Kedewasaan Kita pun Runtuh di Simpang Dua Jalur

Ibarat orang saling mencintai yang kemudian hubungan kandas di persimpangan, karena jodoh tak bertemali. Sumpah serapah dan saling menghujat adalah klimaks dari hubungan yang tak bertemu taut. Demikianlah umpama kedewasaan kita, yang runtuh menjadi kanak-kanak tak berpendidikan, kala berbeda pilihan politik.

Belasan tahun lalu, seorang guru agama bertanya kepada kami. Apa yang membedakan antara manusia dan hewan? Kami serempak menjawab: akal. Manusia memiliki akal, itulah mengapa manusia diberikan mandat sebagai khalifah. Tanpa akal, sesungguhnya manusia tidak lebih terhormat dari binatang. Karena selain akal, manusia dan hewan memiliki perilaku yang sama: makan, minum, boker, tidur, bangun, melakukan hubungan seks dan berketurunan. Yang kuat akan mendominasi yang lemah.

Selain akal, apalagi? Kami serempak menjawab: agama. Agama adalah wasit bagi manusia. Menjadi penjaga manusia yang kerap disebut insan.

Apa yang membuat manusia terpecah belah? Kami semua diam. Di usia yang masih sangat belia, kami tidak melihat adanya potensi untuk saling berantuk, karena kami telah memiliki akal dan agama. Dua instrumen penting agar disebut sebagai makhluk berperadaban.

Dunia kanak-kanak (remaja tanggung) adalah di mana manusia selalu berpikir ideal, tanpa sumbatan konflik serta tak dipengaruhi cara pandang. Dunia kanak-kanak kami, semuanya masih melihat bahwa keadilan adalah bagi sama rata dan sama rasa. Kiranya itu cukup untuk membedakan kami dengan hewan.

Guru agama tidak melanjutkan pertanyaan. Bel berbunyi, dan kami menghambur ke luar ruang kelas, untuk menyerbu kantin sekolah yang menjual mie caluk berformalin dan dijual dengan harga murah. Di usia remaja tanggung, makan dan minum di jam istirahat, dengan uang sesuai kemampuan ekonomi orangtua masing-masing, cukuplah sebagai pelepas hasrat akan isi perut.

Saya melihat bahwa tahapan awal manusia berpolitik adalah kala mulai menyukai lawan jenis. Siapapun, dengan rupa bagaimanapun, selalu punya mimpi mendapatkan pasangan (pacar) yang cantik/ganteng. Tentu definisinya akan berbeda antara satu dengan lainnya. Kalau kata orang-orang, kecantikan/kegantengan memiliki nilai yang relatif, sesuai sudut pandang mata dan tergantung pula pada ketukan hati.

Pertikaian mulai muncul kala yang ditaksir ternyata turut pula ditaksir oleh orang lain. Di sini, persaingan pun dimulai. Bila tak kunjung usai, maka kerap berakhir pada pertarungan jalanan. Nah, di sinilah politik keberpihakan dimulai. Atas nama solidaritas perkawanan, banyak orang yang kemudian terlibat pertikaian, tanpa melihat latar belakang masalah. Tak ada duduk bersama untuk mencari solusi. Yang terjadi adalah saling menghina yang kemudian berakhir tarung jalanan. Kebenaran dikooptasi oleh rasa perkawanan. Pertarungan tidak dibangun untuk membela kebenaran, tapi untuk menunjukkan solidaritas perkawanan.

***
Dalam beberapa diskusi, saya membuat sebuah hipotesa, bahwa untuk mengukur nilai perkawanan dan akal sehat, terjunlah dalam perbedaan. Dalam perbedaan apapun. Baik perbedaan organisasi, maupun perbedaan pilihan politik.

Hipotesa itu muncul karena hasil (meditasi spiritual, hehehe) pengayaan pengalaman selama 34 tahun hidup di dunia. Sebuah perkauman bisa retak hanya karena ada individu yang masuk organisasi Muhammadiyah dan yang lain bergabung ke Nahdlatul Ulama. Saling klaim paling benar adalah awal petaka itu. Orang Muhammadiyah melihat diri paling murni dalam beragama, orang NU pun demikian.

Demikian juga dalam pilihan politik. Perbedaan kecenderungan berpartai, perbedaan pilihan, kerap melahirkan jurang. Hal ini diperparah oleh penggunaan narasi agama yang dipergunakan dengan sangat bebas untuk membenarkan pilihan A dan menolak pilihan B. Pesan agama bahwa perbedaan adalah rahmat, diabaikan. Hujjah-hujjah kebencian, dengan kabar bohong sebagai landasan, telah mengubah dialektika politik menjadi perang urat syaraf yang justru meruntuhkan kedewasaan. Atas nama demokrasi dengan terjemahan yang telah berkali-kali diperkosa, menjadi alasan bahwa semua bebas berbicara. Tak peduli bahwa yang disampaikan adalah fitnah yang keci.

Dakwah-dakwah yang seharusnya menjadi ajang mengajak manusia berbuat baik, berubah menjadi ruang caci maki yang bila ditilik, telah jauh melenceng dari aturan agama. Oleh mereka yang memiliki kekuasaan atas mikrophone dan mimbar, para pendengar tabligh, dijejali ujaran kebencian, fitnah dan saling memusuhi.

Politik tidaklah busuk. Politik adalah jalan. Tapi oleh manusia yang haus akan kekuasaan, politik telah dibelokkan menjadi ajang untuk saling menghina. Politik elektoral pun kehilangan substansi. Setiap lima tahun sekali, kita tidak lagi berbicara gagasan membangun negeri, tapi bertukar menjadi ajang memupuk kebencian.

Apa yang terjadi saat ini, bukanlah sesuatu yang baru. Sejarah telah membuktikan bahwa tidak ada yang berubah dalam peradaban manusia. Bahwa perbedaan selalu saja melahirkan perpecahan. Dari zaman Nabi Adam, hingga saat ini, pertikaian selalu diawali oleh perbedaan tujuan.

Lalu, haruskah itu terus berlanjut? Tentu saja tidak. Semua orang ingin dihormati pilihannya. Semua orang selalu ingin dihargai kecenderungan hatinya. Tapi, semua itu hanya keinginan yang kerap tidak ingin dimanivestasikan dalam tindakan. Kala merasa kuat, maka manusia kerapkali selalu ingin mendominasi. Selalu ingin dihargai, selalu ingin diikuti. Selalu ingin dianggap paling benar. Dan sesuatu yang berbeda dianggap kesalahan, kekeliruan, ketidakbenaran, bahkan tak boleh dibiarkan hidup berdampingan.

Dalam kondisi ini, mungkin babi dan anjing akan duduk bersila sembari berucap: “Lihatlah manusia, mereka selalu menjadikan kita sebagai contoh yang buruk. Tapi nyatanya, mereka berperilaku lebih buruk dari kita.

Kedewasaan kita selalu saja runtuh kala dihadapkan pada pilihan yang berbeda.

Jambo Muhajir adalah kolom yang diasuh oleh Muhajir Juli, pemred aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK