Tu Haidar, Politisi yang Lahir dan Besar di Dayah

Bila tidak sedang menjalankan tugas sebagai wakil rakyat di dalam parlemen, ia akan menjadi guru bagi generasi muda di dalam ruang kelas di dayah yang ia kelola bersama sang ayahanda Teungku Muhammad Amin. Bila tak sedang bersarung, jarang yang tahu bahwa ia adalah gudangnya ilmu fiqh dan siyasah Islam.

Teungku Haidar M. Amin, lelaki kelahiran
Kuala Jeumpa 27 Desember 1974 adalah putra Tu Min Blang Blahdeh. Politikus Partai Nasional Aceh (PNA) tersebut kini duduk sebagai salah seorang anggota DPRK Bireuen. Walau acapkali berpenampilan sederhana, ia adalah gudangnya ilmu agama Islam. Tak ada surban di kepalanya, hanya kopiah yang paling sering ia kenakan bila sedang beraktivitas di luar rumah.

Tu Haidar adalah politikus yang paling jarang muncul di media. Dirinya juga jauh dari pemberitaan negatif serta jarang memberikan komentar di media massa.


Sebagai seorang ustad sekaligus politikus, Tu Haidar adalah sosok yang asyik diajak berdiskusi. Di sana pula kita bisa menemukan pikiran-pikiran bernasnya tentang politik.

Tu juga seorang politikus yang menyenangi anak muda yang memiliki visi masa depan. Maka tidak heran bila ia acap menyarankan anak-anak muda visioner untuk terjun ke dunia politik.

“Individu yang memiliki gagasan serta berpandangan jauh ke depan, serta tidak meninggalkan Islam sebagai landasan berpikir, harus terjun ke dunia politik,” kata Tu Haidar dalam beberapa kesempatan.

Sebagai orang yang lahir dan besar di dayah, Tu Haidar melihat bahwa kemajuan Aceh tidak bisa dilepaskan dari kemajuan dayah itu sendiri. Sebagai tempat membentuk kader Islam yang beriman, pendidikan agama dan pendidikan dunia haruslah seiring. Aceh tanpa dayah, seperti tanah subur tanpa tanaman. Hampa dan tak berguna.

“Aceh dan Islam seperti tubuh dan nyawa. Tidak bisa saling meninggalkan. Harus bersatu. Aceh yang berperadaban, adalah Aceh yang telah berhasil menyatukan antara pembangunan dunia dan pembangunan iman di dalam dada masyarakatnya,” kata Tu Haidar.

Hal itu pula yang mendorong Tu Haidar terjun ke politik praktis. Menurutnya sebagai orang yang mewakili entitas dayah, dirinya terpanggil untuk terjun mengurus politik secara lebih nyata. Karena partisipasi langsung merupakan manisvestasi dari siyasah yang ia pelajari kala masih nyantri.

“Politik adalah jalan mewujudkan cita-cita dan gagasan. Ini tempat untuk berjuang keras merealisasikan apa yang selama ini hanya menjadi wacana. Tentu tidak serta merta bisa diwujudkan dalam waktu singkat. Semua butuh waktu. Ada proses yang harus dilalui dengan sabar dan konsiten. Hal terpenting tentu kita tidak boleh kehilangan orientasi,” kata politikus muda tersebut.

Berikut profil singkat Tu Haidar:

Nama: Teungku Haidar bin Muhammad Amin

Alamat: jln. Banda aceh-medan, Dusun Mesjid, Gampong Kuala Jeumpa Kec. Jeumpa, Bireuen.

Ayah: Tgk. H. Muhammad Amin
Ibu: Mujahidat.

Pendikan:
SD Blang Bladeh Kec. Jeumpa 1986.
SMPN 3 bireuen 1990.
Dayah Darul Muarrif Lam Ateuk Aceh Besar 1992-2004.

Pengalaman:

Anggota MPU Bireuen 2007-2012 dan 2012-2014.

Orgnisasi: Huda, Perti dan Tastafi.

Isteri: nurhidayah sofyan.

Anak:
1. muhammad hasanuddin Mahmudy
2. Aqlima Haidar Mahmudy
3. Nurhadriah Haidar Mahmudy.

Jabatan saat ini:

-Pimpinan Dayah almadinatuddiniyah babussalam putri blang bladeh bireuen.

-Anggota DPRK Bireuen Fraksi PNA 2014-2019.
-Ketua Komisi E dprk bireuen 2017-2019
-Wasekjen DPP PNA.
-Sekretaris Huda Aceh 2018-2023.