Politikus Rakyat yang Berasal Dari Rakyat Jelata

Sulaiman Abda adalah salah satu politikus Aceh yang paling dekat dengan konstituennya. Dari banyak testimoni yang diberikan publik, ia masuk salah politikus yang dibicarakan tentang kinerja positifnya oleh rakyat.

15 tahun menjadi wakil rakyat mewakili dapil 1 Aceh yaitu Aceh Besar, Banda Aceh dan Kota Sabang. Sepanjang riwayat pengabdiannya kepada rakyat, ia nyaris tanpa cacat dengan konstituen. Di sisi lain, kehadirannya di DPRA turut dirasakan oleh masyarakat Aceh di luar dapil Basajan. “Dum ho na Bang Leman,” demikianlah kesaksian beberapa orang, kepada aceHTrend dalam beberapa kesempatan.

Sulaiman Abda bukanlah politikus instan. Ia membangun karir politik dari jenjang paling rendah. Di Golkar, ia menempuh jenjang dari organisasi sayap partai, baru kemudian bergabung dengan Golkar sebagai induk politiknya.

Dalam perjalananya sebagai wakil rakyat, ada beberapa orang yang melakapinya sebagai politisi tunjuk-tunjuk jalan rusak. Sulaiman Abda tertawa kala mendengar itu. Ia tidak membantah. Hanya menjawab “Kesimpulan orang terhadap yang kita lakukan, tentu tergantung dari sudut pandang. Tak perlu dilayani,” katanya pada suatu kesempatan medio akhir 2018.

Saya hanya tersenyum kala mendengar jawaban itu. Saya kemudian teringat moment kala beberapa kali diminta untuk mendampingi Sulaiman Abda turun ke daerah-daerah. Aksi tunjuk-tunjuk jalan itu berbuah hasil. Jalan rusak diperbaiki oleh pemerintah. Walaupun tidak semuanya quick response. “Ada yang bisa ditangani dengan uang kecil, ada yang harus masuk perencanaan,” katanya kala itu.

Sulaiman Abda dekat dengan siapapun. Dia politikus yang pandai membawa diri. Dia dekat dengan ulama, akademisi kampus, dekat pula dengan polisi dan tentara serta dekat dengan jelata.

Kelebihan lainnya dari politikus senior di Golkar Aceh tersebut adalah tentang kemampuannya merajut silaturahmi. Bahkan terkadang dalam sehari ia bisa menghadiri acara di lima sampai enam tempat. Mulai dari kenduri perkawinan, seunujoh, maulid dan silaturahmi lainnya. Dalam beberapa kesempatan, saya sebagai pendamping, merasa kewalahan dan lelah luar biasa.

“Silaturahmi adalah kunci persaudaraan. Kala seseorang memutuskan mengundang kita, berarti mereka berharap yang diundang untuk datang. Menjaga hati tuan rumah adalah ibadah,” katanya di kesempatan yang lain.

Kenduri dan Cinta

Kala almarhumah Bunda Hausmini –panggilan akrab istri Sulaiman Abda– masih ada, kediaman pribadi mereka di Lingke, sangatlah ramai. Tamu yang datang, tidak semuanya bertujuan bertemu mantan Ketua Golkar Aceh itu. Tapi seringkali ingin bertemu Bunda.

“Kadang, mangat tapeugah haba ngon Bunda. Kareuna Bunda mandum geutem deungo tanyoe. Meunyo Bapak brat that sibok. Kadang jula malam baro na di rumoh,” kata beberapa orang, dengan redaksi berbeda.

Ya, Bunda Mini memang perempuan yang luar biasa. Walau berasal dari keluarga berada, tapi sangat sederhana. Mampu mengimbangi langkah politik sang suami. Ia kerap menjadi Sulaiman Abda kedua, bila sang suami berhalangan menghadiri kenduri, Bunda Mini yang datang. Khas dari almarhumah adalah mampu hadir sebagai keluarga dekat, dengan siapapun.

Hausmini bagi Sulaiman Abda adalah permata. Ia bukan sekedar istri, tapi juga teman diskusi dan partner kerja politik. Banyak yang bilang bahwa mereka seperti pinang dibelah dua dalam hal semangat saling mendukung. Maka tidak heran, Hausmini tetap mendampingi Sulaiman Abda sampai ke pelosok kampung. Kala berkunjung ke lapangan, Hausmini pun bisa segera dekat dengan ibu-ibu di akar rumput. Hausmini tak segan memeluk dan mencium emak-emak yang berkeringat dan berlumpur bajunya di sawah.

Hal itu pula yang membuat rumah mereka tak pernah sepi dari kunjungan. Rumah itu pun kerapkali menggelar kenduri. Kata orang-orang:khauri politik. Ya, Sulaiman Abda adalah politisi yang seringkali berkenduri di kediamannya.

Dari sisi spritual, Sulaiman Abda berasal dari keluarga religius. Ia pun sembari sekolah, tetap mondok di dayah di kampungnya di Teupin Raya, Pidie. Saya sempat berbincang-bincang dengan teman-teman Sulaiman kala kecil. Di mata mereka, Leman adalah teman yang tidak lupa dari mana ia berasal.

Soal shalat, walau ini sangat pribadi, tapi saya adalah saksinya. Sulaiman Abda adalah sosok yang religius. Di rumah peristirahatannya di Tibang, ia membangun mushalla yang diberinama Mushalla Hausmini. Sebagai monumen mengenang sang tercinta. Mushalla itu digunakan olehnya untuk shalat dhuna dan salat wajib. Bila ia ada di sana, shalat wajib tetap dilakukan secara berjamaah. Sulaiman kerap menjadi imam. Bacaan Qurannya bagus. Bahkan religiusnya itu ditularkan kepada anak-anaknya:Riki, Mirza, Haiqal dan Kemal.

Baru-baru ini saya melihat semakin banyak proposal pembangunan mesjid, mushlla, dayah dll yang masuk kepadanya. Saya sempat bertanya “Ayah, sanggup Ayah penuhi semuanya?”

Sembari tersenyum ia menjawab : “Itu bukan uang saya. Itu uang rakyat yang dititipkan negara melalui saya. Saya tentu akan memperjuangkannya. Kalaulah tak mampu dipenuhi secara full, minimal para pemohon tidak kecewa. Mereka datang kepada saya karena percaya saya mau memperjuangkannya. Kepercayaan itu tidak boleh saya sia-siakan,” jawabnya.

Setelah 15 tahun menjadi wakil rakyat di DPRA, kini Sulaiman Abda bermaksud naik tangga. Ia maju ke DPR RI Dapil Aceh 1. Nomor urutnya 4 Partai Golkar.

“Bismillah saja. Semoga masyarakat mempercayakan saya sebagai wakilnya di Senayan. Tugas saya berusaha, terpilih tidak terpilih, itu hak masyarakat,” imbuhnya.

Di masyarakat, kehadiran Sulaiman Abda dalam bursa DPR RI, disambut antusias. Sulaiman Abda dinilai layak naik kelas. “Pak Leman jai but ngon haba. Male tanyoe meunyo hana tadukong gobnyan.” Ujar beberapa orang dengan kalimat yang variatif.

KOMENTAR FACEBOOK