Unsyiah Serius Kembangkan Inovasi Atsiri Nilam Aceh

ilustrasi atsiri nilam @atsirich.com

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Kepala Atsiri Research Center Unsyiah sekaligus Kepala Pusat Industri Kreatif Unsyiah, Syaifullah Muhammad, mengatakan, komoditas nilam Aceh memiliki prospek yang sangat bagus untuk dikembangkan karena memiliki kualitas yang tinggi. Kadar patchouli alkohol dalam nilam Aceh yang mencapai angka 40-50 persen membuat nilam Aceh mendapatkan standar Indikasi Geografis.

“Dalam nilam terdapat zat kimia yang mampu mengikat aroma menjadi long lasting, sehingga nilaim menjadi komoditas utama dalam membuat produk minyak wangi. Chanel (merk parfum asal Prancis) menggunakan bahan baku minyak atsiri nilam dari Aceh,” ujar Syaifullah Muhammad dalah Talkshow Digital Preneur “Bagaimana Kesiapan Pebisnis Aceh Menyambut Industri 4.0?” yang dibuat Dimila.co di Digital Innovation Lounge (DILo) Banda Aceh, Sabtu (2/3/2019).

Kondisi tersebut kata dia merupakan nilai kompetitif produk nilam Aceh yang bisa dikembangkan. Sehingga, nilam Aceh yang selama ini hampir tinggal nama bisa kembali dimaksimalkan budidayanya.

“Sekitar 80 persen dari minyak nilam kita bisa diekspor, sisanya bisa dibuat untuk produk turunan seperti sabun, parfum, lilin, dan lain-lain. Negara Prancis memastikan pasokan nilam dari Aceh terus terjagai. Artinya, bila kita punya produk berkualitas tinggi dan dikomparasi dengan sedikit inovasi, maka kita akan memiliki nilai produk yang paling unggul,” katanya.

Dengan menciptakan produk turunan atsiri nilam, tak hanya meningkatkan nilai ekonomis produk, tetapi juga bisa menciptakan banyak lapangan kerja dan semakin mempopulerkan nilam Aceh itu sendiri.

Syaifullah mengatakan, nilam bukanlah tanaman endemik Aceh, melainkan tanaman yang berasal dari Filipinan dan dibawa oleh Belanda ke Aceh. Namun, dibandingkan dengan budidaya nilam di beberapa wilayah lainnya di Indonesia, seperti Sulawesi, tanaman nilam berkualitas super justru dihasilkan di Aceh. Hal inilah yang membuat Unsyiah sangat bersemangat dan fokus berinovasi menciptakan produk turunan dari atsiri nilam melalui unit usaha yang dimiliki Unsyiah.

Sejak Unsyiah berstatus Badan Layanan Umum pada 2018, Unsyiah membentuk Pusat Unggulan Internasional yang memungkinkan memproduksi produk tertentu sebagai unit bisnis kampus. Dalam hal ini Unsyiah membuat terobosan melalui patchouli oil industry di Aceh. Aneka produk turunan atsiri nilam diproduksi seperti aroma terapi, freshcare, dan parfum.

“Produk-produk ini untuk memenuhi kebutuhan di Unsyiah saja tidak cukup. Pak Rektor setiap bepergian selalu mempromosikannya. Namun ada kelemahannya, karena kami tidak pintar bisnis makanya perlu berkolaborasi,” ujarnya.

Kolaborasi menurutnya merupakan salah satu strategi positif dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0 saat ini. Masing-masing pihak tidak bisa mengandalkan kekuatan tunggal dalam menjalankan roda usahanya. Dalam hal ini, elemen penting seperti perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat harus saling bekerja sama dan kompak.

Bila dikembangkan dengan serius kata Syaifullah, potensi nilam juga sangat menjanjikan untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.

“Dalam satu hektare bisa menghasilkan Rp100 juta dengan biaya operasional sekitar Rp30 juta. Artinya petani bisa mendapatkan margin laba sekitar Rp70 juta sekali panen. Panennya per delapan bulan, jadi dengan angka itu bila dibagi 12 bulan penghasilan per bulan yang didapatkan petani sangat lumayan,” katanya.[]

KOMENTAR FACEBOOK