Santri Dayah untuk Generasi Milenial

Oleh Anis Ilyana*)

Akhir-akhir ini kita disuguhkan informasi tentang anak yang durhaka kepada orangtua mereka. Mulai dari kekerasan psikologi yang dilakukan oleh anak terhadap ibu dan ayah mereka, hingga pembunuhan. Sungguh miris. Tapi ini adalah fakta yang tidak bisa ditolak. Sepanjang tahun 2018, 10 kasus pembacokan telah terjadi di Aceh. Mayoritas pelakunya adalah orang-orang yang seharusnya memberikan perlindungan.

Tentu selanjutnya akan timbul pertanyaan, mengapa hal ini bisa terjadi? Tentu sebahagian kita tidak akan habis pikir, di Aceh yang dikenal dengan daerah Serambi Mekkah, kemungkaran demikian adalah hal yang terjadi sehari-hari. Ada apa dengan Aceh?

Kemerosotan moral (degradasi ahklak) yang terjadi di tengah-tengah masyarakat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan agama. Tanpa agama manusia cenderung akan menjadi hewan buas. Hewan buas tentu akan melahirkan malapetaka di lingkungannya. Itulah yang terjadi di Aceh. Kabar tentang anak yang durhaka kepada kepada kedua orangtuanya, adalah kabar yang diwartakan setiap hari.

Sungguh miris memang. Tapi itulah, ini menjadi alat ukur bahwa orang Aceh sudah sedemikian jauh dari agama Islam. Mereka sudah tidak mampu lagi mendidik anak-anaknya dengan ajaran agama. Hal inilah yang kemudian melahirkan kemerosotan moral di kalangan generasi muda.

Santri adalah generasi muda yang beruntung. Karena dengan menjadi santri, berarti telah belajar menjadi manusia. Santri yang dididik dengan nilai agama, tentu memiliki keterampilan jiwa yang berbeda dengan mereka yang lahir dan bertumbuh besar dalam kondiai tak berkesempatan belajar agama.

Santri memiliki peran penting dalam menyebarkan ilmu agama. Bahkan memiliki potensi sebagai duta untuk membantu memperbaiki ahklak sebahagian kids zaman now, yang telah kadung rusak. Santri ibarat setitik cahaya dalam kegelapan. Pijar utama yang yang memiliki peran strategis sebagai duta moral di dalam masyarakat.

Sebagai generasi muda yang dididik dan ditempa di dayah, dalam pandangan saya, santri memiliki kekuatan besar untuk menjadi duta moral bagi generasi muda Islam abangan yang jumlahnya dominan di Aceh. Setidaknya ada 1101 dayah di Aceh yang terua menerus mencetak kader agamawan.

Harapan saya adalah, santri haruslah mampu menjadi duta moral bagi kalangan teman sepermainannya. Santri harus memiliki tanggung jawab untuk merangkul millenial abangan, agar menjadi generasi yang mencintai ilmu pengetahuan. Rangkulan ini ke depan tentu akan memiliki efek yang luar biasa, yaitu akan terbentuknya generasi Aceh yang religius serta bertanggungjawab.

Akhirnya, semoga saja ke depan santri mampu memgemban harapan ini.

*)Penulis adalah santri Dayah Nurul Jadid, Kabupaten Bireuen. Peserta training jurnalistik yang digelar Dinas Pendidikan Dayah Propinsi Aceh pada akhir Februari 2019.

KOMENTAR FACEBOOK