Cerbung: Janji (Bagian 3)

Ilustrasi dikutip dari Pixabay.

Humaira

Semenjak peristiwa itu, aku tidak pernah lagi pulang ke rumah kami. Diam-diam aku membeli rumah di kawasan Aceh Besar. aku sudah tidak berharap lagi cinta dari Khalifa. Aku muak dan benar-benar marah.

Aku bukan saja merasa telah dikhianati, tapi juga dizalimi. Ketulusanku mencintainya, dibalas dengan sesuatu yang menyakitkan. Setahun lebih membangun biduk rumah tangga, tanpa pernah ia kusentuh, tak juga membuat hatinya luluh. Ia keukeuh dengan kekerasan hatinya. Dia terlalu angkuh untuk memberikan ruang hatinya untukku.

Semenjak aku tak pernah pulang, sudah seratusan kali Khalifa menelepon. Tapi tak pernah kuangkat. Dia mengirim pesan singkat dan mengatakan ingin bertemu denganku. Tak kupedulikan. Aku sudah muak. Aku sudah tak mencintainya lagi.

Beberapa kali ia mengirimkan pesan suara yang berisi tangisan dan permohonan ingin berjumpa, walau sekali saja.Aku tetap tidak peduli.

Suatu hari bapak datang menjumpaiku. Tapi kali ini aku tidak memberikan ruang bagi bapak untuk memberikan nasehat. “Kiranya untuk kali ini biarlah Abdullah memutuskan sesuatu hal secara independen. Kiranya bapak harus mengerti keadaan saya. Sudah terlalu berat cobaan ini bagi saya. Abdullah sudah tidak sanggup lagi,” kataku sembari menangis di depan bapak.

Bapak membetulkan kacamatanya. “Bilakah bapak kamu berikan peluang untuk bicara? Bapak ingin menjelaskan sesuatu,” katanya pelan.

“Untuk saat ini jangan, Pak. Biarkan saya memulihkan hati. Saya tidak ingin mendengar apapun tentang Khalifa,” kataku.

“Setidaknya untuk kali ini saja. Setelah ini silahkan ambil keputusan apapun,” katanya dengan nada sedikit keras.

“Tidak, Pak. Jangan sekarang. Saya tidak siap dengan penjelasan apapun,” kataku.

“Sekali ini saja,” kata bapak mencoba meyakinkanku.

“Tidak, Pak.”

“Kalau ini sudah menjadi keputusanmu, bapak tidak bisa memaksa. Kamu sudah besar, bahkan sudah sangat dewasa untuk mengurus dirimu dan membuat keputusanmu sendiri. Maafkan bapak bila telah terlalu jauh mengatur hidupmu.”

Aku tidak menjawab lagi. Kudiamkan saja hingga kami membisu sekitar 15 menit. Bapak bangkit dari tempat duduk dan pamit pulang.

***
Atas seizin bapak, segala urusan bisnis kuserahkan pada manajemen. Aku hanya mengontrol saja dari jauh. Perusahaan penerbitan itu sudah besar, tentu manajemennya pun sudah sangat matang.

Aku melanjutkan kuliah doktoral di Pulau Jawa. Sengaja tidak lagi kupilih luar negeri, agar aku bisa sesegera mungkin pulang, bila bapak membutuhkanku. Akhir-akhir ini kesehatannya sudah menurun.

Sembari kuliah, aku melamar sebagai dosen di sebuah universitas Islam. Kupilih kelas non regular agar bisa kusesuaikan dengan jadwal kuliahku. Kali ini aku tidak ingin buru-buru selesai doktor. Mungkin studiku kali ini sekedar sebagai pelarian dari segenap duka yang merajah di jiwa.

Dua semester mengajar, aku mulai dekat dengan seorang guru madrasah swasta milik sebuah pondok pesantren. Ia mahasiswa regular kelas sore, yang sempat kuampu beberapa kali pertemuan karena dosennya sedang cuti sakit.

Gadis ini pintar, tutur bahasanya lembut dan teratur. Dia juga menguasai beberapa kitab klasik yang diajarkan di pondok.

Ada satu hal yang menarik darinya. Ia santri, ia guru di pondok. Tapi soal poligami, dia cenderung bertahan pada satu sikap: Bahwa dirinya bila dinikahi oleh seorang laki-laki tidak akan siap harus berbagi kasih sayang dengan istri-istri yang lain.

“Kamu mengharamkan poligami?” aku bertanya, memancing pada suatu sore, pada diskusi kelompok.

“Di mana letak bahasa yang saya sampaikan, bahwa saya mengharamkan poligami. Allah telah menghalalkannya, saya tak berwenang mengharamkan yang halal,” jawabnya. Tegas.

Aku tidak kaget dengan jawabannya. “Lalu mengapa kamu tidak mau dipoligami?” tanyaku.

“Ini tentang pilihan saja. Bila kelak ada seorang lelaki mengkhitbah saya, syaratnya adalah, selama dia menjadikan saya sebagai istrinya, berarti dia tidak boleh menambah jumlah istri. Bila tidak sanggup, berarti dia harus mengembalikan saya kepada orangtua saya.”

“Haruskah seperti itu, bukankah ridha pada suami juga bahagian dari ibadah?” tanyaku memberikan pancingan baru.

“Membuat suasana hati istri menjadi nyaman, merasa hanya dia satu-satunya yang dicintai, apakah sebuah kesalahan?” ia mengajukan pertanyaan balik.

“Apakah poligami adalah sesuatu yang wajib?” ia mengajukan pertanyaan lagi.

“Tetapi sesuatu yang dalam kondisi tertentu dianjurkan,” timpalku.

“Baiklah, dalam kondisi darurat itu dianjurkan, walau saya belum menemukan satu hadist dan ayat Quran yang menganjurkan. Hanya sebatas membolehkan. Tapi mengapa harus dengan yang lebih muda? Apakah hal demikian boleh disimpulkan bahwa poligami yang sedang dipraktekkan oleh kebanyakan lelaki Indonesia, hanya sebatas kepuasan fantasi seks?

Bilakah ingin mempraktekkan Sunnah Nabi, mengapa tidak menikahi janda tua, miskin, tidak wangi dan membutuhkan pertolongan ekonomi? Mengapa harus melakukan poligami dengan menikahi istri kedua, yang secara usia lebih muda, lebih cantik, lebih wangi, dan lainnya? Apakah praktik yang demikian, pantas disebut sebagai mengakali agama untuk kepuasan fantasi ranjang semata?”

Seluruh kelas tertawa. kemudian dilanjutkan dengan tepuk tangan. Humaira semakin berapi-api. Aku tersenyum.

“Intinya kamu menolak dipoligami?” aku bertanya lagi.

“Iya, saya tidak bersedia menjadi istri pertama, istri kedua, ketiga ataupun keempat. Saya hanya mau menjadi istri satu-satunya dari lelaki yang bertanggung jawab dan tidak berzina di luar rumah,” jawabnya.

“Bila kelak pasanganmu tidak setia, dia jajan di luar?”

Nauzubillah minzalik. Semoga saya dijauhkan dari lelaki yang tabiatnya buruk dan tidak memiliki harga diri. Saya selalu berdoa dijauhkan dari para setan yang berujud manusia. Saya selalu berdoa tidak berkesempatan berumah tangga dengan lelaki laknat yang demikian,” katanya. Wajahnya bersemu merah. Ia marah.

“Andaikan itu terjadi?” saya semakin menantang.

“Semoga Allah menjauhkan saya dari lelaki yang penuh kekejian,” jawabnya. Bel berbunyi, jam belajar usai.

“kamu cerdas,” kata saya kala kami sama-sama hendak keluar ruangan. Ia tersenyum dan kemudian menunduk.

***

Akhirnya, setelah kupertimbangkan matang-matang, aku memilih memberitahu isi hatiku padanya. Serta kujelaskan segenap persoalan yang kuhadapi. Ia meminta waktu seminggu.

Aku akhirnya menikahi Humaira, yang merupakan putri seorang kyai kampung jebolan Pondok Tebu Ireng. Ada air mata haru yang menetes di pipiku. Menikahi seorang gadis yang bukan saja menerimaku, tapi juga bersedia memahamiku.

Kepadanya bahkan kuceritakan tentang pernikahanku yang pertama. “Bagiku, tak peduli kamu dengan masa lalumu yang buram itu. Bagiku, hubungan yang kita bangun ini haruslah berlandaskan atas releaan kita berdua,” katanya, seminggu sebelum kami menikah.

Aku menangguk.

Ia tidak menuntut ketika aku beritahu bahwa pernikahan ini belum kuberitahukan kepada bapak. Kala kami menikah, hanya adikku dan suaminya yang datang. Mereka pun menutupnya dari bapak, sesuai permintaanku.

“Setelah sebulan semenjak pernikahan, aku yang akan menemui bapak, bersama kamu,” kataku. Humaira mengangguk.

Khalifa tidak pernah kuceraikan secara negara. Pun dia tidak meminta cerai. Sighat nikah di buku nikah yang kutandatangani kala mengucap ijab Kabul di depan penghulu, sudahlah cukup menjadi alasan baginya untuk melepaskan ikatan dariku. Apalagi walaupun kami diikat pernikahan, bukankah selama ini hatinya juga hanya diberikan untuk orang lain?

***

Sebukan setelah pernikahan, kupenuhi janjiku kepada Humaira. Aku menelpon bapak dan memberitahukan tentang pernikahan itu. Aku dan istriku kemudian diminta pulang ke Teupin Manee. Ia ingin bertemu dengan menantunya yang baru.

Kala Humaira tiba di depan pintu. Kulihat bapak menangis. Tapi bukan bapak namanya bila tidak bisa berkilah. “Bapak haru melihat kalian datang. Apalagi yang datang adalah seseorang yang sangat istimewa.”

Kami pun berpelukan melepas rindu. Bapak membelai kepala Humaira yang berjilbab. Istriku tersipu dan kemudian mencium bapak.

Hari itu bapak telah mempersiapkan sambutan yang luar biasa. Para sanak famili dan tetangga dekat sudah berkumpul di rumah. Setelah mandi, kami pun ikut berkumpul bersama mereka. Bercengkerama sembari menikmati kuliner khas Bireuen yaitu sie iteik.

“Ini adikmu yang masak,” kata bapak.

“Emang dia bisa?” kata saya menggoda.

“Kan dia dididik langsung oleh almarhumah miwamu dalam soal masak daging bebek,” kata ayah. Aku tertawa. Adikku memonyongkan mulutnya. Kemudian ikut tertawa juga.

***

“Jaga istrimu, perlakukan dia dengan sebaik-baiknya. Bila ia salah, tegur ia dengan lembut, Bila masih bebal juga tegur lagi. Jangan pernah bosan menjadi imam yang baik,” kata bapak, kala kami duduk bertiga di teras. Aku mengangguk.

“Kapan cucu bapak kau berikan?” katanya. Sifat usilnya muncul lagi.

“Sesegera mungkin, Pak. Semoga Allah memberikan kepercayaan kepada kami,” jawab istriku sembari tersipu malu.

“Tidak boleh sesegera mungkin. Harus sampai sembilan bulan,” katanya sembari menatap nakal ke arahku.

“Mulai lagi deh. Usil lagi,” kataku sembari mencubit kecil tangannya.

Bapak terkekeh. (Bersambung)

Baca juga: Cerbung: Janji (Bagian 1)
Cerbung: Janji (Bagian 2)

KOMENTAR FACEBOOK