Ada Apa Dengan Sikundo

Bocah warga Sikundo sedang bermain di atas sampan milik ayahnya. (Foto : Irwan Saputra)

Oleh : Fauzan Azima*

Pada masa konflik Aceh, tepatnya pada tahun 2002, terjadi kontak tembak antara pasukan GAM dan TNI di Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat.

Khawatir menjadi sasaran kedua belah pihak yang sedang berperang, masyarakat Sikundo meninggalkan Desa tersebut, dan baru kembali setelah damai Aceh, pada tahun 2005.

Bagi pasukan GAM Wilayah Meulaboh Raya, kawasan Hutan Sikundo adalah tempat strategis untuk bergrilya. Pertama mudah mendapatkan logistik dan jika terjadi serangan mendadak mudah mundur ke arah Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya yang jarak tempuh dengan berjalan kaki sekitar delapan jam.

Bisa dibayangkan bagaimana lebatnya tutupan hutan sebelum HPH PT. RGM (Raja Garuda Mas) melakukan penebangan meliputi Aceh Barat sampai ke Nagan Raya.

Fakta sejarah, alasan itu pula bagi Cut Nyak Dien menjadikan kawasan Blang Cik, yaitu daerah persawahan dan perkebunan masyarakat Sikundo pada waktu itu.

Begitu lama Cut Nyak Dien dan pasukannya berada di kawasan Desa Sikundo sampai anak sulung beliau, Teuku Raja Batak wafat dan dimakamkan di sana.

Gunung Batee Puteh merupakan gerbang ke dimensi dunia lain yakni alam Manusia Bunian Kebenaran (MBK). Mereka hidup layaknya manusia di alam kita, bahkan mereka juga berperang melawan Manusia Bunian Limunan (MBL) yang ingkar kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Bahkan alat-alat perang mereka jauh lebih canggih daripada persenjataan di alam kita.

Lembah Gunung Batee Puteh mengalir Sungai Krueng Meureubo yang hulunya merupakan Sungai Arul Badak, Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah yang banyak mengandung bahan tambang emas, sehingga janda-janda menjadikan mendulang emas sebagai mata pencaharian mereka di Desa Sikundo.

Kini masyarakat Desa Sikundo yang berjumlah 39 KK, masuk dalam kategori Komunitas Adat Tertinggal (KAT) di bawah binaan Pemerintah Aceh lewat Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana Alam (BPBA Aceh) untuk mengkoordinasikan Pembangunan di sana.

Sebagai kritisi, bahwa Desa Sikundo adalah “Basis GAM” karenanya bupati yang terpilih adalah referesentasi GAM, sudah selayaknya memperhatikan dengan intens agar tidak menjadi preseden buruk bagi perjuangan.[]

(Meulaboh, 14 Maret 2019)

*Fauzan Azima adalah Mantan Panglima GAM Wilayah Linge

KOMENTAR FACEBOOK