Aceh, Hoaks dan Safari Politik Irwansyah

Awal Maret 2019, cuaca sangat panas. Sepanjang perjalanan dari Bireuen ke Aceh Tengah, Bener Meriah, kemudian melintas Aceh Utara menuju Aceh Timur, Langsa dan Aceh Tamiang,debu beterbangan di jalan. Spanduk-spanduk caleg bertebaran di sepanjang jalan. Foto para kandidat dari berbagai partai politik menyapa pengguna jalan dengan senyum teramat indah. Di baliho, mereka semua menjanjikan harapan perubahan. Persepsi politik yang mereka usung, rata-rata beranjak dari keresahan. Petahana legislatif juga demikian. Entah apa yang sudah mereka lakukan kala sudah duduk? Mengapa masih menjual keresahan? Saya simpulkan, inilah politik, memframing keresahan demi menuai dukungan. Prestasi? Ah sudahlah.

Bersama wartawan senior Ali Raban yang berpengalaman sangat banyak kala meliput konflik, gempa dan tsunami di Aceh, juga Direktur Komunikasi TKD KIK Aceh, perjalanan yang seharusnya membosankan, menjadi sesuatu yang asyik. Ali Raban, walau sudah sangat senior di dunia liput meliput, tapi pandai membawa diri dalam pergaulan. Apalagi, dia sangat tahu tempat singgah yang menyediakan makanan yang membuat lidah seakan dimanja. Mulai dari si kameng, udang, kepiting, kerang, ikan seumilang dan lain sebagainya.

***

Pilpres 2019 telah menyita demikian besar perhatian publik. Apalagi sejak 2014 hoaks (kabar fitnah) benar-benar tumbuh subur untuk menjatuhkan citra Joko Widodo selaku petahana. Mulai dari orang awam, akademisi, hingga agamawan, terpapar dengan sangat serius. Ibarat kanker, namimah terhadap Joko Widodo sudah stadium lanjut.

Kabar bohong berupa Jokowi PKI, anti Islam, pelaku kriminalisasi ulama, antek aseng, antek asing, menjadi tema diskusi tiap kali pembicaraan dimulai. Beberapa politikus di DPRA pun menambah daftar para penyebar kabar bohong lewat status facebook dan share link website tidak terverifikasi. Narasi-narasi agama oleh ustad dadakan, khawarij, dll, menjadi hujjah utama yang dijadikan rujukan. Duh, betapa kebohongan telah menjalar hingga ke elemen paling kecil di Aceh.

Orang Aceh yang dikenal dengan ketaatannya dan fanatiknya kepada Islam, terlihat benar-benar telanjang sebagai komunitas bangsa yang berislam tapi tidak menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Caci maki bahkan ditujukan kepada para ulama yang dinilai pro 01. Bahkan ada fitnah bahwa seluruh ulama Nahdlatul Ulama yang memihak Jokowi, telah disuap dengan harta dan dikelompokkan sebagai ulama hubbud dunya. NU, sebagai ormas Islam yang bermazhab Syafii, ikut dicitrakan buruk. Bahkan saya menangkap kesan dari beberapa orang yang saya wawancarai secara informal, mereka ingin NU tidak ada lagi, karena dianggap sebagai organisasi yang menjual agama untuk kepentingan perut para ulamanya.

***

Isu tentang Aceh benar-benar tidak lagi dibahas. Semua mendompleng populer pada isu pilpres.

Wacana Aceh harus dibawa kemana, tidak lagi mengisi ruang diskusi. Orang-orang sudah membicarakan sesuatu yang tidak mereka ketahui. Sesuatu yang serupa hantu kojet, serupa kisah hantu blawu dan burong tujoh. Ketakutan merayap sampai ke debu, alam imaji mereka terperangkap pada sesuatu yang terlalu dipaksakan untuk diyakini.

Saya kebetulan sempat berdiskusi dengan beberapa orang yang telah mengimani hoaks itu sebagai kebenaran. Diskusi yang tidak berimbang. Karena apa yang disampaikan itu berhasil saya patahkan. Bahkan kala saya meminta bukti, mereka tidak bisa menjawab. Ujung-ujungnya yang dijawab adalah “Silaturahmi nomor 1, presiden nomor ….” Saya tentu tertawa geli. Apalagi beberapa di antaranya adalah individu yang menghafal ayat dan hadist. Sungguh inilah yang disebut dalam Quran bahwa di akhir zaman banyak manusia yang menghafal Quran, tapi sebatas kerongkongan. Buktinya? Mulut mereka selalu menebar fitnah, tanpa melakukan tabayyun.

***
Kesalahan terbesar bagi kubu 01, adalah terlambat mengklarifikasi hoaks. Partai pengusung di 2014 pun tidak berjalan kala fitnah semakin gencar ditujukan kepada Joko Widodo. Bahkan banyak caleg dari partai pengusung yang tidak berani memasang foto paslon 01 di baliho mereka. Bagi publik, seakan-akan segala fitnah yang ditujukan kepada 01, benar adanya.

Inilah PR besar yang harus dituntaskan oleh Tim Kampanye Daerah Koalisi Indonesia Kerja (TKD KIK) Propinsi Aceh yang dipimpin oleh Teungku Irwansyah, bersama beberapa organ pemenangan yang dibentuk kemudian secara mandiri seperti Sekber Jokowi Ma’ruf Amin Propinsi Aceh, KAJAK, Komunitas Akar Rumput, Brigade 01, Reliji dan berbagai organ lainnya.

Saya mengikuti safari politik TKD KIK Aceh sejak Jumat (8/3/2019) kala rombongan Hasto Kristyanto beranjangsana ke Bireuen. Di sana, di depan 1300 peserta yang hadir di Contana Cafe, Hasto,Irwansyah dan beberapa orator lainnya silih berganti menyampaikan orasi. Maria Karsia caleg DPR RI dapil Aceh II yang diusung PDIP, juga politikus muda PNA Suhaimi Hamid beserta Brigade 01 harus bekerja keras. Antusiasme warga terlihat ssngat luar biasa. Apalagi pada acara itu dihadiri langsung oleh ulama kharismatik Aceh Waled Nuruzzahri Yahya (Waled Nu). Sang ulama memang secara tersirat sudah menunjukkan dukungannya kepada 01. Ia beberapa kali datang ke Sekber Pemenangan Jokowi -Ma’ruf Amin, yang didirikan oleh Partai NasDem dengan kolaborasi dengan individu Partai Aceh. Kala pulang dari acara di Bireuen, Waled Nu juga membawa serta sekarung baju kampanye 01.

Usai di Bireuen, rombongan menuju Aceh Tengah. Di sana ratusan orang juga berkumpul di GOR Takengon. Mereka siap memenangkan Jokowi-Ma’ruf.

Sebelum saya mengikuti rombongan, TKD dan Hasto sudah bersafari ke Pantai Barat Aceh. Mereka bergerak ke Aceh Jaya, Abdya, dan Aceh Tenggara. Dari kabar yang saya dapatkan, di sana tim juga disambut dengan sangat menggembirakan.

***
Setelah dari Benua Raja di Tamiang, Minggu siang (9/3/2019) dengan acara yang dihadiri ratusan tim pemenangan,TKD Aceh menuju Langsa. Di sana, di aula sebuah hotel yang cukup besar Ustad Usman Saragih dan Teungku Mukhtar S.Pd.I, pada Minggu malam memberikan testimoni tentang akhlak Jokowi dan keberpihakannya kepada Islam.

Senin hingga Selasa malam TKD Aceh terjun ke Aceh Timur. Dari semua tempat yang didatangi oleh Irwansyah, semuanya menggembirakan. Bahkan di Keude Geurubak, Gampong Jalan Dua, Aceh Timur, saya mendapatkan kabar, andaikan yang datang bukan Irwansyah, maka kejadiannya akan lain. Mereka tidak anti kepada Jokowi, tapi anti kepada beberapa orang yang mereka anggap telah tidak jujur. Itu disampaikan oleh eks kombatan GAM yang duduk di bawah pohon kakao.

Keude Geurubak adalah kawasan basis gerilyawan GAM di masa konflik. Pembangunan di sana masih minim. Kekecewaan terlihat jelas di sana. Andaikan tanpa Dana Desa, mungkin wilayah itu semakin terlihat dilupakan.

Di semua tempat yang didatangi Irwansyah, ia selalu menjelaskan tentang perhatian besar Jokowi untuk Aceh. Juga menyampaikan sejumlah klarifikasi tentang hoaks yang menimpa Jokowi.

Di Gampong Cot Keh, Kecamatan Peureulak, Selasa (12/3/2019) Sekretaris TKK KIK Langsa, Fakrurrazi, Lc, alumnus Universitas Al Azhar, Cairo, mengatakan secara mayoritas alumni Al Azhar di Indonesia memberikan dukungan kepada 01. Bahkan jauh sebelum Tuan Guru Bajang (TGB) mengundurkan diri dari Demokrat, Ketua IKAT Nasional itu komit mendukung Jokowi.

“Islam ahlussunnah waljamaah hanya bisa diselamatkan melalui Jokowi. Jokowi jelas berpihak pada Islam yang damai, dan tegas terhadap ormas Islam radikal. TGB mendukung Jokowi atas alasan agama,” ujar Fakrurrazi.

Pada kesempatan serupa Irwansyah juga menyampaikan keberpihakan Jokowi kepada Aceh dan Islam.
***

Tiap kali kunjungan itu, saya selalu duduk tidak tetap. Selalu berpindah-pindah. Samar-samar saya mendengar bila warga berceloteh: “Oh begitu rupanya. Gawat kali rupanya.” Apalagi kala beberapa agamawan dan tokoh lokal turut memberikan testimoni.

Terlepas ini adalah kontestasi politik lima tahunan, saya mencatat bila kali ini fitnah antar sesama anak bangsa, sangat luar biasa.

Tentu ini juga PR besar bagi Irwansyah dan tim pemenangan lainnya. Waktu semakin dekat, tapi belum terlambat untuk hadir ke tengah-tengah masyarakat. Tim harus menyampaikan hal yang benar, agar masyarakat tidak semakin tenggelam dalam fitnah.

Kepada saya Irwansyah mengatakan, melihat antusiasme warga yang hadir tiap acara deklarasi, menunjukkan trend positif. Masyarakat ingin mendengarkan hal yang sebenarnya. “Tak ada racun yang tidak memiliki penawar,” kata Irwansyah.

Ada hal yang menarik bagi saya menyimak sambutan eks kombatan GAM terhadap mantan jubir Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat itu. Rasa persaudaraan antar eks kombatan terlihat sangat kental. Tidak ada yang mencibir lelaki yang ber ibu asal Aceh Tamiang itu. Bahkan mereka terlihat akrab dengan Irwansyah. “Puhaba Bang?” Itulah sapaan mereka kepada bekas senior gerilyawan GAM itu.

Hal lainnya, saya menilai langkah Irwansyah memilih menjadi Ketua TKD Aceh, merupakan sesuatu yang tidak populer. Ia dicaci di sana sini. Tapi dengan santai Irwansyah menjawab. “Kalau mencari aman jangan berpolitik. Apalagi yang saya perjuangkan bukan orang yang salah. Jokowi adalah orang baik. Beliau sangat peduli kepada Aceh. Jokowi ingin Aceh maju dan rakyat Aceh sejahtera. Itu bukan janji kosong. Tapi sudah dibuktikan. 14 PSN dengan total 80 triliun mengalir ke Aceh, di luar dana otonomi khusus. Apa itu belum cukup sebagai bukti?”

Irwansyah mengaku ingin melihat Aceh maju. Itulah mengapa dulunya ia ikut berjuang bersama GAM. “Kini peluang itu ada. Jokowi serius membangun Aceh. Saya harus memberikan dukungan. Ini bukan untuk saya, tapi untuk Aceh.”

KOMENTAR FACEBOOK