Satu Lagi Orangutan Diselamatkan dari Kebun Sawit di Subulussalam

Evakuasi orangutan Pertiwi @istimewa

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Seekor orangutan betina berusia tujuh tahun kembali diselamatkan di area perkebunan sawit di Dusun Rikit, Desa Namo Buaya, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam pada Rabu (20/3/2019). Lokasi ini berdekatan dengan area evakuasi orangutan Hope beberapa waktu lalu.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo, melalui siaran pers yang diterima aceHTrend mengatakan, tim penyelamat yang terdiri atas BKSDA Aceh, tim HOCRU OIC, dan WCS-IP berhasil mengevakuasi orangutan tersebut, yang selanjutnya diberi nama Pertiwi, tanpa melalui proses pembiuasan karena Pertiwi dalam kondisi lemah.

“Awalnya tim HOCRU OIC mendapat informasi dari BKSDA-Aceh melalui nomor call center HOCRU bahwa ada beberapa individu orangutan yang terjebak di kebun masyarakat, di Dusun Rikit Desa Namo Buaya Kecamatan Sultan Daulat Kota Subulussalam,” katanya, Kamis (21/3/2019).

Setelah dilakukan crosscheck di lokasi perkebunan, ditemukan beberapa sarang baru di lokasi perkebunan tersebut. Setiba di lokasi tim langsung mencari keberadaan orangutan dan tim menemukan satu individu orangutan (anakan ± 7 tahun) di dalam sarang.

“Karena hari sudah sore tim memutuskan tidak melakukan upaya evakuasi pada hari itu dan diputuskan untuk melanjutkan keesokan harinya. Lokasi kebun berstatus APL dan berjarak lebih kurang 10 km dari SM Rawa Singkil,” kata Sapto.

“Besoknya tim menjumpai orangutan masih dalam sarang, dan tim meminta rekomendasi tindakan translokasi kepada pihak BKSDA-ACEH untuk satu individu orangutan yang terisolir, di kebun masyarakat tersebut sedang dilakukan pembukaan lahan,” jelasnya.

Untuk mengevakuasi orangutan tersebut, tim HOCRU memutuskan untuk tidak menggunakan tembakan bius karena kondisi orangutan yang kurus dan kecil sehingga ditakutkan akan mengenai organ vital. Tim memutuskan untuk melakukan pemotongan pohon akses dan menggiring orangutan ke pohon yang rendah kemudian tim memotong pohon yang rendah tersebut untuk kemudian menangkap orangutan.

“Setelah orangutan berhasil ditangkap baru kemudian dilakukan pembiusan untuk tujuan pemeriksaan kondisi tubuh orangutan. Orangutan terbius pada pukul 11.50 WIB dan tim membawanya ke kandang transport untuk pemeriksaan fisik,” katanya.

“Orangutan Pertiwi memiliki berat badan lebih kurang 5 kg, metode anestesi dipimpin oleh dokter hewan HOCRU, kondisi malanutrisi (kurus) dan kondisi tangan sebelah kanan yang kurang resposif (kurang gerak),” sebutnya.

Ia lanjutkan, setelah semua pemeriksaan fisik selesai, dinyatakan Pertiwi tidak layak untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Orangutan tersebut harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Karantina Orangutan Sumatera milik SOCP di Sibolangit Sumatera Utara.

Menurutnya, rencana ke depan tim akan memantau dan mencari kemungkinan keberadaan orangutan lainnya yang terisolir di Dusun Rikit, Desa Namo Buaya, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam.

“Saat ini tim dari BKSDA Aceh dan mitra terus memantau daerah perkebunan yang diperkirakan masih ada orangutan yang terisolasi. BKSDA akan terus serius melakukan upaya-upaya mengatasi konflik antara manusia dan orangutan sehingga insiden konflik yang mengakibatkan kematian dan perburuan orangutan dapat dicegah,” katanya.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK