Guruku Bukan Google

Gamal Faraby.

Oleh Gamal Faraby*)

Abad 21, teknologi informasi dan komunikasi semakin canggih. Semua hal yang kita butuhkan tersedia dengan serta merta di jutaan situs website, blog dan media sosial. Baik yang terverifikasi hingga kabar bohong. Demikian juga dengan ilmu agama. Hanya dengan mengetik keyword di laman Google, ratusan hingga ribuan artikel akan muncul untuk tiap tema yang di-search.

Berada di lama Google, ibarat seseorang sedang berada di tengah lautan. Di tengah lautan, seseorang haruslah memiliki kemampuan berenang, bila tidak, ia akan tenggelam dan kemudian mati. Demikian juga dengan Google dan mesin pencari lainnya, yang menjadi pilar informasi di internet. Berada di tengah mesin pencari itu, seseorang tidaklah boleh “polos” sama sekali.

Google memang menyediakan semua informasi yang kita cari, tapi Google tidak mampu memberikan kita informasi pilihan yang sesuai dengan kebutuhan kita. Sebagai user, kitalah yang harus memilih. Salah pilih tentu celaka.

Hadirnya mesin pencari yang kemudian didukung oleh media sosial seperti Facebook, Twitter, Youtube, dsb, telah memudahkan siapa saja dalam rangka mencari sesuatu yang ingin diketahui. Tapi di balik semua itu, kemudahan ini memiliki bahaya yang sangat besar, yaitu disorientasi.

Disorientasi akan menyebabkan seseorang merasa dirinya paling benar. Menganggap bahwa cukup dengan membaca artikel di Google, maka ia menjadi ahli pada suatu bidang yang sedang ia geluti. Disorientasi akan muncul kala ia menganggap belajar agama serba mudah, tak perlu nyantri seperti santri.

Akibatnya, orang yang demikian kelak akan tidak menghormati ulama. Bilapun ada agamawan yang ia senangi, adalah agamawan yang sesuai dengan alam pikirnya. Islam yang awalnya adalah ajaran yang teduh dan bersahabat, di tangan orang seperti ini akan menjadi sesuatu yang menakutkan.

Untuk itu, yang harus kita pahami, Google adalah ladang pengetahuan. Tapi Google ibarat pasar pagi, ia menyediakan apapun, tapi tak mampu memberikan yang terbaik. Kitalah sebagai user yang harus memilih. Maka, seseorang yang kosong pengetahuan agamanya, konon lagi memiliki watak yang keras, maka kala belajar agama melalui artikel di Google, ia akan melenceng dari ajaran Islam. Ia tidak memiliki fondasi pengetahuan untuk memilih dan memilah.

Dengan demikian, gudang ilmu agama adalah dayah/pesantren. Di sana ada guru dan kitab yang bisa dibaca dan dikaji. Sehingga seseorang memiliki tuntunan dalam mempelajari ilmu agama.

Intinya, silahkan pergunakan internet dan Google sebagai media untuk mempermudah urusan/kepentingan. Tapi tetaplah belajar secara benar di lembaga pendidikan yang guru-gurunya memiliki riwayat pendidikan yang jelas. Selamat berinternet dan katakan: Guruku bukan Google. Google adalah mitraku.

*)Tulisan ini merupakan karya santri Dayah darul Abrar, Aceh Jaya. Peserta pelatihan jurnalistik yang digelar oleh Dinas Pendidikan dayah Propinsi Aceh pada medio Februari 2019.

KOMENTAR FACEBOOK