Sambut Ramadan, ACT Gelar Silaturahmi dengan Mitra

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh menggelar silaturahmi dengan para mitra sekaligus tarhib Ramadan yang diisi dengan ceramah agama oleh Ustaz Masrul Aidi, Lc di Hotel Al Hanifi Banda Aceh pada Jumat malam (22/3/2019).

Kepala ACT Cabang Aceh, Husaini Ismail, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada mitra dan donatur sehingga di tahun pertama berdirinya pada 2017 ACT Aceh sudah bisa mandiri.

“Alhamdulillah, pada tahun pertama ACT Aceh sudah mandiri untuk melaksanakan program berkat dukungan berbagai pihak,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa sejak 2017 hingga 2019 jumlah penerima manfaat melalui ACT Aceh mencapai 48.705 orang di 18 kabupaten/kota di Aceh. Adapun program-program kemanusiaan ACT Aceh seperti zakat, distribusi pangan, memproduktifkan lahan wakaf, mobile social rescue, pemberdayaan petani garam, dan sebagainya.

ACT Aceh turut terlibat pada program nasional pendistribusian beras hingga ke Palestina, Suriah, dan Somalia dari masyarakat Indonesia. Aceh merupakan penyumbang beras terbanyak untuk Somalia melalui gerakan Kapal Kemanusiaan.

Ia menjelaskan, kemauan orang Aceh untuk menyumbang merupakan wujud keimanan. Bersedekah itu tidak harus menunggu ketika sudah makmur. Dalam sebuah hadis disebutkan, barangsiapa melapangkan seorang mukmin dari salah satu kesusahan dunia, maka Allah akan melapangkannya dari salah satu kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa meringankan penderitan orang lain, maka Allah akan meringankan penderitaannya di dunia dan akhirat.

Ia berharap agar program-program yang dilaksanakan ACT mendapatkan rida Allah. “Kita tidak pernah tahu amalan apa yang membuat kita masuk surga,” pungkasnya.

Sementara itu, Ustaz Masrul Aidi menuturkan bahwa ajaran Islam mengajarkan umatnya menjadi orang dermawan. Seperti halnya kedermawan kaum Muhajirin saat menyambut kaum Ansar pada masa hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah. Bahkan Allah mengabadikan kisah kedermawanan itu dalam Alquran.

“Orang-orang Madinah menyambut  kedatangan kaum Ansar dengan penuh sukacita. Tidak terbersit keinginan dalam hati kaum Muhajirin terhadap barang bawaan kaum Ansar. Tetapi memprioritaskan tamu dari Mekkah itu meskipun diri mereka dalam keadaan sulit,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, persaudaraan tidak lagi menghitung harta melainkan cinta kepada sesama muslim. Puncak keimanan seseorang ketika ia bisa merasakan apa yang dirasakan muslim lain baik itu senang maupun susah.

Penderitaan muslim di Yaman, Suriah, dan Palestina turut dirasakan oleh orang Aceh. Orang muslim diumpamakan seperti tubuh. Bila salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lain ikut merasakannya. “Nilai kemanusiaan sangat penting. Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling bagus akhlaknya,” ujarnya.[]

KOMENTAR FACEBOOK