Kado Terakhir Rina untuk Ayah Ibu yang Membanggakan

Orang tua Rina: Bukhari dan Nurbayani @aceHtrend/Taufan Mustafa

Video yang memperlihatkan ketegaran seorang ayah saat mengambil ijazah anaknya yang sudah tiada dalam prosesi wisuda di kampus UIN Ar-Raniry pada Rabu, 27 Februari 2019 menyisakan haru dan kesan yang membekas di ingatan banyak orang.

Pria tersebut bernama Bukhari, ayah kandung dari almarhumah Rina Muharami. Alumnus UIN Ar-Raniry Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Rina meninggal dunia pada 5 Februari 2019, sehari setelah menyelesaikan sidang skripsi pada 4 Februari 2019.

Sejatinya, pada Rabu, 27 Februari 2019 itu, Rina lah yang berada di sana. Memakai jubah hitam (toga) dengan topi lebar yang sangat khas. Merayakan kelulusannya sebagai seorang sarjana setelah sekian tahun berjuang sebagai mahasiswa. Namun, karena sang Khalik lebih dulu memanggilnya, posisi Rina pun digantingkan oleh sang ayah.

Kamis, 28 Februari 2019, aceHTrend bersama sejumlah awak media lainnya bertandang ke rumah almarhumah di Desa Cot Rumpun, Kecamatan Blangbintang, Aceh Besar. Rumah tersebut berada di belakang pondok pengajian dan ukurannya tidak terlalu besar. Keluarga Rina menempati rumah tersebut sejak 2008. Ayah dan ibunya, Bukhari dan dan Nurbayani, menyambut kedatangan kami dengan hangat.

Kami duduk di beranda rumah. Bercengkerama sambil menikmati suguhan kopi dan semilir angin siang yang sejuk. Bukhari menceritakan bagaimana awalnya ia dihubungi oleh teman Rina dan memintanya untuk mengambil sendiri ijazah anaknya. Kemudian ia dihubungi oleh salah satu dosen Rina untuk menghadiri prosesi wisuda dan datang lebih awal, karena tanpa undangan tidak dibolehkan masuk.

“Maka harus dijemput agar bisa masuk. Saat nama anak saya dipanggil, beberapa orang tua wali di sekitar terlihat ada yang menangis. Ketika dosen tersebut datang menuntun saya untuk ambil ijazah, saya tidak sanggup menahan sehingga terasa sangat sedih. Padahal saat melihat Rina meninggal saya masih sanggup menahan sedih,” ujarnya.

Bukhari saat mengambil ijazah Rina Muharami pada Rabu, 27 Februari 2019

Sebelumnya ia juga sempat berdiskusi dengan adiknya Rina, siapa yang akan naik ke panggung. Namun karena ia sudah hadir di sana, Bukhari pun menguatkan niat untuk mengambil sendiri ijazah putrinya.

“Yang pertama saya berniat mengambil ijazahnya, karena untuk kenangan. Ia sudah berbuat yang terbaik untuk kita, saya juga teringat telah menyekolahkan sampai ia berhasil wisuda, sehingga ia telah berusaha berbuat yang terbaik untuk ayah dan ibunya,” cerita Bukhari.

Rina merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Bukhari menyebutnya sebagai anak yang sangat penurut. Di luar kegiatan kuliah Rina mengajar mengaji di balai depan rumahnya. Ia juga sering memberikan les privat mengaji untuk beberapa keluarga.

“Dia itu kalau lagi jadwal kuliahnya tidak ada, bisa bantu mengajarkan mengaji di sini, untuk anak-anak, di bale depan rumah, kalau tidak bantu mengaji, bantu mamak di sawah, yang rutin mengaji sendiri di Dayah Latansa Mughat, ngajinya malam, tidak nginap,” jelas Bukhari.

Bukhari mengatakan, almarhumah Rina ingin memperdalam ilmu agama untuk sendiri, karena belum sanggup menyaingi adiknya, yang ilmu agamanya lebih tinggi, sehingga berniat mengimbangi adiknya yang fokus menuntut ilmu di pesantren.

“Kalau ilmu dunia adeknya tidak mau pikir, maka ingin terus mengaji di pesantren, meskipun begitu, Rina tetap terus mengaji,” kata Bukhari.

Rina, sambung ayahnya, tidak pernah memberi kesan yang tidak baik kepada orang tuanya. Selain penurut ia juga anak yang pintar dan pandai membaca perasaan orang lain.

“Suatu kali ia pernah berkata, ke mana pun ia pergi, untuk kerja, akan membawa serta mamaknya dan keluarganya,” sebut Bukhari.

Ia juga menyinggung perihal penyakit yang diderita putrinya. Berdasarkan diagnosa dokter, Rina diketahui menderita komplikasi tipes. Sebelumnya sempat diagnosa DBD dan gangguan lambung.

“Tipes yang berbaur dengan beban pikiran, lelah saat mempersiapkan ujian sidang, maka diseranglah ke kepala, kata dokter, makanya sempat koma selama tiga hari,” katanya.

Namun ada pernyataan Rina yang sangat membekas bagi keluarga yang ditinggalkan. Keluarga tersebut sudah merencanakan pernikahan adiknya pada pertengahan tahun nanti. Meskipun Rina sudah memiliki calon yang siap menantinya hingga selesai wisuda, tetapi belum ada rencana pernikahan. Hal itu sempat menjadi candaan di keluarga, Rina sempat mengatakan bila adiknya lebih dulu menikah, ia akan pergi ke Malaysia dan tidak akan pulang.

“Begitu kalimat terakhir yang melekat sekali, ‘Kalau kamu kawin, Dek, Kakak tidak mau lihat Dek.’ Jadi mau ke mana juga tanya adeknya, ‘Kaka mau pergi ke Malaysia dan tidak balek-balek lagi.’ Begitu candanya saat berkumpul di rumah, rupanya, itulah kesan terakhir yang sangat melekat. Padahal, kalau ia selesai kuliah, memang sudah saya niatkan langsung saya nikahkan,” kata Bukhari.

Ia juga menceritakan ada empat pria yang datang melamar Rina. Bahkan ada yang terlihat cocok, tetapi Rina selalu menjaga diri saat berhubungan dengan mereka. Ia tidak pernah mau berboncengan bila diajak bepergian, walaupun dengan mobil.

“Ada satu orang yang sudah terlihat cocok sama Rina, meskipun diajak keluar jalan-jalan Rina tidak pernah berboncengan dengan satu motor dengan calonnya, tetap jalan sendiri-sendiri, meskipun calon itu naik mobil, dan pernah diparkir di halaman pesantren,” cerita Bukhari mengenang masa hidup putrinya.

Kesan tentang Rina juga diceritakan oleh ibunya Nurbayani. Putrinya itu cerdas dan bisa menguasai bahasa Inggris dan Jepang. Gadis itu juga tidak pernah merepotkan orang tua. Misalnya, saat ia ingin punya ponsel pintar, Rina menabung dengan cara meminta kepada ibunya untuk menggarap sendiri separuh sawah mereka.

“Nanti hasil panennya semua untuk ia beli hape. Namun tetap ia sisakan untuk keperluan kuliah, meskipun kuliahnya dari beasiswa, termasuk laptop, ia gunakan punya adiknya, karena tidak ada yang pakai, daripada nganggur, mubazir,” cerita ibunya.[]

Hampir sebulan Rina pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Namun segala kebaikan dan kado terakhir berupa ijazah yang dititipkan untuk kedua orang tuanya akan membuatnya selalu abadi di hati mereka. Pun di hati orang-orang yang pernah mengenalnya.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK