Agar Penganiayaan di Sekolah Tak Lagi Terulang

Oleh Muhammad Syawal Djamil*)

Refleksi Atas Kasus di SUPM Ladong, Aceh Besar.

Di tengah hiruk pikuk penyelenggaraan hajatan politik nasional (pilpres dan pileg), sebuah kejadian pilu nan memalukan terjadi di lingkungan pendidikan kita.

Adalah kasus penganiayaan yang berakhir pada hilangnya nyawa manusia baru-baru ini terjadi dan menghebohkan. Jika sebelumnya kasus memilukan itu terjadi antara siswa dengan guru, kali ini kasusnya agak berbeda. Karena pelaku dan korbannya ialah sama-sama berstatus siswa.

Kasus ini terjadi di Aceh, tepatnya di SUPM Ladong, Aceh Besar. Mengutip siaran dari salah satu media lokal Aceh, kasus penganiayaan yang berakhir dengan kematian seorang siswa tersebut bermula dari masalah utang piutang.

Besar kemungkinannya adalah adanya miskomunikasi antara korban yang berasal dari Medan dan pelaku yang berasal dari salah satu kabupaten di Aceh.

Bagi publik Aceh tentunya kasus ini sangat memilukan dan juga memalukan. Apalagi mendengar curhatan korban kepada ibunya sebelum ditemukan meninggal karena dibunuh oleh kakak kelasnya.

Korban pernah bercerita pada ibunya melalui salah satu aplikasi sosial media, bahwa antara siswa Aceh dengan siswa Medan sering ada gesekan. Dalam bahasa korban, Aceh dan Medan tidak bisa berkawan (baca SI, 05/03/2019). Padahal Aceh terkenal sebagai suku bangsa yang sangat memuliakan para tamunya.

Namun kali ini adanya kasus tersebut telah mencoreng citra Aceh yang baik Aceh itu.

Bagi semua pihak, tentunya adanya kasus ini harus dijadikan sebagai sebuah alarm (peringatan) dan juga pembelajaran. Bahwa penganiayaan yang dengan beraninya dilakukan oleh siswa merupakan puncak problema sosial yang berakar pada krisisnya moral siswa. Dan sudah sepatutnya dicari solusi dengan segera. Agar kasus yang sama tidak lagi berulang untuk kesekian kalinya.

Menurut hemat penulis terdapat (setidaknya) tiga cara –dari banyak cara– yang mesti dikedepankan dan diaplikasikan dalam aktivitas interaksi di lingkungan pendidikan guna menghindari terjadinya kasus yang serupa atau problema lainnya pada siswa.

Pertama; menanamkan nilai toleransi. Sangat mungkin kasus pembunuhan itu bermula dari sikap masing-masing siswa yang tidak saling menghargai sesama. Baik itu sikap dari siswa pendatang atau siswa yang berasal dari daerah setempat. Akibat dari tidak ada nilai toleransi tersebut muncullah sikap diskriminatif dari siswa terhadap siswa lainnya.

Sebagai daerah yang multikultural sikap toleransi sangatlah penting, karena ada banyak entitas masyarakat yang dulunya hidup aman dan tentram, namun berakhir dengan konflik berkepanjangan karena menipisnya nilai toleransi.

Oleh karenanya, sebagai penyelenggara pendidikan di level mana pun itu, sudah selayaknya mengajarkan dan diterapkannya kembali nilai toleransi kepada semua warga sekolahnya. Jika nilai toleransi sudah terpatri dengan baik pada tiap warga sekolah, maka sikap diskriminatif yang akan berujung pada perilaku negatif seperti penganiayaan dan pembunuhan itu dipastikan tidak akan terulang lagi.

Yang kedua; menguatkan pendidikan karakter. Sudah barang tentu beragam problema sosial yang menjangkiti siswa berangkat dari minusnya karakter baik yang dimiliki oleh siswa. Sebab itu, menjadi sangat penting pula untuk dilakukan dalam lingkungan pendidikan kita yaitu memulai lagi pembentukan karakter siswa, mulai dari spiritualnya, etika moralnya, serta sikap siswa dalam berperilaku dengan sesamanya.

Dan yang ketiga; memberi pemahaman atau sadar hukum. Ya, tidak hanya orang dewasa saja yang perlu penyadaran hukum. Siswa juga harus diberikan pemahaman bahwa jika mereka melakukan perbuatan menyimpang atau perbuatan melanggar hukum, semisal mencuri, membully, menganiaya apalagi membunuh, mereka akan mendapatkan dampaknya, baik itu dampak hukum maupun dampak sosialnya.

Nah, itulah tiga hal yang menurut penulis sangat perlu digalakkan di lingkungan pendidikan kita. Agar kasus serupa dan juga kasus-kasus lainnya tidak lagi kita temui. Namun demikian, harus juga dipahami bahwa selain tiga hal diatas yang tak kalah pentingnya dan mesti dikedepankan ialah peran orang tua dalam mendidik. Orang tua merupakan agen sosialiasi yang secara emosional paling dekat dengan anaknya, sehingga tidak boleh lepas tangan dalam hal mengajarkan nilai karakter bagi anaknya. Meskipun sudah diamanahkan kepada sekolah. Karena sekolah (diakui atau tidak) hanyalah sebuah perantara atau pergantian tangan dari tugas wajib orang tua terhadap anaknya. Nyanban!

*) Penulis bekerja sebagai guru di sekolah Sukma Bangsa Pidie

KOMENTAR FACEBOOK