Belajar Tulus dari Bai Fang Li

Muhammad Sahuddin, S.Sos.I, S.Pd, M.Ed.

Muhammad Sahuddin, M.Ed*)

Pendidikan menjadikan orang sadar akan penindasan yang menimpa mereka. Kemudian melakukan gerakan untuk mengubah keadaan itu.

Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan dari Brazil yang juga penulis buku Pedagogy of the Oppressed mengajak kita selaku kaum yang nasibnya beruntung dalam mendapatkan kesempatan pendidikan berkualitas, untuk melakukan sebuah praktek pendidikan yang bernuansa humanis bagi kalangan yang nasibnya belum beruntung dalam dunia pendidikan.

Saat ini dunia pendidikan kita bertarung di internalnya sendiri. Mulai dari pihak swasta hingga dinas pendidikan mendirikan sekolah unggul, yang kulitas guru, alat ajar hingga kualitas peserta didiknya memiliki kualitas yang di atas rata-rata. Tapi sekolah yang demikian tidak ditujukan untuk kelas masyarakat akar rumput. Sekolah-sekolah yang demikian disediakan kepada kelas atas yang gemah ripah loh jinawi.

Bahkan, jika boleh dikatakan, setiap kursi dan meja di sekolah unggulan, tidak disediakan untuk anak dari kalangan ekonomi lemah, sepintar apapun mereka.

Dunia pendidikan di negeri ini selalu menampilkan dua sisi yang berbeda. Modal capital besar yang bersekutu dengan pelaksana pendidikan yang diberikan mandat oleh negara, telah menjadikan dunia pendidikan di Indonesia timpang antara kaya dan miskin. Antara kota dan desa.

Mengapa dunia pendidikan kita bisa setimpang itu? Tidak adakah individu yang benar-benar peduli pada pemerataan pendidikan yang sama rasa? Entahlah. Sampai artikel ini ditulis, ketimpangan itu masih berjalan.

Belajar dari Kakek Bai Fang Li

Sebuah kisah yang sempat viral tahun 2015 yang penulis kutip dari media online (Mardeka.com.13/6/ 2015) tentang seorang kakek di Propinsi Tianjin, Cina, yang menyekolahkan 300 anak-anak miskin, walau ia sendiri adalah tukang becak yang hidup melarat.Ini adalah cerita di masa lampau, terjadi pada 1987, tapi kembali viral di era modern.

Nama Bai Fang Li masih harum hingga saat ini di negeri Tianjin, China. Dia adalah penarik becak yang dikenal mempunyai hati emas. Semula Bai adalah pensiunan yang sengaja pulang ke kampungnya. Suatu kali dia melihat banyak anak-anak miskin yang bekerja di ladang dan sawah. “Dia bertanya kenapa banyak anak-anak tidak sekolah. Lalu anaknya menjawab bahwa mereka terlalu miskin untuk membayar uang sekolah. Ayah lalu khawatir dan menyumbangkan 5000 yuan untuk sekolah di kampung halaman kami,” kata anak Bai, Bai Jin Feng dikutip china.org, Jumat (16/4).

Selama mungkin Bai mangkal di pinggir rel untuk menanti penumpangnya. “Dia selalu berangkat subuh dan pulang saat sudah gelap lagi. Dia mengumpulkan 20 sampai 30 yuan perhari. Saat pulang ke rumah dia simpan uang itu baik-baik,” tandas anak Bai lagi. Suatu hari, di umurnya yang hampir 90 tahun, dengan badannya yang kian ringkih, Bai datang ke sekolah Tianjin Yao Hua untuk menyerahkan sekotak uang terakhir yang bisa dia kumpulkan.

“Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan,” ucap dia sedih. Pesan Bai ini pun disambut tangisan histeris anak-anak asuh Bai. Di tahun 2005, Bai benar-benar meninggalkan 300 anak asuh yang dia biayai selama dua dekade. Bai didiagnosa menderita kanker paru-paru. Sampai akhir hidupnya Bai terhitung telah menyumbangkan 350 ribu Yuan atau sekitar Rp500 juta.
(https://m.merdeka.com/dunia/ini-kisah-kisah-perjuangan-anak-sekolah-paling-haru-sedunia.html)

*)Guru SMPLB N Susoh Abdya & Candidat PhD Education, Nanjing Normal University, China

KOMENTAR FACEBOOK