Cerbung: Janji (Bagian 2)

Ilustrasi dikutip dari Pixabay.

Tafsir (2)

Dengan sekuat tenaga aku mencoba untuk bertahan. Tapi di depan mataku ia bertemu dengan Khaidir di sebuah warkop ujung kota. Sebagai suami aku marah. Akhirnya luapan rasa itupun membuncah…..

Dua bulan kemudian kami mengontrak rumah di Banda Aceh. Bapak menetap di Teupin Manee bersama adikku yang telah menikah dengan teman kuliahnya dan telah pula memiliki anak.

Di Banda Aceh, kami semakin mudah untuk bersikap seperti orang yang seakan tidak memiliki hubungan apapun. Satu hal yang tetap kularang, Khalifa tidak boleh gelayapan. Dia harus menjaga kehormatanku dan kehormatannya sendiri. Pukul 22. 00 WIB adalah batas waktu dia boleh berada di luar. Hanya itu saja aturan yang kubuat. Selebihnya, kami hidup masing-masing.

Semua kebutuhanku, kulakukan sendiri. Baju kucuci di laundry. Kebutuhan makan dan minum, semuanya kulakukan di rumah makan. Kami hanya makan bersama bila sesekali keluarga kami singgah di rumah. Sungguh sebuah kegilaan yang tidak pernah kubayangkan.

Beberapa kali memang Khalifa menyiapkan sarapan pagi. Tapi tak pernah kusentuh. Bukan aku membencinya. Tapi aku tak ingin ia melakukannya karena merasa terpaksa. Atas segenap kejanggalan yang kami lalui selama ini, aku sudah memaafkannya.

Aku menagnggap bahwa ini adalah ujian cinta. Cobaan berumah tangga. Kadangkala aku menganggap ini sebagai sesuatu yang aku tidak pahami. Berbulan-bula setelah menikah dengan perempuan dengan paras aduhai, tapi tak bisa mendekatinya, sungguh siksaan yang berat.

Setelah lelah bergelut dengan pikiran, akupun mengambil kesimpulan. Bilapun kelak ia pergi meninggalkanku, mengejar cintanya, aku tidak akan terluka. Aku sudah terbiasa. Aku tak tahu lagi makna cinta dan luka. Karena kesakitan-kesakitan yang terus kualami, membuat hatiku bebal. Kuanggap saja bila aku sedang indekost dengan perempuan asing yang tidak kukenal.

Tekad inilah yang membuatku mampu bertahan dan tidak menceritakan kepada siapapun tentang konsisi rumah tangga kami. Aku masih menerima kejutan-kejutan kecil dari teman-temanku, seperti pinenung nyen, majakani, tongkat ali, dan segala macam. bahkan seorang teman di Amerika mengirimkan pesan, bila ingin berlibur ke Amerika, ia siap memfasilitasi, mulai dari tiket sampai akomodasi selama di negeri Paman Sam.

“Semoga ada waktu yang pas. Sekarang kami lagi sibuk,” kataku memberi respon.

“Jangan terlalu tenggelam dalam rutunitas. Segera gendong Khalifa ke Amerika. Habiskan bulan madu kalian di sini. Jangan sampai kau menyesalinya,” gpda Alex, temanku yang menetap di Florida.

***

Pada suatu hari, aku tiba-tiba melihat telepon genggamnya berdering.

“Darling” itulah nama yang tertulis di sana.

Usai mandi, ia melihat teleponnya. Dia sejenak melirik ke arahku. Tapi tidak bercakap apapun. Kemudian dia berkemas-kemas.

Ketika Khalifa pamit, aku pura-pura tidak mendengar. Tapi lima menit kemudian aku menyusul di belakang. Kubuntuti kemana dia pergi. Hingga kemudian dia masuk ke sebuah warkop di ujung kota. Di sana, di kursi sebelah pojok, seorang lelaki muda duduk. Begitu melihat Khalifa datang, dia segera bangun dan tersenyum.

Tak ada yang aneh dari pertemuan itu. Andaikan bukan Khaidir, sungguh aku tidak akan cemburu. Setahun lebih kami berumah tangga, ia masih saja mencintai lelaki itu. Aku kecewa, apa yang selalu kupinta pada Ilahi, berbeda dengan hasil yang kudapat. Tiap malam kutengadahkan tangan agar Khalifa mencintaiku, tapi justru cintanya semakin lengket saja pada sejawatnya itu.

Gundah gulana melanda jiwa, petir dan guntur silih berganti di dalam dada. Percik amarah timbul, kecemburuan lahir, hatiku dipenuhi kecamuk perang Baratayudha. Di mataku Khaidir adalah Sengkuni, dan Khalifa tidak lebih mulia dari Drupadi, perempuan yang didapatkan oleh Pandawa dari ajang lomba memanah.

Dalam kecamuk marahku itu, tanpa sengaja aku menyenggol meja. Derit suaranya cukup keras.

Khalifa kaget dan melihat ke arahku.

Aku segera beranjak, berlari-lari kecil.

“Bang Abdullah, tunggu!” katanya. Ia mencoba menyusulku. Aku tidak peduli. lariku kupercepat. Dalam hitungan menit aku sudah di dalam kabin mobil.

Lewat spion kulihat Khalifa dengan wajah gundah mencoba mengejar mobilku yang kini sudah mengaspal. ia melambai-lambai. Kulihat mulutnya seperti berteriak. Tapi aku tak lagi peduli.

Khalifa kemudian berhenti. Ia kelihatan kelelahan. Sejenak kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sepertinya Khalifa menangis. Aku tak peduli.

Selamat tinggal, wahai perempuan pembuat luka. (Bersambung)

Baca juga: Cerbung: Janji (Bagian 1)

KOMENTAR FACEBOOK