Kopi Gayo Yang Menjanjikan

“Kopi bagi masyarakat Gayo adalah “Tudung Payung,” penopang utama perekonomian. Sebagian besar penduduk Gayo adalah petani, meskipun mereka ada yang menjadi pegawai negeri Sipil dan swasta, tetapi tetap menggenapi hidup dari hasil perkebunan kopi. Tanah Gayo adalah penghasil kopi jenis Arabika terbesar di Indonesia dengan produksi rata-rata 60 ribu ton lebih pertahun dari areal seluas 70 ribu hektar lebih. Arabika Gayo telah tersohor di berbagai belahan dunia, terutama Amerika dan Eropa.”

Petikan tulisan diatas merupakan sambutan Nova Iriansyah, ketika masih menjadi anggota DPR-RI, pada buku kumpulan puisi “Secangkir Kopi” tahun 2013. Sambutan itu mempertegas apabila “Kopi” di Gayo sangat penting, karena selain nilainya juga menjadi salah satu tanaman unggulan yang dimiliki Aceh, sehingga Nova Iriansyah, kini menjabat Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, terus mendorong kopi Arabika Gayo mendapat pasar maksimal di seluruh dunia, selain dapat menjadi usaha baru bagi generasi muda di Aceh, juga di Indonesia.

“Potensi kopi Gayo harus benar-benar dimanfaatkan untuk kemaslahatan masyarakat. Ekonomi kopi Gayo harus bangkit bukan saja di tanah Gayo, melainkan juga di luar daerah, seperti Jakarta,” kata Plt Gubernur Nova Iriansyah di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Keinginan Nova sangat tepat mengingat Kopi Arabika Gayo mendapat tempat khusus, baik aroma dan cita rasa khas yang membedakannya derngan kopi dari belahan dunia manapun, dan tentu, yang lebih penting di Gayo berkebun Kopi sudah menjadi tradisi sehingga kondisinya terawat dan produksi kopi secara kualitas dan kuantitas tetap terjaga. Catatan pengamat kopi dan pelaku ekonomi Muhammad Syukri menyebut, Aceh Tengah adalah salah satu pengekspor kopi arabika terbesar terutama ke Amerika Serikat yang mencapai 3,15 juta Kilogram dari 3,42 juta Kilogram total ekspor sepanjang Januari hingga Juni 2014 silam, namun kini terus meningkat.

Sehingga, melihat geliat Kopi sangat tajam, pemerintah Aceh mengambil langkah dengan membentuk kawasan ekonomi khusus Gayo-Alas untuk mengembangkan perekonomian berbasis kopi, industri kreatif, dan pariwisata.

“Jadikan kopi sebagai bagian integrated tourism, dengan menggabungkannya bersama industri kreatif. Ini devisa negara yang paling efektif dan ramah lingkungan, itu adalah pariwisata,” pinta Nova.

Kopi Gayo, menurut Nova, bisa dikelola dengan prespektif budaya, ekonomi kreatif, pariwisata dan pendidikan. Secara geografis, kawasan dataran tinggi Gayo juga mendukung, dengan udara yang sejuk dan pemandangan Danau Lut Tawar seluas 5.472 hektare, akan membuat wisatawan betah.

“Pengembangan kopi ini tidak merepotkan pemerintah, perbankan ikut mendukung sinergi ini,” ujar Nova.

Geliat ekonomi kopi saat ini memang tidak tak terhentikan, apalagi gaya hidup dan keseharian generasi milenial ikut bicara trendi kopi. Bahkan kerap melakukan ngopi bareng di cafe atau coffee shop, lalu kongkow-kongkow sambil ngutak-atik smartphone. Tren ini diyakini sebagai salah satu pendorong konsumsi kopi terus melejit dari tahun ke tahun.

“Konsumsi kopi dunia meningkat cukup tajam, rata-rata 1,7 kg per kapita per tahun. Begitu pula konsumsi kopi di Indonesia, meningkat rata-rata lebih dari 7 persen per tahun,” kata Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif Bekraf, Poppy Savitri seperti dikutip Tribunnewsdotcom tahun lalu.

Peluang inilah yang dimaksud Nova Iriansyah sebagai geliat ekonomi kopi yang menyentuh langsung untuk kemaslahatan masyarakat, untuk itu anak-anak muda harus tekun berusaha dan bekerja, sebab saat ini dunia usaha menjadi trendi hebat dikalangan generasi muda.

Saat ini, seperti dilansir Badan Pusat Statistik, produk Kopi Gayo, semakin diminati, yang terlihat dari peningkatan ekspor sebesar 85,71 persen pada semester I 2018 dibanding periode yang sama tahun 2017.

Kepala Badan Pusat Statistik Aceh, Wahyudin, mengatakan terjadi pertambahan nilai sekitar 15 juta dolar AS lebih dari satu komoditas ekspor itu, melalui pelabuhan di luar Aceh.

“Semester I 2017 tercatat 17,5 juta dolar AS, sedangkan di semester I tahun 2018 32,5 juta dolar AS. Sementara nilai ekspor kopi melalui pelabuhan di Aceh sendiri hingga semester I 2018 baru 252 dolar AS,” katanya.

Dikatannya, kopi yang masuk ke dalam kelompok komoditas non-migas bersama teh, dan rempah-rempah, diekspor melalui Pelabuhan Belawan di Sumatera Utara.[]

KOMENTAR FACEBOOK