Memilih Wakil Rakyat

Jamri

Oleh Jamri*)

Lama sudah mencaci, menuding dalam masalah pemilihan presiden dan wakil presiden hingga luput perhatian terhadap orang yang layak mewakili rakyat di kursi dewan. Seolah 2019 ini kursi dewan tiada berarti kedudukannya dalam membangun bangsa. Seolah dewan sepertinya bukan orang penting dalam urusan rakyat.

Efek demokrasi semua pihak bisa mencalonkan diri untuk mewakili masyarakat. Tak penting sekalipun kualitasnya tiada memadai kapasitas untuk memimpin. Kursi dewan sudah jadi tempat lelucon bagi orang berdasi. Kursi dewan sudah jadi tempat permainan uang aspirasi yang untung tinggi, bukan lagi tempat penampungan aspirasi rakyat untuk keadilan ekonomi atau seterusnya. Bahkan banyak pencalonan sebatas pengalaman hidup dengan berbagai ide dan janji untuk meyakinkan masyarakat memilihnya namun tanpa persiapan dan rencana ketika terpilih.

Semoga pemilu ini masyarakat tidak tertipu dengan tingkah laku para anggota calon dewan, karena banyak di antara mereka tiba-tiba aktif shalat berjamaah di masjid, pengajian, mengaku saudara atau seterusnya. Dan yang sangat disayangkan menyebut nama figure orang lain, ngaku keturunan ini, punya keluarga begini, padahal secara logika adalah perbuatan bodoh karena jelas tidak ada hubungannya dengan tujuan dan kedudukan legislatif.

Dalam kondisi politik yang begitu ambisi dengan kekuasaan, harapannya dan sangat dibutuhkan sosok yang mencerdaskan masyarakat dan tentu terutamanya kaum mahasiswa yang masih kritis dengan kehidupan politik, supaya mau menyuarakan sosok yang bisa memperjuangkan pembelaan tehadap masyarakat bukan sebaliknya malah membodohi masyarakat. Karena mahasiswa adalah harapan terakhir yang menunjukkan jalan terbaik dalam memilih pemimpin yang akan mewakilkan rakyat.

Walaupun di era milenial ini banyak masyarakat tidak percaya terhadap kedudukan mahasiswa. Setidaknya kita masih menjaga wibawa kehormatan seorang terdidik untuk tidak mudah terprovokasi dengan uang yang tinggi, tidak membuka peluang dukungan dari masyarakat kepada mereka yang tidak paham perkara bangsa.

Masyarakat butuh orang yang bisa menerjemahkan aspirasi, memberikan keadilan dan tentunya bisa membuat masrakat tersenyum atas tindakan dalam membela masyarakat.

Di akhir kata, penulis tidak bermaksud menuding sebagian calon dewan tidak punya kapasitas dalam berpolitik, hanya saja kita butuh perubahan yang signifikan. Perubahan yang nyata membawa kesejahteraan dan tentunya orang-orang yang punya pengalaman, pengetahuan dan ikhlas serta tidak mudah tereksploitasi oleh pihak lain.

*)Mahasiswa Ilmu Politik dan Gubernur FISIP 2016-2017 UIN Ar-Raniry Banda Aceh.email : jamri.al.islami@gmail.com/strong>

KOMENTAR FACEBOOK