Cegahlah Maksiat, Jangan Membiarkan Sembari Merekam

Oleh Ikramullah*)

“Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat” (HR. At Tirmidzi).

Aceh dan Indonesia, mungkin juga dunia dikagetkan dengan beredarnya video mesum sepasang remaja di atap mesjid di Saree, Aceh Besar. Video tersebut direkam oleh orang yang menguntit pasangan muda-mudi yang sedang dimabuk asmara itu.

Sebelum peristiwa itu, sudah terjadi kasus mesum di berbagai tempat di kalangan remaja, dewasa bahkan kalangan anak-anak. Kegagalan interaksi sesama lawan jenis menimbulkan kejadian fatal yaitu pertemuan kemaluan secara ilegal (zina). Para pelaku, melakukannya di tempat yang dianggap “aman” dari pandangan manusia.Pelaku hanya perlu tempat tertutup untuk berduan dan kemudian dibekap nafsu.

Untuk kasus di Saree yang terjadi pada Minggu (24/2/2019) pelaku melepaskan syahwatnya di atap mesjid. Masyarakat yang curiga dan menguntit mereka, kemudian merekamnya. Alih-alih sebagai bukti, video aib itu justru dishare ke media sosial. Dalam hitungan menit, Aceh kembali diperbincangkan secara nasional dan regional. Kali ini tentang sesuatu yang memalukan.

Sumpah serapah pun jutaan muncul di timeline media sosial. Video dibagikan tanpa kendali.

Pelaku yang kaget karena tertangkap basah, sempat dipukuli olah masyarakat dan langsung dibawa ke kantor polisi karena banyak orang telah memadati mesjid.

Tutuplah Aib Saudaramu

Semua orang sudah mengetahui peritiwa itu. Perekam mungkin mengira apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang benar. Tapi sesungguhnya itu suatu kekeliruan. Kekeliruan memahami tindakan yang tepat untuk menyebarkan “dakwah” dengan tujuan agar orang lain tidak mengulangi hal yang sama.

“Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu dunia, maka Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat” (HR. At Tirmidzi).

Hadist tersebut menerangkan pemahaman untuk tidak membuka aib orang lain.Salah satu keberhasilan pemikiran dan perilaku dalam menegakkan Islam memerlukan pemahaman yang sempurna tentang Islam. keadilan dalam memutuskan pencegahan pelanggaran syariat dengan amar makruf nahi mungkar dan qanun jinayah yang sudah berlaku di Aceh adalah suatu pilihan yang benar dalam hukum Islam.

Al –Quran Nur Karim menjelaskan cara yang kuat menjadikan seuatu perbuatan itu kuat.”Hai orang –orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan, seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al Hujaraat: 11) .

Dari banyaknya pertimbangan penegakkan syariat, bukan melarang orang lain dengan menunjukkan keburukan orang lain. Dakwah yang baik tidak dimulai dengan contoh yang buruk. Cara yang keliru tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik.

Salahkan Penyebar

Penyebaran video dan foto mesum atau pornografi melanggar Undang-Undang ITE atau pasal 27 ayat (1) pasal 4 UU Pornografi, dengan acaman pidana 6 tahun atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

Disebutkan bahwa salah satu perbuatan yang dilarang dalam penyebaran sebuah konten adalah penyebaran kontes yang bermuatan asusila.

Ini menjadi pencegahan bagi penyebar untuk berpikir langkah saat mendapat kontes pornografi atau aib orang lain.

Pilihan yang baik dalam sebuah pertimbangan benar benar harus dilakukan untuk tidak terjerumus oleh kelakuan yang tidak diinginkan. Maksud bernasehat ke orang lain menjadi petaka dan dosa ke diri sendiri.

Oleh karena itu, intreraksi bermasyarakat dan bermedia sosial berada di garis pencegahan dan perubahan tingkah laku bermasyarakat yang baik.

Islam hadir untuk memperbaiki yang salah dengan cara yang baik dan hukum hadir untuk menciptakan ketentraman dalam berkehidupan bermasyarakat.

mencegah kejahatan yang berada dalam garis hukum merupakan pemikiran dan perbuatan yang baik dengan sebuah bukti yang tepercaya dan saksi yang adil, hukum yang memutuskan seseorang itu bersalah dan dengan hukum permasalah itu selesai.

Hukum yang jelas yang diharapkan menjadi pertimbangan untuk tidak melakukan penyebaran vidio pornografi menjadi salah satu celah untuk perbaikan pemahaman dan pemikiran semua orang. Semua orang tidak mau kajadian tersebut dan semua orang takut terjerumus dalam kejadian tersebut.

Sebelum melakukan sesuatu memerlukan pertimbangan yang matang dan serius supaya menjadi keberhasilan yang baik dan bermanfaat dunia dan akhirat.

Sebagai kesimpulan, bila kita menemukan orang yang hendak melakukan kemungkaran, cegahkan mereka. Jangan biarkan mereka sempat melakukannya. Bila ada kesempatan untuk mencegah, jangan sembunyi sembari membiarkan dosa itu dilakukan dan kita merekamnya sebagai bukti. Sungguh kejahatan harus dicegah, bukan didokumentasikan.

*)Penulis adalah santri Dayah Babusalam Al-Aziziyah, Jeunib. Peserta pelatihan jurnalistik yang digelar Dinas Pendidikan Dayah Propinsi Aceh, 24-26 Januari 2019.

KOMENTAR FACEBOOK