Kesejahteraan bagi dokter muda Aceh, Perlukah?

Oleh: Habibi Hibatullah*

Dokter muda adalah sebutan khusus bagi mahasiswa kedokteran yang sedang menjalani kepaniteraan klinik (praktek) untuk dapat meraih gelar dokter. Perlu diketahui bahwa untuk menjadi dokter dibutuhkan waktu 6-7 tahun dengan hitungan masa study 3,5 -4 tahun di kampus dan 2 tahun menjalani kepaniteraan klinik (praktek).

Selama ini lazimnya di Indonesia khususnya Aceh, dokter muda harus menanggung “biaya hidupnya” selama menjalani kepaniteraan klinik dengan biaya sendiri. Baik biaya pendidikan (SPP, buku, dll) , biaya kos-kosan, serta biaya makan sehari-hari. Bayangkan, belajar dan bekerja tidak digaji, bahkan makanpun dengan duit sendiri. Sedangkan tanggung jawab sangat besar. Belajar serta merawat pasien dengan pendampingan dokter ahli (spesialis)

Perlu diingat, peran dokter muda terhadap terciptanya pelayanan kesehatan yang optimal sangat penting. Mengapa?

Seorang dokter muda, selain belajar, dia juga harus merawat pasien. Katakanlah dalam sehari pasien yang berobat ke rumah sakit umum berjumlah ratusan baik rawat inap maupun rawat jalan. Dalam satu minggu, seorang dokter muda bisa 3 kali jaga malam dan harus ke rumah sakit dari pagi (bisa jadi sebelum shubuh) dan pulang sore bahkan malam hari tergantung tugas di Rumah sakit. Bayangkan, selama 2 tahun di Rumah Sakit seorang dokter muda harus menanggung ke tiga hal dari permasalahan diatas ; Spp, kos-kosan bahkan makan sehari-hari.

Seorang dokter selalu dituntut untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Sedangkan selama menjalani pendidikan, seorang dokter tidak mendapatkan perhatian yang layak. Pemerintah harus memikirkan cara terbaik untuk mengatasi permasalahan ini. Setidaknya, Rumah Sakit Pendidikan yang “menampung” para “dokter muda” harus menanggung biaya makan para dokter muda ini.

Pernah suatu waktu saya mendengar curhatan kawan seorang dokter muda. “Saya betul-betul kehabisan uang, orangtua saya terpaksa menjual tanah warisan karena harus membiayai pendidikan saya”

Bagaimana caranya mengatasi permasalahan ini?
dengan dana otsus yang melimpah, pemerintah aceh harus dermawan dengan memplot anggaran agar dokter muda mendapatkan gaji atau setidaknya biaya “makan” bagi dokter muda ini sehingga harapannya dapat meringakan beban ekonomi para dokter muda.

Semoga dengan kepedulian pemerintah ini, Dokter Aceh di masa yang akan datang semakin baik melayani masyarakat Aceh karena mengingat “Saya dulu waktu praktek, makan dan minum dengan uang rakyat Aceh”

*Habibi Hibatullah, kelahiran Beureunuen 24 tahun silam, Sekjen GERIKSA (Gerakan Peduli Kesehatan Aceh)

KOMENTAR FACEBOOK