Menengok Kebun Hidroponik dan Pengolahan Keumamah Binaan Solusi Bangun Andalas di Lhoknga

Eli Suzana menunjukkan tomat hidroponik kepada karyawan pabrik @aceHTrend/Ihan Nurdin

SENYUM perempuan paruh baya menyambut kedatangan kami di Gampong Mon Ikeun, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar tengah hari itu, Rabu (20/3/2019). Perempuan itu adalah Eli Suzana, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Hidroponik yang beranggotakan delapan perempuan. Bersama anggota kelompoknya, Eli mengelola sepetak lahan hidroponik di kompleks balai desa yang ditanami sayuran, seperti kangkung, selada, pokcoy, dan tomat cherry.

Tomat itu terbilang unik, meski “cherry” tetapi bentuknya lebih menyerupai potongan buah strawberry yang lonjong. Tentu saja tanpa totolan-totolan khas buah strawberry, tomat ini tetap memiliki permukaan kulit yang halus laiknya buah tomat biasa.

Yang membedakan adalah pada cita rasa daging tomatnya yang lebih manis dan biji-bijinya yang lebih halus. Perbedaan tersebut membuat tomat ini lebih disukai konsumen untuk dijadikan camilan langsung ataupun untuk lalapan mentah dan diolah menjadi salad dengan campuran sayuran lain. Kondisi inilah yang membuat beberapa orang tak bisa menahan diri untuk tidak mencicipi tomat segar yang dipetik langsung dari pohon.

“Kebun hidroponik ini menjadi bagian dari aktivitas kami menyosialisasikan sayuran sehat,” kata Eli Suzana. “Kami jual Rp40 ribu per kilogram,” katanya lagi.

Sejak Desember 2018 lalu, kebun hidroponik yang dikelola Eli Suzana mendapat dukungan dana dari program Coorporate Social Responsibility (CSR) PT Solusi Bangun Andalas. Mereka disuntik hingga puluhan juta rupiah untuk mengembangkan kebun tersebut.

+++

General Manager PT Solusi Bangun Andalas Durain P. Siregar @aceHTrend/Ihan Nurdin

PT Solusi Bangun Andalas adalah nama baru perusahaan semen yang beroperasi di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Perusahaan yang mulai berdiri sejak tahun ’80-an ini awalnya bernama PT Semen Andalas Indonesia, kemudian berganti menjadi PT Lafarge Cement Indonesia setelah sahamnya sempat dibeli oleh Holcim, perusahaan asal Swiss.

“Pada Februari 2019 PT Semen Indonesia mengambil alih semua aset Holcim Indonesia sebesar 80,6 persen. Setelah akuisisi saham, disepakati nama PT Holcim Indonesia Tbk diganti menjadi PT Solusi Bangun Indonesia Tbk. Dua anak perusahaannya, yaitu PT Holcim Beton dan PT Lafarge Cement Indonesia berganti menjadi PT Solusi Bangun Beton dan PT Solusi Bangun Andalas,” kata General Manager PT Solusi Bangun Andalas, Durain P. Siregar, dalam acara media visit bertajuk “Sinergi Memperkuat Kolaborasi” dengan puluhan awak media di lokasi pabrik hari itu.

Di bawah manajemen PT Solusi Bangun Andalas yang notabenenya adalah perusahaan milik BUMN yang bergerak di bidang industri bahan bangunan, beberapa arah dan kebijakan perusahaan pun berubah di antaranya memperluas jaringan pabrik semen di dalam negeri; memperluas diversifikasi jenis produk; meningkatkan efisiensi khususnya biaya distribusi dan bahan baku; dan lain-lain.

Perusahaan juga mulai mengatur komposisi tenaga kerja yang lebih mengutamakan anak negeri. Di PT Solusi Bangun Andalas sendiri katanya, 90 persen karyawannya merupakan masyarakat Aceh. Begitu juga dengan perusahaan kontraktor yang mengutamakan para pengusaha konstruksi khususnya di Kecamatan Leupung dan Lhoknga.

“Di sini tidak ada lagi orang asing. Semuanya orang Indonesia. Karyawan tetapnya 163 orang dan 90 persennya merupakan warga Aceh,” ujarnya.

Satu-satunya unit yang masih mempekerjakan tenaga kerja asing kata Durain, ialah di bagian power plant. Namun, itu merupakan “sisa” dari kontrak kerja sama yang dilakukan manajemen perusahaan sebelumnya dengan pihak ketiga, yakni PT. Shandong Licun Power Plant Energy. Akan tetapi, dari jumlah 51 TKA sebelumnya, kini hanya tersisa 15 orang. Ke depan pihaknya juga akan mengevaluasi kontrak tersebut, sehingga semua tenaga teknis bisa dilakukan oleh pekerja lokal.

Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi 1,6 juta ton semen per tahun. Perusahaan juga mengoperasikan pabrik terintegrasi di Lhoknga, dan fasilitas pengemasan yang berlokasi di Lhoknga, Aceh Besar; Kota Lhokseumawe; Belawan, Sumatera Utara; Batam, Kepulau Riau; dan Dumai, Privinsi Riau.

+++

@aceHTrend/Ihan Nurdin

Dari Mon Ikeun, rombongan awak media yang didampingi sejumlah petinggi PT SBA dan Semen Indonesia lantas menuju ke Gampong Deah Mamplam, Kecamatan Leupung, Aceh Besar. Di sini ada beberapa kelompok usaha yang didanai melalui program CSR PT SBA, yaitu usaha pengolahan keumamah (ikan kayu) dan pomade di Gampong Deah Mamplam, serta usaha perabot di Gampong Meunasah Bak U.

Di sini, ratusan kilogram ikan segar setiap harinya diolah menjadi ikan kayu atau keumamah. Selain mengolah keumamah kering, yang dijual Rp15 ribu per paket isi satu ons, mereka juga menyediakan keumamah basah yang dihargai Rp40 ribu per kilogram.

Siang itu, keumamah produksi Gampong Deah Mamplam diolah menjadi aneka hidangan seperti keumamah peleumak dan tumis asam sunti yang disuguhkan sebagai jamuan makan siang.

Koordinator untuk pembinaan masyarakat di sekitar pabrik, Tafaul Rijal, mengatakan, mereka melakukan pendampingan terhadap kelompok binaan agar dana CSR yang disalurkan benar-benar terserap dengan baik dan dampaknya bisa dirasakan masyarakat sekitar pabrik.

“Program-program binaan seperti program pengembangan sayuran hidroponik, program BUMG usaha perabot, dan keumamah merupakan salah satu upaya kami dalam meningkatkan kemampuan yang dimiliki masyarakat untuk menciptakan peluang bisnis yang berkualitas,” katanya.

Saat ini, konsentrasi pemberdayaan masyarakat yang mereka lakukan terpusat pada empat aspek, yaitu pendidikan, kesehatan, pengembangan ekonomi, dan sosial budaya.[]


KOMENTAR FACEBOOK