Tidak Ada Perokok di Tempat Umum di AS

Atikah Nafisah @pribadi

Oleh Atikah Nafisah*

Saya adalah siswi MA Negri Insan Cendekia Aceh Timur yang menerima beasiswa penuh program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat selama kurang lebih 11 bulan. Saya tinggal bersama host family (keluarga angkat) di Waynesboro, Virginia, Amerika Serikat. Saat ini hampir memasuki bulan kedua saya berada di AS, tentu banyak sekali pengalaman baru yang saya dapatkan. Banyak juga pengalaman yang ingin saya bagikan kepada seluruh keluarga, guru, teman-teman dan masyarakat Indonesia yang mungkin dapat berguna bagi kita nantinya.

Salah satu pengalaman yang unik yang pernah saya alami ialah saya tidak pernah melihat orang merokok atau asap rokok serta rokok di tempat umum. Saya mencoba bertanya dan melakukan wawancara kepada beberapa teman-teman dan orang lain yang saya temui di AS. Saya menemukan fakta yang menarik dari hasil wawancara tersebut, yaitu mereka sadar akan bahaya dari rokok baik untuk diri sendiri dan juga orang-orang yang berada di sekitar mereka sehingga banyak dari masyarakat disini memilih untuk tidak atau berhenti merokok. Dari hasil penelitian yang saya baca, hal menarik lainnya adalah semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat di AS semakin rendah persentase perokok. Persentase perokok sarjana lebih rendah dari pada nonsarjana. Hal tersebut dikarenakan semakin banyak mereka mengetahui bahaya rokok semakin kuat alasan mereka untuk tidak merokok atau meninggalkan rokok.

Di Amerika Serikat terdapat peraturan yang mengatur tentang rokok yaitu masyarakat AS dapat merokok bila berumur 18 tahun ke atas dan juga untuk membeli rokok mereka harus menunjukan kartu identitas yang menunjukan bahwa mereka berumur 18 tahun. Hal tersebut bertujuan untuk mencegah anak-anak dan remaja di bawah umur untuk merokok dan juga menghilangkan kebiasaan merokok di kalangan usia muda. Di sini juga ada larangan untuk merokok di tempat umum seperti restaurant, sekolah, hotel dan berbagai tempat umum lainnya. Hal tersebut dikarenakan agar tidak adanya perokok pasif yang menerima efek dari perokok aktif. Masyarakat AS hanya diperbolehkan merokok di tempat privasi seperti rumah dan sebagainya.

Sebagian besar hal yang menyebabkan jumlah perokok di AS terus berkurang adalah kesadaran dari para perokok itu sendiri dan juga beberapa tindakan pemerintah yang membuat aturan tegas tentang rokok. Sehingga setiap tahunnya jumlah perokok di AS terus berkurang. Beberapa faktor lainnya adalah pemasangan iklan yang menyeramkan tentang bahaya rokok yang membuat masyarakat AS sadar bahwa rokok sangat berbahaya bagi kesehatan. Kemudian pajak dari rokok yang membuat masyarakat merasa dirugikan. Juga yang tak kalah penting adalah larangan merokok itu sendiri yang dipatuhi oleh masyarakat AS.

Amerika Serikat hampir saja mendapat cap negara bebas asap rokok. Saya dapat merasakannya karena selama saya berada di sini saya dapat menghirup udara segar bebas asap rokok. Ketika saya mengunjungi tempat umum seperti halte bus, restaurant, dan hotel saya dapat menghirup udara segar. Banyak pengalaman baru yang saya dapatkan  selama saya di sini yang ingin saya bagikan atau ceritakan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Pengalaman hidup sebagai minoritas, pengalaman hidup bersama keluarga baru, pengalaman tentang sekolah, dan juga pengalaman beradaptasi di negeri Paman Sam.  Dan juga tentang kondisi alam atausuasana kehidupan di sana.

Bagi pelajar di Aceh yang tertarik untuk mengikuti program ini, saat ini pendaftaran beasiswa KL-YES sudah dibuka dan dapat langsung mendaftar di website seleksi.bina-antarbudaya.or.id. Pendaftaran tidak dipungut biaya sama sekali dan akan ditutup pada tanggal 31 Maret 2019.[]

*Siswi MA Negeri Insan Cendekia Aceh Timur sedang mengikuti Program Pertukaran Kennedy Lugar Youth Exchange and Study (KL-YES) / Bina Antarbudaya melapor dari Virginia, Amerika Serikat.

KOMENTAR FACEBOOK