M Yasir Seniman Muda Aceh; Melukis Menggunakan Medium Kopi

ACEHTREND.COM, SINGKIL—Belum banyak orang yang tahu, kalau Aceh Singkil banyak melahirkan seniman yang berbakat dan bertalenta. Sebut saja salah satu di antaranya M Yasir, sosok seniman muda yang sekarang ini menekuni seni rupa.

Seni rupa yang ditekuni M Yasir, bukan saja telah membuatnya bisa melalang buana ke berbagai penjuru tanah air.

Tetapi juga dengan kepiawaian M Yasir meracik gambar di helaian kampas, membuat  hasil karyanya tersebar di berbagai tempat.

Malah, dalam tiga tahun belakangan ini lukisannya merambah ke pameran-pameran seni lukis bertarap nasional.

Inilah yang membuat nama M Yasir semakin mencuat, bersinar, dikenang dan terus dikenang. Nama daerah asalnya pun, Aceh Singkil, ikut terseret semakin terkenal.

Bersama Kemendikbud, ia pernah memamerkan lukisannya di Ibukota Sulawesi Utara, Kota Manado.

Pernah  pula tampil, di Pameran Seni Rupa di Taman Budaya Banda Aceh, Pameran Biennale Sumatera di Taman Budaya Jambi,  Pameran Move Art di Galeri Mas Artroom Yagyakarta.

Ada juga di Pameran Nusantara “Rest Area Perupa Membaca Indonesia” di Galeri Nasional dan seabrek pameran lainnya di berbagai kota Indonesia.

Bakat dan kecintaan M Yasir pada pekerjaan melukis, sebetulnya telah terlihat sejak kecil. Saat ia duduk di bangku sekolah dasar.

Pemuda kelahiran Rimo, Aceh Singkil 18 September 1992 itu,  mengaku pernah menang dalam lomba lukis tingkat SD se- Kabupaten Aceh Singkil tahun 2005.

Lalu,  ia  diboyong mewakili Aceh Singkil, dalam lomba yang sama, ke tingkat Provinsi Aceh.

Kegemaran melukis yang dimilikinya terus terasah dan berlanjut hingga jenjang SMA. Tatkala duduk di bangku terakhir SMA, hobinya terhadap dunia menggambar seakan tidak terbendung.

“Masa-masa duduk di bangku SD, SMP, dan SMA, nyaris saban hari saya manfaatkan waktu untuk menggambar. Menggambar apa saja,” kenang M Yasir.

Untuk menyalurkan “birahi” dan hasrat kecintaan yang menggebu pada dunia seni visual tersebut, membawanya  harus  kuliah di Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatera Barat.

Saat kuliah di UNP itulah,  passion-nya sebagai seorang seniman lukis terus berkembang. Ia merasa “tercemeti”, resah, dan gelisa jika melihat lukisan-lukisan seniornya dipajang diberbagai galeri tanah air.

“Mengapa mereka bisa saya tidak. Saya harus bisa seperti mereka. Jika tidak bisa yang paling indah, saya ingin paling  beda,” begitulah kebulatan tekad M Yasir menyemangati dirinya ketika menuangkan lukisan-lukisannya di atas kampas.

Kebulatan tekad M Yasir menjadi pelukis, bukanlah tanpa hambatan. Seabrek aral telah dilaluinya. Termasuk minimnya fasilitas melukis yang dimiliki. Apalagi peralatan melukis ini lumayan mahal.

Tetapi M Yasir masih beruntung. Kedua orangtua sangat mendukung aktivitasnya dalam dunia coret-moret ini.

“Alhamdulillah, orangtua saya mendukung seluruh kegiatan yang saya tekuni,” tutur M Yasir.

Memang diakuinya, beberapa orangtua melihat bahwa menjadi pelukis di Indonesia apalagi di Aceh Singkil, tidak terlalu menjanjikan karier dan masa depan. Prosfeknya kurang menggairahkan.

Biasanya yang terbayang pada orangtua, bahwa pelukis itu paling bisa hanya membuat spanduk dan reklame-reklame. Penampilannya pun, selalu diindentikan sosok yang kumuh dan acak-acakan.

“Jadi, orangtua banyak yang takut anaknya bercita-cita menjadi pelukis. Anggapan demikian ingin kubantah,” kata pemuda berbadan kecil dan berpenampilan necis ini.

Melukis itu, punya prosfek yang cerah. Paling tidak bisa berselancar dalam dunia imajiner. Bukankah, “Imajinasi itu lebih luas dari alam semesta.”

Nah, ketika imajinasi bisa digapai, lalu diterjemahkan dan diaplikasikan dalam alam nyata, di situlah letak prosfeknya.

Daerah Bali dibangun, lalu menjadi hebat dan kota tersehor sekarang di dunia, adalah hasil konstruksi para seniman.

Termasuk juga Kota Paris, Spanyol, China, dan kota-kota hebat lainnya. Kota itu dibangun oleh seniman-seniman yang mumpuni.

“Bukan tidak mungkin Aceh Singkil, daerah yang berjuluk nagari Syekh Abdurrauf ini akan dibangun oleh seniman-seniman hebat nan bertalenta,” papar M Yasir optimis.

M Yasir menuturkan, saat ini perjalanan karir melukisnya sedang mengarah pada sesuatu hal baru, yaitu melukis dengan menggunakan medium kopi.

Beberapa lukisannya terakhir ini, kata Yasir, termasuk lukisan wajah Ulama kesohor Syekh Abdurrauf al-Singkili, lukisan Ustaz Abdul Somad, Wakil Bupati Aceh Singkil H Sazali, dan banyak lagi yang lain. Kesemua, dilukisnya dengan menggunakan medium kopi.

Bagi M Yasir melukis menggunakan medium kopi, memiliki daya ungkit tersendiri. “Apalagi saya berada di Aceh. Kopi identik dengan Aceh. Begitu lihat kopi, saya teringat dengan Aceh. Aceh  pernah diberi julukan  kota sejuta warung kopi,” tutur M Yasir memberi alasan mengapa ia tertarik melukis dengan kopi.

Ia berkisah, pada masa penjajahan Belanda dulu, seorang pahlawan nasional asal Aceh, Teuku Umar, pernah membakar semangat pejuang dengan kalimat, “Mati atau besok kita minum kopi.” Sontak perlawanan rakyat Aceh, ketika itu, tak bisa dikalahkan.

“Dari filosopi inilah asal muasal saya membuat lukisan dengan menggunakan medium kopi sekaligus memperkenalkan Aceh terutama Aceh Singkil lewat kopi. Lihat kopi ingat Aceh,” ujar M Yasir.

Ketika ditanya lebih jauh soal aliran lukisannya, dia mengaku hanya melukiskan sesuai dengan isi pikirannya saja.

“Saya sendiri belum bisa mengidentifikasikan aliran apa yang saya anut dalam melukis. Saya cuman menggambar yang dipikiran saya saja. Yang saya suka,” terangnya.

Tetapi jika melihat dan ditelisik secara cermat karya-karya M Yasir, kebanyakan bergaya surealis. Banyak objek yang digambarnya menyerupai bentuk hewan mutan. Seperti kelici bersayap burung, bebek bertubuh kura-kura dan banyak lagi lukisan lainnya yang menggunakan simbol-simbol “kontroversial”.

Tidak itu saja, M Yasir dalam lukisannya acap menggambarkan objek yang sering dijumpai dalam mimpi atau imajinasi alam bawah sadar.

 Lalu, dengan daya endus dan kepiawaian yang jitu, objek imajinasi tadi digabungkannya dengan objek nyata yang berbeda wujud sehingga terkesan aneh dan unik.

Bukankah bentuk lukisan seperti itu merepresentasikan diri manusia yang pola pikir dan cara hidupnya dibangun dari dan oleh berbagai perspektif. Ini kan surealis?

Ketika objek lukisan seperti ditodongkan padanya, ia pun mengakui, “Benar. Saya penganut aliran surealis. Surealis kontemporer,” tandasnya.

Selain melukis, M Yasir sekarang menjadi pendidik di sebuah sekolah di Aceh Singkil. Dengan menjadi pendidik, pria yang bercita-cita melanjutkan S 2 dan S 3 di bidang seni ini, bisa menularkan ilmu dan kiat-kiat melukis pada generasi muda.

“Dengan seni, nama daerah akan mencuat, bersinar, harum, terkenal, dan dikenang. Karena itu, saya ingin berkarya selagi muda,” pungkas M Yasir mengakhiri perbincangannya.[]

 

 

KOMENTAR FACEBOOK