Intimidasi & Fitnah Harus Dilawan

Mengapa demokrasi menjadi pilihan? Tentu karena di dalam demokrasi, kesetaraan, perbedaan, keragaman pandangan, kebebasan menentukan sikap,diberikan ruang dan haruslah dijunjung tinggi. Dalam demokrasi, praktik-praktik biadap seperti intimidasi dan ujaran kebencian serta fitnah, merupakan sesuatu yang tidak boleh dibiarkan tumbuh.

Banyak yang beranggapan bahwa di dalam demokrasi setiap orang boleh melakukan apapun. Bahwa kedaulatan di tangan rakyat dipahami sebagai kebebasan yang nirzona. Setiap individu boleh melakukan apapun sesuka hatinya.

Maka tidak heran bila banyak orang-orang yang pendek akalnya diperalat oleh kalangan tertentu, sebagai geulawa boh seutuy. Di Aceh, sebagai contoh, ada eks kombatan GAM yang dijadikan centeng politik oleh orang tertentu untuk melakukan serangkaian kegiatan intimidasi terhadap individu maupun kelompok tertentu yang ingin dijadikan target.

Tanpa sadar, beberapa eks kombatan itu mau dijadikan centeng, karena perlu uang dan juga butuh pengakuan sebagai gangster. Maka mereka pun mau melakukan apapun hanya demi mendapatkan dua hal tersebut. Mereka tak akan peduli dampaknya akan seperti apa, yang penting action.

Hal inilah yang membuat respek masyarakat terhadap eks kombatan yang demikian pelan-pelan luntur. Akhirnya, karena tidak tahan terus menerus diperlakukan tidak asyik, mereka pun melawan. Kala sudah demikian, marwah kombatan jadi rusak. Bagi masyarakat marwah mereka tak terlalu penting lagi, karena sikap yang otoriter tak selamanya bisa dipahami sebagai proses pemulihan jiwa dari kombatan ke sipil.

Demikian juga dengan perilaku orang-orang yang saban hari menyebarkan fitnah kepada orang lain baik di media sosial maupun di non daring. Mula-mula pihak yang difitnah melihat itu sebagai intermezzo saja, dengan alasan bisa jadi si penyebar fitnah tidak tahu apa-apa.

Langkah yang paling sering diambil adalah memberikan informasi pembanding, menegur langsung atau pula mengingatkan. Tapi rupanya si penyebar fitnah bukan tidak tahu apa-apa. Tapi memang menyebarkan kebohongan adalah bahagian dari job desk yang harus dilakukan. Sebagian yang lain karena kebencian tanpa alasan, sehingga menganggap bahwa menyebarkan hoax bahagian dari dakwah.

Orang-orang yang demikian tentulah tidak boleh dibiarkan. Mereka harus ditindak. Membiarkan kekejian mereka adalah kesalahan.

Tapi, para penjahat selalu punya narasi sendiri untuk membela perbuatan keji itu. Bila pihak yang terkena fitnah atau terkena intimidasi melakukan perlawanan melalui jalur hukum, maka para pelaku kejahatan dan supporternya akan bilang: Otoriter, busuk, hukum timpang, anti kritik! Dan lain sebagainya. Bahkan narasi agama pun tega dilumuri lendir fitnah hanya demi membenarkan kesalahan yang teramat keji itu.

***
Dalam demokrasi, pelanggaran hukum harus diselesaikan dengan penegakan hukum. Seseorang yang melakukan kesalahan –apalagi yang teramat keji–harus diadukan ke pihak penegak hukum, agar mereka bisa diproses. Itulah bentuk penghormatan terhadap demokrasi. Individu yang merasa dirugikan, diwajibkan menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan sengketa hukum dengan orang-orang yang membuat perkara dengannya.

Bukan tidak bisa, bukan tidak mampu, orang-orang yang diintimidasi, orang-orang yang difitnah, melakukan tindakan bar-bar. Mereka punya cukup kekuatan untuk memberikan pelajaran secara langsung kepada pelaku kekejian itu. Tapi mereka percaya bahwa tindakan bar-bar tidaklah menyelesaikan masalah. Bahkan akan memperlebar masalah dan semakin rumit.

Seharusnya, mereka yang memilih jalur hukum haruslah dihormati sebagai warga negara yang menjunjung tinggi hukum. Karena pilihan melaporkan pelaku intimidasi dan penyebar fitnah ke polisi, adalah tindakan paling manusiawi untuk menghindari pertumpahan darah.

Bilakah boleh memberi nasehat: diamnya orang-orang yang Anda zalimi, bukan karena mereka tidak mampu melawan. Bukan karena mereka lemah. Tapi mereka masih melihat Anda sebagai saudara. Mereka masih ingin melihat Anda berkumpul dengan keluarga. Mereka masih ingin melihat anak Anda tidak yatim. Mereka masih mencintai Anda.

Jangan merasa diri sudah sangat kuat. Jangan merasa diri sudah ditakuti. Karena sekali saja mereka marah, maka segala keangkuhan diri yang ada pada Anda akan sirna dengan sendirinya.

Janganlah menjadi kaum yang melampau batas. Janganlah jadi geulawa boh seutuy. Bagi beberapa teman-teman eks kombatan yang sampai sekarang masih salah jalan setelah damai, pulanglah ke korp Anda sebagai pejuang. Ketika ada yang diam kala Anda melakukan intimidasi, bukan karena mereka takut. Tapi mereka menghormati GAM sebagai pembela rakyat. Mereka menghormati korp Anda. Sadarilah itu, agar penghormatan itu abadi.

*)Kolom Jambo Muhajir diasuh oleh Muhajir Juli.

KOMENTAR FACEBOOK