesia. Dan menurut pendapat beberapa ahli terkemuka di dunia, aksara Tionghoa justru lebih indah dari aksara latin.

Prof Dr Karlgren, ahli bahasa tionghoa terkenal dari Swedia, menyatakan aksara Tionghoa lebih indah dari aksara latin dan lainnya. Kalaupun huruf Tionghoa mau dibandingkan dengan satu nyonya cantik (…a fair beloved lady) maka aksara latin seperti “Babu yang berguna tapi jelek” (useful but unbeautiful menial)...Hal ini ditulis dalam bukunya Karlgren yang berjudul : Ordet och Pennan i Mittens Rike, Stockholm 1918 … terkemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh Oxford University Press dengan judul: Sound & Symbol in Chinese.

Jan Cox, seorang Pelukis Belgia terkenal, bukan hanya suka gunakan “bak” (tinta Tionghoa), tapi lukisan-lukisannya seperti kambing dan lainnya, banyak yang mirip huruf-huruf Tionghoa.

Schopenhauer, ahli pemikir Jerman terkemuka, banyak memperhatikan kesopanan dan kesenian Tionghoa, mengatakan bahwa huruf Tionghoa lebih logis dan langsung dari huruf alfabet (latin) yang hanya merupakan “tanda dari tanda” (Zeichen des Zeichen).

Freud yang termasyur, membandingkan huruf-huruf Tionghoa dengan “bahasa mimpi.

Schiller pernah megatakan bahwa ukiran-ukiran patung yang bagus dari bangsa Yunani, untuk orang-orang liar hanyalah merupakan batu-batu ungkul. Begitupun untuk orang yang kurang mengerti, aksara Tionghoa hanyalah dipandang sebagai kotoran yang harus dibersihkan. Barangkali, seperti itulah nasibnya aksara tersebut di Indonesia.

Belanda telah berhasil kita halau, tapi aksara latin yang dibawanya, tertinggal dan dipakai dengan ikhlas, oleh bangsa Indonesia, sedangkan aksara Tionghoa seperti ratu yang tersingkir dari singgasananya.

Tak Kenal Maka Tak Sayang
Salam Persaudaraan.

*)Penulis adalah owner Pustaka Tionghoa. Putra Aceh yang kini bermukim di Pulau Jawa.

Sumber:
Majalah Sin Tjun, 1960.
Koleksi Museum Pustaka Peranakan Tionghoa.

KOMENTAR FACEBOOK