Janda, yang Tersudut Dalam Sengkarut Stigma Sosial

Oleh Poedjiati Tan

Status janda bukanlah posisi yang menguntungkan bagi perempuan baik secara biologis, psikologis, maupun sosiologis. Yang saya amati, ini beberapa stigma yang dilekatkan pada perempuan janda: perempuan kesepian, penggoda laki-laki, bukan istri yang baik.

Ketika perempuan janda pulang malam, akan diisukan sebagai perempuan yang doyan pada malam. Ketika ia pergi sendiri, akan dianggap tega meninggalkan anaknya di rumah dan malah jalan bersama teman-temannya. Sangat sulit berstatus sebagai janda. Padahal, apa yang salah jika menyukai malam? Apa yang salah ketika jalan bersama teman-temannya?

Kondisi yang melingkupi perempuan seringkali mengundang posisi tawar perempuan ketika berhadapan dengan laki-laki. Status janda kadang ditempatkan pada perempuan sebagai posisi yang bersalah, atau kadang dianggap lemah, sehingga dalam kondisi sosial budaya yang patriarkhi seringkali terjadi ketidakadilan terhadap kaum perempuan.

Padahal orang tak peduli jika ada laki-laki yang menjadi duda. Bahkan mereka malah disebut sebagai Duren alias Duda Keren. Pulang malam setiap haripun tak ada yang mengurusi.

Budaya patriarkhi memang memberikan previlage pada jenis kelamin laki-laki untuk mengakses material basic of power dari mereka yang berjenis kelamin perempuan. Wacana perempuan sebagai makhluk yang lemah begitu dominan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat seperti melegitimasi wacana itu dan melestarikan.

Hal tersebut menyebabkan perempuan seperti kehilangan dimensi lain dalam realitas kehidupannya. Kurangnya pemahaman masyarakat akan pemahaman gender serta budaya patriarkhi yang berpusat pada nilai laki-laki menjadi basis bagi suburnya perilaku bias gender, dimana perilaku tersebut pada gilirannya menempatkan perempuan pada posisi yang subordinatif dan marjinal, oleh karenanya dapat dikendalikan

Budaya negatif sering dilekatkan pada perempuan yang menuntut cerai. Seringkali perempuan yang dianggap bersalah dan tidak bisa menjadi istri yang baik, tidak peduli bila dalam perkawinan itu merugikan atau terjadi kekerasan terhadap perempuan.

Banyak kritik bermunculan mengenai persepsi terhadap status perempuan yang menjadi janda di tengah masyarakat.

Padahal berbicara tentang janda, tentu tidak terlepas dari struktur yang ada dalam masyarakat. Struktur masyarakat Indonesia masih menganut budaya patriarkhi, yaitu konsep bahwa laki-laki memegang kekuasaan atas semua peran penting dalam masyarakat dan pada dasarnya perempuan tercabut dari akses terhadap kekuasaan itu sehingga keseimbangan kekuasaan justru menguntungkan laki-laki.

Keyakinan tersebut membuat peran perempuan dalam masyarakat menjadi terdiskreditkan atau dinomorduakan. Laki-lakilah yang memegang kekuasaan atas semua peran penting yang ada di masyarakat.

Setiap pasangan yang menikah karena keinginannya sendiri selalu berharap pernikahan mereka langgeng sampai akhir hayat. Tidak ada perempuan yang bercita-cita menjadi janda dan menggugat cerai suaminya karena iseng. Menjadi janda bukanlah keputusan yang mudah untuk perempuan.

Perempuan yang menggugat suaminya karena melakukan kekerasan atau menelantarkan keluarga, seperti dianggap kurang bisa menjadi istri yang baik. Perempuan dengan status janda sering dipandang negatif dan tidak kompeten untuk menjadi kepala keluarga bagi anak-anaknya. Mereka seringkali menghadapi tekanan dari keluarga, masyarakat. Dan kembali perempuan harus mengalami kekerasan karena menjadi janda.

Dikutip dari website konde.co.

KOMENTAR FACEBOOK