Lintas Komunitas Diskusikan Pemilu Damai dan Inklusi

@aceHTrend/Yelli Sustarina

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Sejumlah lembaga dalam kepanitiaan bersama yang terdiri atas himpunan, komunitas, lembaga swadaya masyarakat (LSM) melaksanakan diskusi pemilu damai di Keude Kupi Aceh (KKA), Minggu (24/3/2019).

Diskusi itu sebagai ruang berdiskusi bagi masyarakat untuk membicarakan hal-hal terkait pemilu, agar pelaksanaan pemilu berjalan damai sesuai prinsip langsung, umum, bebas, dan rahasia dan aksesibilitas untuk semua kelompok.

“Selama ini kita melihat di media massa, pemilu 2019 tercemar dengan konten kampanye para kandidat yang didominasi hoaks, penyebar kebencian, meremehkan, dan cenderung penghinaan yang berbasis SARA sebagai bagian dari politik identitas yang berpotensi besar untuk memecah belah keutuhan berbangsa,” ujar Norma Manalu, salah satu panitia kepada aceHTrend.

Harusnya kata dia, kampanye dipakai untuk memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. Namun realitanya tidak sejalan dengan yang diharapkan. Karena itu, menurutnya generasi muda perlu bersuara menolak pola-pola pembodohan masyarakat seperti itu.

Dalam diskusi yang bertema “Mengkampanyekan Pemilu Damai dan Inklusi Melalui Media Kreatif ” itu menghadirkan beberapa narasumber, yaitu CEO aceHTrend Risman A Rachman; Ketua Badko Kohati HMI Kota Banda Aceh Wardah Jannah; perwakilan komunitas disabilitas Puan Adisa Rejeki Mutuhadi; dan anggota Peace Generation Prety Oktavia.

Risman selaku praktisi media mengatakan, untuk menciptakan pemilu damai hendaknya dimulai dengan mengubah perspektif. Jangan sampai perspektif negatif yang belum benar faktanya disebarkan melalui media sosial.

“Oleh karena itu, generasi muda tidak perlu mengikuti perspektif yang dibuat orang-orang tentang ujaran kebencian yang disebarkan melalui media sosial. Cukup membuat perspektif baru yang lebih positif dengan media kreatif yang ada saat ini,” ujarnya.

Dua pemateri lainnya, yakni Wardah Jannah dan Prety Oktavia mewakili kaum muda turut menjabarkan pendapat mereka.

“Sebagai generasi muda hendaknya kita harus mencari sumber informasi yang disebarkan di media sosial. Jangan malas untuk mencari kebenaran dari berita tersebut,” ujar Wardah.

Terkadang kata Wardah, banyak anak muda yang merasa ketika menyebarkan informasi, seolah merekalah yang update terkait isu yang berkembang. Padahal informasi terebut mengandung hoaks yang memicu menimbulkan ujaran kebencian.

“Menanggapi hal ini sudah saatnya anak muda nimbrung mengampanyekan di media sosial berupa konten positif. Tidak perlu terpengaruh dengan isu-isu negatif terkait pemilu. Cukup ciptakan ruang baru untuk pemilu damai,” ujar Wardah.

Sementara Pretty Oktavia mengatakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bila menerima suatu informasi.

“Pertama bila informasi itu dianggap tidak baik maka jangan disebarkan. Kedua bila informasi itu baik tapi masih diragukan kebenarannya maka jangan juga disebarkan. Ketiga bila informasi itu tidak ada manfaatnya sama sekali, maka jangan juga disebarkan. Jadi, informasi yang bisa kita sebarkan ialah baik, benar, dan bermanfaat,” kata Pretty Oktavia.

Pemilu yang berlangsung pada bulan April mendatang, bukan hanya diharapkan berjalan damai, tapi juga inklusi yaitu semua pihak terlibat dalam memberikan hak pilihnya. Termasuk kaum disabilitas.

Menurut Rejeki Mutuhadi, pemilu belum damai bila akses untuk kaum disabilitas belum terpenuhi. Oleh karena itu, perlu didata berapa jumlah disabilitas yang ada di tiap gampong agar fasilitas yang disediakan bisa diakses oleh kaum disabilitas.

“Kevalidan data harus sesuai sehingga tidak ada disabilitas yang terlewatkan untuk memilih. Begitu juga untuk akses ke TPS haruslah disesuaikan dengan disabilitas apa yang dominan di gampong tersebut. Misalnya untuk penggunaan kursi roda akan sangat kesulitan bila TPS-nya dibuat di sekolah yang kebanyakan sekolah sekarang menggunakan tangga untuk mengaksesnya. Itu perlu dipikirkan oleh penyelenggara pemilu, supaya pemilu ini bisa berjalan damai dan inklusi,” ujarnya.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK