Politico-tainment: Sebuah Hiburan Politik

Politik sejatinya adalah salah satu sarana atau alat untuk perubahan sosial melalui pengelolaan kekuasaan yang berpihak kepada siapa saja. Bagi para penguasa, idealnya politik menjadi salah satu cara untuk kemudian mengekspresikan ide, gagasan, dan model agar keadaan menjadi lebih baik daripada sebelumnya dengan cara-cara yang baik. Sementara itu, bagi masyarakat, politik hendaknya menjadi sarana menuangkan aspirasinya untuk memperbaiki kondisi. Namun pada kenyataannya, dan pada akhirnya, seringkali politik hanya menguntungkan salah satu pihak saja. Dan seringkali pula pihak yang kemudian mendapatkan keuntungan paling besar dari politik hanyalah para elit belaka.

Kenyataan yang bertolak belakang dan sudah berlangsung terus menerus ini memunculkan kondisi permanen yang tidak mengenakkan. Lebih daripada itu, politik kemudian menjadi begitu menakutkan bagi sebagian atau bahkan kebanyakan orang. Ia kemudian menjadi momok alias maop yang senantiasa berkonotasi negatif. Disisi lain, para elit dan pelaku politik berubah menjadi aktor alias pemeran sandiwara dalam panggung politik. Mereka fasih berbicara, wajahnya terlihat ramah dan menarik, dan kelihatan cukup siap untuk muncul dibawah naungan kilat dan blitz kamera.

Politico-tainment atau hiburan politik juga tidak jauh berbeda dengan panggung sandiwara pada umumnya. Tetap saja butuh aktor atau aktris, butuh panggung, butuh tata rias, butuh efek media (baik efek suara maupun efek gambar), butuh naskah, butuh audisi, pengambilan gambar, butuh editing. Pada tahap ini bagus atau tidaknya film, opera sabun, telenovela, sinetron, film pendek, film panjang atau sandiwara, sangatlah tergantung dari para penyimak, pemirsa dan penonton yang berbahagia maupun yang tidak berbahagia. Tidak lupa bahwa wajahnya dirias sedemikian rupa, meski ada kalanya banyak jerawat jika dilihat aslinya. Tapi dibawah cahaya terang lampu kamera, semua menjadi kinclong. Demikian juga dengan pesan yang disampaikan, semua kelihatan baik-baik saja. Sementara penonton terpana dengan rupa rupa wajah didepan kamera, baliho, dan spanduk, mereka terkadang lupa bahwa hiburan sifatnya singkat. Hiburan juga seringkali bukan cerminan dari realita, tapi rekontruksi, reproduksi dan framing dari kenyataan. Jelas, sesuai dengan keinginan sutradara atau juga kesepakatan mereka setelah meyakinkan para pemeran sandiwara.

Sering kita lihat di televisi, eufimisme, retorika dan hegemoni makna yang didukung statistik, kutipan orang terkenal maupun yang gak mau terkenal, tidak pernah kita cek lagi keabsahannya. “Harga BBM disesuaikan“ – tentu lebih enak didengar daripada “harga gula dinaikkan“. ”Pekerja seks komersial“ tentu lebih bersahabat kedengarannya dibandingkan “pelacur“. “Nilai investasi meningkat 80 persen tentu lebih afdal daripada mengatakan, terjadi “penurunan 10 persen” dengan alasan ambil sisi baiknya saja. Dan ini dilakukan oleh pemeran utama, bintang tamu atau bahkan figuran. Caranya bisa macam-macam. Ada yang menggunakan survey, ada yang memanfaatkan panggung debat kandidat, dan lebih banyak lagi yang menggunakan spanduk, baliho, stiker, baju kaus, suratkabar, televisi, portal online, sembako gratisan dan lain sebagainya. Pada intinya, sayalah yang terbaik, dan merekalah yang terburuk. Tonton dan pilihlah saya, hina dan jatuhkan mereka.

Yah, namanya juga artis dan aktor, mereka memerankan itu dengan sangat baik, meski kadang bagi para pendatang baru terkesan agak kikuk dan lugu. Tidak jarang juga para pendatang baru itu diaudisi, dipelonco, dan dibully oleh para seniornya di parpol sendiri maupun di parpol lain. Ada yang mempermalukan, ada yang menjerumuskan, ada juga – meski jumlahnya sedikit – yang mendidik dan mengkaderkan. Layaknya di pembagian peran, ada yang antagonis dan ada yang protagonis. Itulah pekerjaan mereka, dimana para pemeran hiburan politik ini terus-menerus dibingkai dalam sebuah kemasan produk yang jika diulang secara konsisten kebohongannya, maka ia akan menjadi sebuah fakta dan kebenaran yang harus diterima oleh publik.

Banyak hikmahnya memang jika kita menonton hiburan politik di musim kampanye seperti ini. Karena ketika musim kampanye tiba, banyak rejeki tak terduga menghampiri. Kenyataan (seolah-seolah) baik yang dipresentasikan oleh para aktor dan aktrisnya memang begitu menggoda dan begitu sayang untuk dilewatkan. Namun kita jangan sampai kehilangan kewarasan. Ingatlah ini hanya hiburan, jangan sampai terbawa ekstasi kedunia tidak nyata dengan segala make up yang menawan. Ingat juga tidak semua pemeran dalam hiburan politik itu jahat. Karena dalam hiburan

Kepingan kenyataan atau sering dikenal dengan fragmented reality inilah yang sekarang kita harus kritisi, analisa dan cerna baik-baik. Meski kita dijejali dengan sekian banyak kebohongan, nalar manusia tidak boleh menjadikan hiburan politik sebagai kenyataan politik. Sama sekali tidak boleh. Kemerdekaan berpikir dan rasionalitas yang kita hadapi memang akan selalu berhadapan dengan mereka yang selalu mengaku “saya adalah anda“, atau berjanji membawa anda ke surga, padahal kita masih didunia. Belum lagi ada kencedrungan hiburan politik sekarang mulai masuk keranah religi, yah minimal judulnya sajalah. Isinya nanti dulu. Jajahan eufimisme dan komersialisasi yang merupakan bentuk-bentuk turunan dari dunia hiburan tidak bisa semuanya ditelan bulat-bulat. Karena sekali lagi, hiburan politik itu (bisa jadi, atau kemungkinan besar) hanya sandiwara. Jadi tontonlah sandiwara yang baik, tirulah aktor aktris yang memberi teladan. Sebaliknya, tinggalkanlah mereka yang hanya menjadikan kita sebagai objek lima tahunan, sumber mencari daya dukung finansial. Karena kita yang akan menentukan kemudian apakah hiburan politik ini berkualitas atau tidak.

KOMENTAR FACEBOOK