Santri Sebagai Penerus Syiar

Miksalmina Budiman. (Koleksi pribadi)

Oleh Miksalmina Budiman*)

Derasnya arus zaman adalah kekhawatiran yang sulit untuk dihindarkan. Suka atau tidak, gelombang itu akan menerpa kita. Bilapun ada peluang untuk berkelit, hanya sedikit saja. Untuk itu, mempersiapkan diri menghadapi gelombang itu, merupakan langkah yang paling ideal dilakukan.

Kehidupan yang hari ini kita lalui, kelak akan kita titipkan kepada generasi selanjutnya. Tidak ada siapapun di antara kita yang mampu abadi di dunia yang fana ini. Manusia akan terus berganti, hidup dan mati adalah siklus yang berpula bundar.

Timbul satu pertanyaan. Bilakah esok kita pulang ke alam barzah, akankah generasi penerus siap sedia menggantikan? Akankah mereka mampu menghadapi laju gelombang dunia yang kian liar? Ataukah akan tersapu menjadi buih?

Dalam perjalanan waktu, indatu kita telah meninggalkan sebuah pusaka yang tidak ternilai. Pusaka itu adalah dayah, institusi pendidikan agama yang dibangun dengan tujuan untuk membentuk manusia Islam yang mampu menghadapi perubahan zaman.

Dayah adalah pendidikan agama yang mendidik anak bangsa di semua zaman. Para penuntut ilmu itu disebut santri–dalam bahasa Sangsekerta– atau aneuk mit beut dalam bahasa Aceh. Dayah, dengan para santrinya, sejak dahulu sudah menujukkan eksistensi yang tiada tara, penjaga benteng iman, sekaligus penjaga garis demarkasi bangsa ini.

Santri adalah serum tambahan dalam mengawal setiap langkah pembangunan. Sebagai bahagian dari pelajar, mereka dibina dan diajarkan demi menguasai bidang agama, yang kelak diharapkan menjaga moral bangsa, sekaligus contoh teladan.

Ibarat jembatan, santri adalah penghubung antara generasi muda dan tua. Ibarat tiang, santri adalah penyangga sebuah bangunan yang bernama negara bangsa. Ibarat payung, santri adalah gagang yang menjadi tempat disangkutnya kain peneduh.

Para ulama, cendekia Islam akan berpulang pada waktunya. Santri yang dididik dan dibesarkan dengan nilai-nilai Islam adalah penerus mereka. santri adalah modal bangsa ini.

Tentu rasa syukur tiada tara pantas kita sampaikan, bahwa dengan adanya dayah–dengan segala kekurangan dan kelebihannya– telah memberikan sumbangsih besar bagi bangsa ini. Santri yang kelak akan menjadi siapa saja di masa depan, adalah sumbangsih itu. Karena santrilah yang kelak menjadi pilar penentu Islam akan berjaya atau tidak di negeri ini.

Santri adalah penerus syiar, pelanjut panji Islam, pelaksana dakwah Rasulullah, dan pelanjut cahaya iman di dalam Islam bagi peradaban bangsa.

*)Penulis adalah santri dan tenaga pembantu pada Dayah Insafuddin, Banda Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK