Era Milenial dan Politik

Alfiyan Muhiddin

Oleh Alfiyan Muhiddin*

Sudah bukan hal baru lagi ketika kita mendengar yang namanya kata “milenial”. Hampir di semua media baik cetak, televisi, sosial media, dan sebagainya, kata milenial sudah menjadi tema yang diperbincangkan setiap harinya oleh berbagai kalangan.

Hal ini tentunya tidak lepas dari jumlah generasi milenial dalam rentang umur (17-35 tahun) terus tumbuh dan berkembang dalam populasi yang sangat signifikan.

Berdasarkan data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) saja, menyatakan bahwa jumlah pemilih di usia milenial mencapai angka 70-80 juta dari total keseluruhan pemilih di Indonesia sebanyak 190-an juta. Data ini menunjukkan pemilih generasi milenial menguasai hampir 30-40 persen suara dari total keseluruhan suara yang akan diperebutkan pada kontestasi pemilu tahun 2019 ini. Wajar tentunya dengan data tersebut milenial memiliki pengaruh yang sangat besar bagi keberlangsungan masa depan bangsa kita ke depan.

Di sisi yang lain, Indonesia utamanya merupakan salah satu negara dengan tingkat apatisme politik yang cukup tinggi, terlebih di kalangan generasi milenial. Berdasarkan data yang dirilis oleh CSIS dan Litbang Kompas pada November 2018, menyebutkan bahwa hanya 2,3 % saja dari generasi milenial di Indonesia yang tertarik pada isu sosial-politik. Dengan kata lain berarti hanya sekitar 1,5-2 juta pemilih milenial di Indonesia yang tertarik dengan isu tersebut.

Akan tetapi, di tengah meningkatknya angka apatisme politik di kalangan pemuda milenial, dunia secara umum justru sedang mengalami naik daunnya para politisi muda atau politik milenial dari berbagai ragam pandangan politik yang digeluti. Emmanuel Marcon misalnya, salah satu representasi anak muda di dunia yang berhasil menjadi presiden termuda Prancis dalam usia 39 tahun. Sebastian Kurz yang menjadi kanselir (kepala pemerintahan) di Austria dalam usia 31 tahun sejak tahun 2017, bahkan yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan di kalangan milenial yaitu Syed Saddiq Syed Abdul Rahman yang menjabat sebagai menteri pemuda Malaysia dalam usia 26 tahun. Hal tersebut tentunya menjadi bukti bahwa generasi milenial memiliki kedudukan yang sangat kuat dalam melakukan perubahan di era yang akan datang.

Melihat beberapa contoh kontribusi pemuda di atas, posisi generasi milenial pantas diperhitungkan baik dari level daerah, nasional, bahkan internasional untuk kemajuan demokrasi secara global. Dan tren politik milenial di dunia tersebut pantas menjadi bahan evaluasi di Indonesia yang masih apatis terhadap isu-isu sosial-politik.

Salah satu hal mendasar yang mnyebabkan apatisme politik di kalangan milenial Indonesia adalah dikarenakan stigma pemikiran yang menganggap bahwa “politik itu kotor”, sehingga dengan sendirinya para milenial lebih memilih berada di luar zona tersebut.

Di era globalisasi saat ini, sebagian dari para milenial melakukan aktivitas politik lebih aktif jika dibandingkan dari kebanyakan generasi yang lebih tua. Para pemuda juga menginginkan agar pandangan atau pendapat mereka lebih bisa didengar dan diberikan apresiasi. Dan bentuk partisipasi politik masa milenial ini jauh lebih inovatif dari masa lalu. Jika pada masa lalu anak muda harus turun ke jalan untuk berdemonstrasi dan lain sebagainya, maka saat ini generasi milenial hanya membutuhkan internet dan sosial media untuk berpartisipasi secara politik. Sehingga tindakan politik pemuda milenial saat ini lebih cenderung individual dan bersifat spontan, dan berdasarkan isu tertentu.

Oleh karena itulah, tentunya kita sebagai generasi milenial Indonesia, perlu memiliki wawasan, ide, serta cara pandang yang cukup baik untuk tidak lagi memiliki sifat yang apatis terhadap perpolitikan. Apalagi Indonesia butuh generasi milenial yang kontributif, advokatif, dan aspiratif untuk mengisi ruang-ruang kebijakan publik yang jauh mengedepankan kepentingan bangsa dan negara dibandingkan dengan kepentingan pribadi. Dan di tahun 2019 ini, akan menjadi salah satu bukti nyata sejauh mana kontribusi generasi milenial Indonesia.[]

*Peneliti Aceh Institute

KOMENTAR FACEBOOK