Pendidikan Karakter, Dongeng, hingga Literasi

Ilustrasi ibu yang sedang mendongeng

Oleh Rizki Yulita*

MESTINYA, aktivitas mendongeng bagi masyarakat Aceh adalah sebuah budaya yang mengeratkan hubungan ibu dengan anak, nenek dengan cucu, makcik dengan keponakan, dan seterusnya. Meskipun hubungan tersebut sudah erat, dengan kebiasaan mendongeng, keeratan yang sudah ada menjadi semakin erat.

Bukan hanya mengeratkan hubungan yang tua dengan yang muda atau si kecil, kebiasaan mendongeng dalam masyarakat Aceh dulu kala adalah sebuah budaya, sebuah kearifan, sekaligus sebuah bentuk pendidikan atau pengajaran. Hal ini karena dalam dongeng yang disampaikan orang Aceh kepada anak, cucu, dan keponakan tersebut mengandung nilai-nilai karakter yang kuat.

Dongeng yang disampaikan kepada anak, cucu, atau kepokan tersebut biasanya senantiasa disisipi dengan pesan yang kuat pada akhir cerita. Hal ini tidak lain sebagai penguatan karakter bagi si buah hati. Meskipun terkadang dongeng yang dibawakan seorang nenek saat mengantarkan cucunya tidur adalah sebuah dongeng binatang, tetap ada pesan penguatan karakter yang dapat dijadikan edukasi bagi sang cucu. Apalagi, jika pengantar tidur tersebut bukan sekadar cerita dongeng, tetapi kisah legenda atau hikayat.

Dalam masyarakat Aceh masa lalu, dongeng tidak hanya dibawakan untuk mengantarkan tidur seorang anak. Dongeng juga menjadi sebuah kebiasaan mengisi waktu yang kosong. Tak urung seorang nenek mengumpulkan cucunya di siang hari lalu menyampaikan sebuah kisah. Di sisi lain, tradisi bercerita ini mulai dijadikan sebagai sebuah hiburan. Begitulah masyarakat Aceh bersikap terhadap kisah-kisah yang tidak semua kisah tersebut adalah dongeng meskipun kebiasaan menyampaikan kisah itu diistilahkan dengan mendongeng.

Dalam masyarakat Aceh sebenarnya ada banyak istilah yang dipakai dalam menyampaikan sejumah kisah tadi. Mulai istilah sederhana meukisah sampai dengan istilah meuhikayat. Namun, semua istilah tersebut mengacu pada pengertian mendongeng dalam bahasa Indonesia, meskipun tidak semua kisah yang disampaikan adalah dongeng.

Baik kisah yang berupa dongeng (fiksi murni) maupun kisah berupa legenda dan hikayat, senantiasa nilai karakter tersemat. Oleh karena itu, kebiasaan mendongeng sebenarnya bukan sekadar pengantar tidur dan pengisi waktu kosong, melainkan bentuk pengajaran dan pendidikan karakter berkearifan lokal yang sudah dimiliki masyarakat Aceh sejak dulu. Tentu saja, di belahan dunia lain ada kebiasaan mendongeng. Hal ini tidak lain karena pada masa lalu, mendongeng atau bercerita merupakan sebuah metode pendidikan dalam keluarga.

Sejalan dengan perubahan waktu dan kecanggihan zaman, kebiasaan mendongeng perlahan hilang. Walaupun belum sampai punah, kebiasaan mendongeng ini hampir tidak didapati lagi di Aceh dan mungkin juga demikian di daerah lain. Kebiasaan mendongeng dalam kehidupan masyarakat pada akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan dengan masa sekarang. Padahal, jika dilihat dari sisi efektivitas, mendongeng ini bisa dilakukan di setiap waktu, pagi hingga malam.

Di sekolah PAUD dan TK, misalnya, ada waktu tertentu dengan diambil oleh guru untuk mengajarkan karakter anak-anak didik melalui dongeng. Di sekolah dasar hingga menengah juga demikian. Pada waktu malam juga demikian, seorang nenek atau ibu, atau makcik atau siapa pun dalam keluarga, bisa mengumpulkan anak-anak lalu menyampaikan pengajaran karakter melalui sejumlah kisah. Tidak mesti di saat mau tidur, mengumpulkan setelah salat Isya atau waktu tertentu juga memungkinkan. Pada akirnya, jika kebiasaan ini dapat dilakukan, mendongeng bukan sekadar memberikan pendidikan karakter bagi anak-anak, tetapi mendekatkan hubungan yang sudah dekat, mengeratkan silaturahmi antara yang muda dengan yang tua, si kecil dengan si dewasa.

Seto Mulyadi, seorang pendongeng sekaligus psikolog anak mengatakan bahwa mendongeng merupakan jembatan komunikasi antara orang tua dan anak sejak dini. Interaksi antara orang tua dan anaknya ketika mendongeng sangat memengaruhi pembentukan karakter anak menjelang dewasa. Selain itu para ahli pun menyarankan agar orang tua membiasakan mendongeng kepada anak-anak untuk mengurangi pengaruh buruk dari media dan alat permainan modern.

Masalahnya adalah keterampilan mendongeng sudah mulai luntur dalam masyarakat Aceh. Tidak semua nenek, pun ibu atau makcik zaman sekarang mahir berkisah. Ibu-ibu dan makcik-makcik milenial zaman now juga mulai terbiasa dengan smartphone mereka. Terkadang, waktu untuk memegang handphone lebih banyak dibanding waktu bersama anak dan keponakan. Hal ini juga menjadi salah satu penyebab kebiasaan mendongeng perlahan menghilang.

Untuk itu, diperlukan upaya lain yang dapat dilakukan sang ibu atau makcik, termasuk pula kaum bapak. Salah satu upaya itu adalah menuliskan ulang kembali cerita-cerita yang pernah mereka dengar pada orang tua-tua zaman dulu. Meskipun belum mampu menerbitkan dalam bentuk buku, sejumlah kisah yang dituliskan tersebut bisa dicetak biasa, lalu diberikan kepada anak cucu sebagai bahan bacaan. Hal ini tentunya hanya bermanfaat bagi anak-anak yang sudah bisa membaca.

Akan lebih menarik memang jika kisah-kisah tersebut diterbitkan dalam bentuk buku dan ada ilustrasinya. Bagi anak-anak PAUD dan TK, kesenangan melihat gambar akan membawa mereka untuk membaca keterangan gambar. Berikutnya diperlukan ajakan dari guru dan orang tua untuk membaca bukan hanya keterangan gambar, tetapi juga kisah yang ada dalam buku tersebut.

Kisah yang sudah diterbitkan dalam bentuk tulisan memiliki kekuatan tersendiri. Jika dongeng yang disampaikan melalui oral terbatas pendengar, kisah yang disampaikan melalui tulisan tentu akan mudah sampai kepada semua lapisan masyarakat pembaca. Pada akhirnya, penyampaian pendidikan karakter melalui dongeng bukan sekadar kebiasaan oral, tetapi menjadi budaya membaca.

Artinya, kisah-kisah lama seperti Banta Baransyah, Banta Sedang, Amat Mude, dan semuanya perlu ditulis ulang. Hal ini bukan hanya berguna bagi si anak, tetapi juga bagi orang tua milenial yang belum pernah mendengar kisah-kisah tersebut. Ketika ada yang sudah menuliskan kisah-kisah itu, tentunya penyebaran informasi karakter di dalamnya akan diketahui juga para orang tua milenial. Dengan demikian, kebiasaan mendongeng bisa diselaraskan dengan kebutuhan dan situasi zaman sekarang, yang menuliskan kisah-kisah tersebut.

Demikian pula dengan kisah-kisah kepahlawanan dan kerajaan. Ada banyak kisah di Aceh ini terkait kepahlawanan dan kerajaan. Di dalam kisahnya, ada banyak nilai karakter yang dapat dipetik. Namun, ada banyak pula masyarakat Aceh zaman sekarang tidak mengetahui sama sekali kisah tersebut. Di sinilah peran menulis menjadi penting seiring dengan peran mendongeng.

Jika dua hal ini dihidupkan di Aceh, yakni mendongeng dan menuliskan ulang kembali kisah tersebut, pengajaran karakter bagi generasi Aceh menjadi semakin kuat. Penyampaian nilai karakter melalui kisah lebih mudah diterima dibanding melalui ceramah dan nasihat langsung. Selain itu, dengan menuliskan ulang kembali sejumlah kisah tersebut, Aceh sudah menghidupkan budaya literasi yang pada konteks lain mendukung program Aceh Carong Pemerintahan Aceh. Untuk itu, dalam upaya menggalakkan penulisan ulang kembali kisah-kisah masa lalu ini diperlukan dukungan penuh dari Pemerintah Aceh.

*Ibu rumah tangga, penulis cerita anak Gerakan Literasi Nasional (GLN)

KOMENTAR FACEBOOK